• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, April 6, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini Artikel

Garut Tempo Doeloe: Menyibak Jejak Priangan di Masa Kolonial dalam Bingkai Sejarah Swiss van Java

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
18 Februari 2026
di Artikel
A A
0
dok Dispusipda

dok Dispusipda

ShareSendShare ShareShare

Garut, Kabariku – Pameran foto bertajuk “Garut Tempo Doeloe: Jejak Priangan di Masa Kolonial” digelar di seputaran Pendopo Garut, Rabu (18/2/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut.

Kegiatan ini mengajak masyarakat menelusuri kembali wajah Garut pada dekade 1910-1920-an melalui arsip visual peninggalan masa Hindia Belanda.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Mengusung konsep perjalanan lintas waktu, pameran ini menampilkan dokumentasi foto yang merekam lanskap alam, perkembangan tata kota, hingga dinamika sosial masyarakat Garut pada awal abad ke-20.

RelatedPosts

Taman Yu Yuan (Yu Yuan Garden) dan Polisi Shanghai

Meninggalnya Seorang Lelaki Sholeh

Yayasan Kemala Bhayangkari Bangun SDM Unggul Lewat Sekolah Unggulan dan Program Gizi Nasional

Pada masa itu, kawasan Priangan, termasuk Garut, dikenal luas dengan julukan “Swiss van Java” karena keindahan alam pegunungan dan udaranya yang sejuk.

Cipanas dan Pesona Alam Garut Tempo Dulu

Salah satu sorotan utama dalam pameran adalah kawasan Cipanas yang sejak awal 1900-an telah berkembang menjadi destinasi wisata unggulan.

Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur serta panorama pegunungan yang mengelilingi kota menjadi daya tarik utama yang dipromosikan pemerintah kolonial kepada wisatawan Eropa.

Foto-foto hitam putih yang dipamerkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan, serta suasana pedesaan yang masih alami.

Dokumentasi tersebut menggambarkan Garut sebagai wilayah yang tenang, namun mulai mengalami transformasi menuju modernitas di bawah administrasi kolonial.

Hotel Mewah dan Ruang Sosial Kaum Elite

Pameran ini juga menampilkan potret kejayaan sektor pariwisata kolonial melalui kemegahan hotel-hotel legendaris.

Salah satunya adalah Hotel Papandayan yang pada masanya dikenal sebagai hotel termewah di wilayah Priangan. Bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis itu menjadi simbol eksklusivitas dan kemewahan.

Baca Juga  Gebyar Prestasi Siswa dan Guru TK Tingkat Jawa Barat: Pererat Solidaritas Dunia Pendidikan

Tak jauh dari pusat kota, berdiri pula Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi Ngamplang. Hotel ini menawarkan panorama lapangan golf dan pegunungan, sekaligus menjadi ruang sosial tempat pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan Eropa berinteraksi.

Melalui arsip visual tersebut, terlihat bahwa hotel bukan sekadar tempat bermalam, melainkan pusat aktivitas sosial dan ekonomi yang mencerminkan stratifikasi masyarakat kolonial.

Tata Kota dan Sistem Kolonial

Selain lanskap wisata, dokumentasi yang dipamerkan memperlihatkan bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang menandai penataan kota secara sistematis. Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor administrasi menunjukkan hadirnya sistem kolonial yang terstruktur di Garut.

Namun di balik kemegahan arsitektur dan keteraturan tata kota itu, tersimpan realitas sosial yang kompleks. Sistem perkebunan, kerja paksa, dan ketimpangan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah pembentukan kota pada masa tersebut.

Membaca Ulang Sejarah Garut

Pameran “Garut Tempo Doeloe” tidak hanya menghadirkan romantisme visual masa lalu, tetapi juga menjadi ruang refleksi sejarah. Foto-foto yang ditampilkan berfungsi sebagai arsip yang membekukan waktu sekaligus saksi perjalanan identitas Garut—hasil interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal.

Pengunjung diajak membayangkan suasana kota di awal abad ke-20: suara delman di jalanan, percakapan berbahasa Belanda di beranda hotel, hingga aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting denyut kehidupan kota.

