Jakarta, Kabariku – Masa jabatan Didier Deschamps sebagai pelatih kepala Timnas Prancis akan berakhir usai laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 melawan Inggris pada Minggu (19/7/2026) dini hari WIB.
Pelatih yang membawa Les Bleus menjuarai Piala Dunia 2018 itu menutup pengabdiannya setelah 14 tahun memimpin tim nasional Prancis.
Menjelang perpisahan tersebut, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) disebut-sebut tinggal meresmikan Zinedine Zidane sebagai penerus Deschamps.
Namun sebelum meninggalkan kursi pelatih, Deschamps masih memiliki satu target, yakni membawa Prancis finis di posisi ketiga setelah gagal melaju ke final akibat kalah dari Spanyol di semifinal pada Rabu (15/7/2026) dini hari WIB.

Spanyol membuka keunggulan melalui penalti Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan menggandakan skor lewat Pedro Porro pada menit ke-58.
Statistik pertandingan menunjukkan dominasi La Roja. Saat gol kedua tercipta, Spanyol telah melepaskan delapan tembakan berbanding dua milik Prancis serta memenangkan 60 persen duel perebutan bola.
Prancis memang menutup laga dengan 10 percobaan tembakan, tetapi hanya tiga yang mengarah ke gawang dan satu di antaranya berasal dari jarak kurang dari 13 meter.
“Untuk memiliki harapan, kami harus berada dalam performa terbaik. Sayangnya, kami tidak. Spanyol bertahan dengan sangat baik,” kata Deschamps, Sabtu (18/7/2026).
“Mereka memberi kami ruang yang sangat sedikit. Karena kami melakukan banyak kesalahan teknis, menjadi sulit untuk menciptakan masalah bagi mereka. Level teknis kami berada di bawah apa yang kami tunjukkan pada pertandingan sebelumnya,” lanjutnya.
Trio lini depan Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise yang sebelumnya mencatat total 13 gol dan 10 assist dalam enam laga pertama, dibuat tidak berkutik oleh pertahanan Spanyol. Ketiganya hanya menghasilkan lima tembakan dengan nilai expected goals (xG) sebesar 0,15.

Deschamps mengakui timnya kesulitan menemukan solusi menghadapi tekanan Spanyol.
“Dibandingkan dengan mereka, dalam kombinasi dan rangkaian umpan kami, mereka sangat baik dalam membaca permainan dan mencegat umpan. Kami tidak dapat menemukan solusi,” ujarnya.
Meski kecewa, pelatih berusia 57 tahun itu menolak menghapus pencapaian timnya selama turnamen.
“Saya tidak ingin mengutuk semua yang kami lakukan atau menghapus apa yang telah kami capai. Namun dalam pertandingan seperti ini, melawan tim seperti Spanyol, Anda harus berada di level maksimal. Prancis tidak berada di level itu malam ini,” tegasnya.
Selain mengevaluasi performa tim, Deschamps juga mempertanyakan keputusan wasit Ivan Arcides Barton Cisnero terkait penalti yang berujung gol pembuka Spanyol. Penalti diberikan setelah Lucas Digne dianggap melanggar Lamine Yamal di kotak terlarang.
“Jika saya mengatakan sesuatu tentang wasit, saya akan terlihat seperti pecundang yang buruk karena kami kalah. Namun saya bertanya kepada Anda, apakah wasit mampu memimpin pertandingan semifinal?” ujar Deschamps.
Kekalahan dari Spanyol membuat Prancis gagal mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Sebelumnya, hanya Jerman Barat (1982, 1986, 1990) dan Brasil (1994, 1998, 2002) yang mampu menorehkan prestasi tersebut.
Meski demikian, Les Bleus tetap mencatatkan tiga semifinal berturut-turut dan empat perempat final beruntun di Piala Dunia. Kekalahan dari Spanyol juga baru menjadi kekalahan kedua mereka dalam waktu normal dalam 21 pertandingan Piala Dunia terakhir.
Kini, Deschamps berpeluang menutup era kepelatihannya dengan catatan positif apabila mampu membawa Prancis mengalahkan Inggris dan merebut posisi ketiga Piala Dunia 2026.*



















Discussion about this post