Jakarta, Kabariku – Momen berbuka puasa kerap jadi saat paling ditunggu setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun, pilihan makanan saat azan Magrib justru berperan besar terhadap kondisi tubuh hingga malam hari. Bukan cuma soal kenyang, tapi juga soal bagaimana sistem pencernaan kembali bekerja setelah “beristirahat” berjam-jam.
Berdasarkan laporan kesehatan yang dikutip dari Welltech, tubuh secara alami menurunkan produksi enzim pencernaan selama puasa. Kondisi ini membuat saluran cerna berada dalam fase adaptasi. Jika makanan berat langsung dikonsumsi, perut bisa bereaksi dengan keluhan seperti begah, mual, hingga refluks asam lambung.
Karena itu, ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak langsung dikonsumsi saat berbuka puasa.
Makanan yang Perlu Dibatasi Saat Buka Puasa
Makanan Ultra-Proses dan Serba Instan
Welltech mencatat, makanan ultra-proses seperti nugget, sosis, keripik, dan mi instan umumnya tinggi kalori, gula, serta lemak, namun rendah nutrisi penting. Konsumsi makanan jenis ini saat berbuka membuat sistem pencernaan bekerja ekstra keras di saat tubuh belum sepenuhnya siap.
Gorengan dan Makanan Tinggi Lemak
Mengutip Advanced Food Intolerance Labs, makanan yang digoreng dan mengandung lemak tinggi berpotensi memicu peradangan serta memperlambat proses cerna. Dampaknya, perut terasa penuh, mual, bahkan kram setelah berbuka.
Minuman Manis dan Bersoda
Menurut penjelasan yang dirangkum dari Welltech, minuman tinggi gula dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara cepat. Setelah itu, gula darah bisa turun drastis dan menyebabkan tubuh lemas, mudah lapar, serta meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan manis lainnya.
Kopi dan Minuman Berkafein
Advanced Food Intolerance Labs juga menyebutkan, kafein yang dikonsumsi saat perut kosong dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu iritasi saluran cerna. Efek ini makin kuat jika kopi dikombinasikan dengan gula, krimer, atau sirup.
Sayuran Mentah Berserat Tinggi
Masih merujuk Advanced Food Intolerance Labs, sayuran cruciferous mentah seperti brokoli, kubis, dan kembang kol cenderung sulit dicerna ketika dikonsumsi saat berbuka. Kandungan serat yang tinggi bisa menyebabkan perut kembung dan gas berlebih.
Daging Merah dalam Porsi Besar
Welltech menjelaskan bahwa daging merah memiliki struktur serat yang padat dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Jika langsung dikonsumsi dalam jumlah besar saat berbuka, tubuh akan mengalihkan banyak energi ke sistem pencernaan sehingga memicu rasa begah dan mengantuk.
Kenapa Menu Berbuka Perlu Dipilih dengan Cermat?
Dilansir dari Everyday Health, puasa membantu menurunkan kadar gula darah dan insulin, sekaligus memberi waktu tubuh untuk menggunakan cadangan lemak sebagai energi. Namun, manfaat ini bisa terganggu jika berbuka dilakukan secara berlebihan atau dengan makanan yang terlalu berat.
Ahli kesehatan menyarankan proses gradual reintroduction, yakni mengembalikan asupan makanan secara bertahap agar sistem cerna tidak “kaget”.
Beberapa langkah sederhana yang disarankan:
- Memulai berbuka dengan air putih atau air kelapa
- Mengonsumsi protein ringan seperti telur, ikan, atau sup kaldu
- Menambahkan lemak sehat dalam porsi kecil, seperti alpukat atau ikan berlemak
Kesimpulannya, berbuka puasa sebaiknya tidak dijadikan ajang balas dendam setelah seharian menahan lapar. Tubuh memerlukan transisi yang lembut agar tetap nyaman dan bertenaga hingga malam.
Dengan memilih menu yang tepat sejak awal, puasa tetap lancar, perut aman, dan aktivitas malam hari bisa dijalani tanpa gangguan.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post