Melalui peringatan Hari Jadi ke-213 ini, Garut tidak sekadar merayakan usia, tetapi juga merawat ingatan kolektif. Dokumentasi visual era 1910–1920-an menjadi pengingat bahwa Garut hari ini merupakan hasil perjalanan panjang sejarah—sebuah warisan yang terus hidup dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang.***

Baca juga :

Garut: Dari Duri Semak hingga Identitas Kolektif
“Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, Saksikan Live dan Hadiri Puncak Acara HJG ke-213 di Alun-Alun Garut

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Garut Tempo DoeloeJejak Priangan di Masa KolonialPendopo Garutpeninggalan masa Hindia BelandaSejarah Swiss van Java
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

“Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, Saksikan Live dan Hadiri Puncak Acara HJG ke-213 di Alun-Alun Garut

Post Selanjutnya

Jelang Ramadan, Legislator Garut Tinjau Kondisi Janda Tua Duafa di Leuwigoong

RelatedPosts

Taman Yu Yuan (Yu Yuan Garden) dan Polisi Shanghai

23 Maret 2026

Meninggalnya Seorang Lelaki Sholeh

20 Maret 2026

Yayasan Kemala Bhayangkari Bangun SDM Unggul Lewat Sekolah Unggulan dan Program Gizi Nasional

26 Februari 2026

The Network Defense: Mengapa Kekayaan Epstein Melampaui Uang

11 Februari 2026
ilustrasi

Coretax: Digitalisasi Pajak yang Dipaksakan?

28 November 2025

Pengalaman Saya, Lala Zhulaeha, Mengajar di SMA Terbuka Caringin

23 November 2025
Post Selanjutnya

Jelang Ramadan, Legislator Garut Tinjau Kondisi Janda Tua Duafa di Leuwigoong

Wakil Ketua DPRD Kabupaten H Subhan Fahmi

Momentum HJG ke-213, DPRD Garut Tegaskan Pentingnya Sinergi Pembangunan

Discussion about this post

KabarTerbaru

Adu Perspektif Dana Desa di APBD Jabar 2026, Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik Rudy Gunawan

6 April 2026
Plastik mahal/lambe turah

Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Plastik Dalam Negeri Melonjak Tajam

6 April 2026

PDI Perjuangan Garut Usulkan PERDA Pelestarian Pengetahuan Tradisional untuk Perlindungan Kawasan Sumber Mata Air dan Tata Kelola Aliran Air

6 April 2026

Prajurit Indonesia Gugur di Lebanon, Menlu: Indonesia dan Prancis Sepakat Bawa Isu ke DK PBB

5 April 2026

Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi Perdamaian UNIFIL Lebanon

5 April 2026
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait saat kunjungan kerja kawasan Kemukus, Jakarta Pusat (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Pemerintah Gandeng Swasta: 1.000 Unit Rusun Subsidi Siap Dibangun

5 April 2026

Pemerintah Batasi Program MBG Hanya di Hari Sekolah Demi Efektivitas

5 April 2026
Persib Bandung bertandang ke Padang

Persib Target Sapu Bersih Sisa Laga, Duel Kontra Semen Padang Jadi Awal Penentuan

5 April 2026

Seskab Teddy: Kejutan “Anabul” Warnai Diplomasi Presiden Prabowo dengan Presiden Lee

4 April 2026

Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi Perdamaian UNIFIL Lebanon

5 April 2026

Kabar Terpopuler

  • Bu Guru Salsa yang viral, kini bahagia menjadi istri seorang PNS

    Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggeledahan Sesuai Aturan, KPK Sita Uang Ratusan Juta dari Rumah Ono Surono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terkait Suap Proyek Ijon Bekasi, KPK Geledah Rumah Ono Surono di Indramayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bawas MA Imbau Publik Tak Tergiur Oknum yang Janjikan Bantuan Pengurusan Perkara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Audiensi UMKM Garut di DPRD: Desak Keadilan Rantai Pasok SPPG dan Prioritas Produk Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com