Inilah Tiga Besar Karya Milenial Pemenang Inovasi Sektor Energi ESDM Challenge 2020

Gedung Kementerian ESDM. (Foto Has/Kabariku)

KABARIKU – Kementerian Energy Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan 10 finalis program #ESDMChallenge2020 pada Jumat (14/8/2020). Dan dari 10 finalis tersebut ditetapkan tiga besar yang karyanya akan segera diaplikasikan di lapangan agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

ESDMChallenge2020 merupakan program Kementerian ESDM untuk mewadahi generasi milenial khususnya mahasiswa yang memiliki ide, inovasi dan rencana aksi yang aplikatif guna menjawab tantangan sektor energi dan sumber daya mineral di masa mendatang.

Hasilnya cukup luar biasa. Kreativitas sekaligus inovasi mahasiswa Indonesia di bidang energi sangat menakjubkan. Jika kelak diaplikasikan, karya-karya mereka dipastikan akan membawa dampak siginifikan terhadap upaya mencapai kemandirian energi, khususnya tranformasi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Tiga besar pemenang #ESDMChallenge2020 tersebut adalah:

Pertama, E-PYMISO (Eco Friendly Pyrolisis Plastic Waste by Microhydro and Solar Energy);
Kedua, Desain dan Pengembangan Mesin Es Balok Berbasis Teknologi Photovoltaics (PV) Guna Mendukung Program Maluku Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya;
Ketiga, Pengaplikasian EBT guna Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat desa Ko’ol, Bangkalan.

Inovasi E-PYMSO diangkat oleh mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta dengan meniptakan alat pengolah sampah plastik otomatis menjadi bahan bakar minyak dengan metode pyrolysis. Proses pengolahan menggunakan sumber tenaga yang berasal dari microhydro dan panel surya yang ramah lingkungan.

Cara kerjanya, sampah plastik dimasukkan ke dalam reaktor dan ditutup rapat, kemudian dipanaskan oleh sumber listrik yang berasal dari mikrohidro dan panel surya. Sampah plastik tersebut terkondensasi menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) yang harus diolah kembali agar memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan.

Rencananya, alat ini akan diterapkan di Sungai Gajah Wong, Yogyakarta.

Kemudian pemenang kedua, desain mesin es balok berbasis solar PV, diciptakan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Inovasi ini berangkat dari kenyataan di lapangan yakni terjadinya ketidakseimbangan antara hasil tangkapan ikan masyarakat Dusun Syota, Pulau Moa, Maluku Barat Daya dengan es (pendingin).

Cara kerja alat ini dengan mengonversi PV menjadi suplai daya sistem dan memanfaatkan air laut untuk difilter menjadi es balok melalui Brine System ke Block Mechine dan Direct System ke Block Mechine.

Program ini diproyeksikan terintegrasi dengan program Sentra Kelautan dan Perikanan (SKPT) dengan melibatkan BUMDES dan kelompok nelayan.

Terakhir , pemenang ketiga adalah inovasi mahasiswa Universitas Airlangga yang memanfaatkan potensi sumber EBT di Desa Ko’ol, Bangkalan dengan membuat es kristal, pengeringan ikan serta pompa air berbasis PLT Bio-Hybird.

Program ini direncanakan diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.

“Ada empat hal yang harus dimiliki anak muda, yaitu optimis yang melahirkan kreativitas. Kreativitas yang melahirkan inovasi dan inovasi yang melahirkan produktivitas,” kata Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh Abudurrahman membuka acara presentasi TOP 10 #ESDMChallenge2020 secara virtual yang disiarkan live melalui kanal Youtube KementerianESDM, Jumat (14/8).

Saleh mengungkapkan, peluang meningkatkan pertumbuhan ekonomi didapat dari adanya transformasi penggunaan energi fosil menuju ke energi terbarukan dan mulai pesat sejak Protokol Kyoto di tahun 1997. Hal ini berbanding lurus dengan ide dan inovasi yang dihadirkan oleh para finalis ESDM Energy Challenge 2020. “Saya lihat dari 10 finalis yang lolos seleksi ini banyak konsentrasi ke pengembangan EBT. Bagus sekali. Setidaknya kita sudah melihat prospek pertumbuhan ekonomi ini pada EBT dan efisiensi energi, terumasuk penggunaan kendaraan listrik,” ungkap Saleh.

Kendati begitu, Saleh tak menampik potensi sumber energi fosil di Indonesia yang masih cukup besar. Dalam paparannya disebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya batubara sebesar 149 miliar ton dengan nilai cadangan sebesar 37,60 miliar ton. “Begitu pula minyak dan gas bumi, kita masih menyimpan potensi besar dengan memiliki 128 cekungan hidrokarbon. Ini optimisme lain yang harus ada,” kata Saleh.

Adapun untuk potensi EBT sendiri, Indonesia akan mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi, matahari, angin, air, sampah, dan biomassa. “Ini prospek besar apalagi perkembangan teknologi sangat pesat dan harga listriknya makin lama makin ekonomis,” tutur Saleh.

Untuk mencapai ketahanan energi nasional, Pemerintah mengajak para generasi muda mampu menjawab tantangan tersebut dengan menjadikan sumber daya energi sebagai modal pembangunan, meningkatkan produksi dan efisiensi harga migas, mempercepat akses dan infrastruktur energi, mengendalikan impor Bahan Bakar Minyak dan Liquefied Petroleum Gas, serta pengembangan EBT. (Ref)

Leave a Reply