Aktif Memberi Kabar

Mengenal Risa Santoso, Mantan Staf KSP yang Kini Jadi Rektor

0 660

KABARIKU – Risa Santoso, Tenaga Ahli Muda di Kantor Staf Presiden (KSP) periode 2015-2017 kini menjadi Rektor Institut Teknologi dan Bisnis ASIA, Malang, Jawa Timur.

Saat dikukuhkan menjadi rektor pada 2 November 2019 lalu, usianya masih 27 tahun. Risa kelahiran 27 Oktober 1992. Tak pelak dengan usia itu, Risa dikukuhkan sebagai rektor termuda di Indonesia.

Risa memang bukan anak muda sembarangan. Seperti juga sejumlah staf KSP dan Staf Khusus Presiden yang ada sekarang, ia lulusan perguruan tinggi luar negeri rebutan milenial cerdas di dunia. Pendidikan S-1 ia raih di University Of California Amerika Serikat, jurusan Ekonomi, sementara S2-nya diraih dari Harvard Graduation School of Education.

Saat pulang ke Indonesia tahun 2015, Risa langsung direkrut oleh KSP.

“Sebelumnya, Pak Luhut yang saat itu menjabat sebagai Kepala KSP, mengunjungi Harvard, kampus tempat saya kuliah. Dari sanalah staf Pak Luhut kemudian merekrut saya untuk menjadi staf di KSP sebagai Deputi Isu-isu Strategis Ekonomi,” kata Risa kepada wartawan saat pelantikan sebagai Rektor Institut Teknologi dan Bisnis ASIA tahun 2019 lalu.

Lepas dari KSP tahun 2017, Risa bekerja di kampus yang kini dipimpinnya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis. Dua tahun kemudian, pihak yayasan yang menaungi kampus tersebut, mengangkatnya sebagai rektor.

Menurut Risa, terpilihnya dia sebagai rektor lantaran pihak kampus berkeinginan mengembangkan pendidikan ekonomi berbasis digital. Yayasan menilai Risa cocok dengan visi yang ingin dituju tersebut.

Risa lahir dari keluarga akademisi. Ayahnya, Tanadi Santoso, adalah dosen di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya di Program Magister Teknologi ITS, Surabaya.

Tanadi juga diketahui sebagai pebisnis, di antaranya pemilik toko komputer di sejumlah tempat.

Sebagai rektor, Risa memiliki misi mengembangkan inovasi dan program-program baru di kampusnya sehingga bisa menciptakan lulusan yang PASTI (Professional, Active, Smart, Tangguh dan Innovative).

Salah satu terobosan yang dilakukannya adalah ia tidak mewajibkan mahasiswanya lulus dengan membuat skripsi. Ia membolehkan mahasiswa memilih proposal project atau proyek akhir sebagai pengganti syarat kelulusan, terutama bagi mereka yang ingin segera bekerja usai lulus. (Ref)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.