Jakarta, Kabariku – Pernyataan Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, yang menyerukan upaya “penggulingan” Presiden Prabowo Subianto menuai polemik dan sorotan publik.
Seruan tersebut disampaikan dalam forum Halal Bihalal bertajuk “Sebelum Pengamat Ditertibkan” di Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Selasa (31/3/2026) lalu.
Dalam forum itu, Saiful Mujani mengajak konsolidasi kekuatan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo.
Ia menilai Prabowo tidak menunjukkan sikap kepemimpinan yang presidential meski telah menjabat lebih dari satu tahun, serta dianggap kurang terbuka terhadap kritik dan masukan publik.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons penolakan dari berbagai pihak, salah satunya dari kelompok aktivis SIAGA 98.
Koordinator SIAGA 98, Hasanuddin, menegaskan bahwa ajakan tersebut tidak memiliki dasar kuat, baik secara politik maupun konstitusional.
“Dalam sistem demokrasi yang berlandaskan hukum seperti Indonesia, pergantian kepemimpinan harus dilakukan melalui mekanisme yang sah, bukan melalui seruan yang berpotensi menimbulkan instabilitas,” ujar Hasanuddin dalam pernyataannya, Rabu (8/4/2026).
Hasanuddin menilai ajakan tersebut tidak dapat dibenarkan sebagai bagian dari kebebasan demokrasi.
“Meski kebebasan berpendapat dijamin konstitusi, seruan yang mengarah pada delegitimasi pemerintahan yang sah justru merupakan penyimpangan dari prinsip demokrasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, SIAGA 98 berpandangan bahwa pernyataan Saiful Mujani bukan merupakan kritik yang sehat.
Kritik dalam demokrasi, kata Hasanuddin, seharusnya bersifat konstruktif, berbasis data, dan bertujuan memperbaiki kebijakan.
“Kritik yang sehat memperkuat demokrasi, sedangkan narasi provokatif justru melemahkannya,” ucapnya.
Dalam konteks global, Hasanuddin juga menyoroti situasi dunia yang tengah diliputi ketidakpastian, termasuk krisis di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada stabilitas ekonomi global.
SIAGA 98 menilai, Indonesia saat ini membutuhkan persatuan nasional, bukan konflik politik yang kontraproduktif.
“Energi bangsa seharusnya difokuskan pada penguatan ketahanan nasional, stabilitas ekonomi, serta solidaritas sosial,” katanya.
SIAGA 98 juga menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki kapasitas dalam menghadapi dinamika global, selama seluruh elemen bangsa menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam narasi yang memecah belah.
Sementara itu, pihak Istana merespons santai polemik tersebut. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengaku belum mengikuti secara detail pernyataan Saiful Mujani.
“Saya masih banyak sekali kerjaan, saya belum lihat beliau bicara apa,” ujar Teddy kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Teddy menambahkan, Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah fokus pada agenda-agenda strategis pemerintahan dan tidak terpengaruh oleh polemik tersebut.
“Bapak Presiden ngurusin hal besar, lagi fokus dengan hal-hal yang lebih strategis,” kata dia.
Polemik ini menambah dinamika diskursus politik nasional, terutama terkait batas antara kritik dalam demokrasi dan narasi yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post