KPK Tangkap Kristian Wuisan Penyuap Gubernur Maluku Utara di Halmahera Utara

Jakarta, Kabariku- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tersangka dari pihak swasta terkait kasus dugaan suap proyek infrastruktur yang menjerat Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba.

Pihak swasta tersebut yakni Kristian Wuisan (KW) ditangkap di Desa Gosoma, Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara dan tiba di KPK pada Minggu (24/12/2023).

Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri menyebut tersangka dibawa ke gedung Merah Putih guna kepentingan penyidik dengan melakukan penahanan terhadap KW untuk 20 hari ke depan di rutan KPK.

“Melanjutkan proses penyidikan yang sudah berjalan dan sebagaimana informasi yang diperoleh terkait keberadaan Tersangka KW. Tim Penyidik kemudian melakukan penangkapan terhadap yang bersangkutan pada Sabtu (23/12) bertempat di Desa Gosoma, Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara,” terang Ali Fikri melalui keterangannya. Senin (25/12/2023).

Diketahui dalam kasus ini KPK telah menetapkan menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, salah satunya Gubernur Malut, Abdul Gani Kasuba yang terjaring dalam kegiatan tangkap tangan tersebut.

Dalam proses penangkapan Kristian Wuisan, tim penyidik KPK dikawal penuh dari Kesatuan Brimob Polda Maluku Utara.

“Berikutnya Tersangka dimaksud, diamankan di Mako Brimob Polda Maluku Utara untuk pemeriksaan pendahuluan,” ujar Ali.

“Hari ini (red-Minggu/24/12), Tersangka KW diterbangkan ke Jakarta dan dilakukan pemeriksaan tim,” imbuhnya.

Sebelumnya, KPK resmi menetapkan Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba sebagai tersangka perkara dugaan pengadaan barang dan jasa (PBJ). Penetapan tersangka tersebut merupakan buntut dari kegiatan tangkap tangan dan mengamankan 18 orang.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, KPK menetapkan Abdul Gani beserta enam orang lainnya sebagai tersangka pengadaan barang dan jasa.

Enam orang yang dimaksud adalah Adnan Hasanudin (AH) selaku Kadis Perumahan dan Pemukiman, Daud Ismail (DI) selaku Kadis PUPR, Ridwan Arsan (RA) selaku Kepala BPPBJ, Ramadhan Ibrahim (RI) selaku Ajudan, serta Stevi Thomas dan Kristian Wuisan selaku pihak Swasta.

Abdul Gani dalam kasus ini diduga menentukan besaran setoran setiap proyek. Selain itu dia juga diduga memerintahkan agar progres pekerjaan dimanipulasi seolah telah selesai 50 persen agar anggaran bisa segera dicairkan.

Dari proyek-proyek tersebut, Abdul Gani kemudian menentukan besaran yang menjadi setoran dari para kontraktor. Abdul Gani juga bermufak dan meminta kontraktor yang dimenangkan dan menyatakan kesanggupan memberikan uang ialah Kristian Wuisan.

Selain Kristain, pihak swasta lain bernama Stevi Thomas, yang diduga memberikan uang kepada Abdul Gani melalui ajudannya, Ramadhan Ibrahim, untuk pengurusan perizinan pembangunan jalan.

Abdul Gani diduga menerima uang senilai Rp2,2 Miliar, juga diduga menerima uang dari para ASN untuk mendapatkan rekomendasi dan persetujuan menduduki jabatan di Pemprov Malut.

Untuk kepentingan penyidikan, 7sai ditetapkan tersangka, mereka pun akan dilakukan penahanan selama 20 hari pertama, terhitung mulai tanggal 19 Desember 2023 s/d 7 Januari 2024 di Rutan KPK.***

Red/K.101

Berita Terkait :

Tinggalkan Balasan