• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Kamis, Maret 26, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
26 Maret 2026
di Opini
A A
0
ilustrasi

ilustrasi

ShareSendShare ShareShare

oleh :
In’amul Mustofa M.IP
Pemerhati Kebijakan Publik

Yogyakarta, Kabariku – Sudah jadi rahasia umum bahwa Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) muncul sebagai salah satu gagasan kebijakan publik yang ambisius dalam merespons persoalan klasik Indonesia: stunting, kemiskinan, dan ketimpangan akses gizi. Sebagai negara berkembang, intervensi negara melalui program pangan bukanlah hal baru.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Namun, MBG menjadi menarik untuk dikaji bukan hanya dari sisi kebijakan publik, melainkan juga dari perspektif komunikasi politik.

RelatedPosts

Taman Yu Yuan (Yu Yuan Garden) dan Polisi Shanghai

Meninggalnya Seorang Lelaki Sholeh

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

Alih-alih tampil sebagai solusi berbasis kebutuhan masyarakat (needs-based policy), MBG justru sering dipersepsikan sebagai proyek populis yang sarat dengan kepentingan electoral serta kurang memperhatikan perkembangan global yang sudah di depan mata, yakni krisis ekonomi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah MBG merupakan kebijakan substantif yang dirancang secara matang, atau sekadar produk komunikasi politik yang gagal membangun legitimasi publik?

MBG sebagai Proyek Ambisius: Rasionalitas Kebijakan

Secara normatif, program MBG memiliki landasan kuat. Intervensi negara dalam penyediaan makanan bergizi dapat dikaitkan dengan konsep welfare state, dimana negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dasar warganya. Dalam perspektif kebijakan publik, program semacam ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Menurut Harold D. Lasswell, kebijakan publik pada dasarnya adalah “who gets what, when, and how”. Dalam konteks ini, MBG berupaya memastikan distribusi gizi yang lebih merata, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan masyarakat miskin. Direncanakan untuk memenuhi gizi anak-anak terutama yang rentan akan gizi yang jumlahnya seluruh Indonesia 60juta-80 juta anak. Angka yang sangat fantastis, bahkan untuk satu dapur saja dapat memutar uang 1 milyar rupiah.

Public banyak yang berseloroh, “ini betul-betul ambisius, sebenarnya yang dipenuhi gizinya itu anak-anak Indonesia atau para vendor”. Sehinga memberi kesan tidak effisien alias boros dan amat rawan terjadi kebocoran di sana-sini.

Okelah jika kemudian Pemerintah berkilah bahwa hal ini baru berjalan beberapa bulan, tentu akan ada upaya untuk memperbaiki.

Lho, sejak awal kebijakan makan gratis ini amat sangat melibatkan institusi (konco-konco) presiden. Baik dari partai politik Gerindra, Institusi TNI, Polri dan yayasan/ormas. Dari yang tidak berpengalaman hingga sangat pengalaman soal makanan, perdapuran, masak-memasak dan seterusnya.

Baca Juga  Anggaran dan Tata Kelola MBG Disoal, Ini Penjelasan Ketua Banggar DPR Said Abdullah

Maka ambisi besar ini menuntut perencanaan yang matang: mulai dari anggaran, distribusi logistik, hingga pengawasan kualitas.

Tanpa desain implementasi yang kuat, kebijakan berisiko menjadi overpromised but underdelivered. Temuan yang ada adalah minus desain atau desain perencanaan berganti-ganti dan pengawasan akan pelaksanaan menjadi makin lemah, tidak transparan sehingga kemungkinan penyalahgunaan anggaran terbuka lebar.

MBG dalam Bingkai Komunikasi Politik: Populisme dan Simplifikasi

Permasalahan utama MBG justru terletak pada cara kebijakan ini dikomunikasikan kepada publik. Dalam banyak kasus ini, narasi yang dibangun cenderung simplistik: “negara hadir memberi makan rakyat”. Narasi ini memang efektif secara emosional, tetapi miskin argumentasi teknokratis.

Murray Edelman dalam teorinya tentang symbolic politics menjelaskan bahwa kebijakan sering kali digunakan sebagai simbol untuk membangun citra politik, bukan sebagai solusi substantif.

MBG berpotensi menjadi simbol “kepedulian negara” tanpa kejelasan implementasi, karena simbol maka yang diutmakan adalah bungkusnya, soal keterpenuhan gizi dan menekan angka stunting adalah nomor ke serratus.

Selain itu, dalam perspektif Jürgen Habermas tentang ruang publik (public sphere), komunikasi politik yang sehat seharusnya bersifat deliberatif—melibatkan diskursus rasional antara negara dan warga. Namun, komunikasi MBG cenderung satu arah, tanpa ruang dialog kritis.

Akibatnya, publik tidak melihat MBG sebagai kebijakan rasional, melainkan sebagai alat pengumpalan dana untuk partai politik yang sedang dalam tampuk kekuasaan, berbagai kue bagi para pendukung pemerintah dan propaganda kepedulian pemerintah pada kebutuhan dasar.

Khalayak dapat setuju jika penulis menyebut hal tersebut sebagai kampanye terselubung yang dangkal. Di sinilah terjadi apa yang dapat disebut sebagai kegagalan komunikasi politik.

Disonansi antara Kebijakan dan Persepsi Publik

Kegagalan komunikasi politik menciptakan disonansi antara niat kebijakan dan persepsi publik. Secara substantif, MBG mungkin memiliki manfaat nyata sekalipun tidak substantif.

Namun secara persepsi, kebijakan ini semula diniatkan menjadi program populis akhirnya justru elitis. Memang sedari awal tidak pernah steril dari kontroversi. Ia lahir sebagai janji kampanye, kemudian dipaksakan menjadi kebijakan nasional dalam waktu relatif singkat padahal dana yang digelontorkan ratusan trilliun.

Baca Juga  Presiden Jokowi, Jaminan Surga dan Pembatalan Pemilu 2024

Di sinilah ketegangan utama muncul: antara rasionalitas kebijakan publik dan logika komunikasi politik elektoral. Dari proyek populis menjadi proyek politik yang dikomunikasikan secara simplistik, inkonsisten, dan kontraproduktif, sehingga berujung pada krisis kepercayaan publik.

Simplistik karena program ini dinarasikan secara massif sebagai Amanah UUD 1945 memelihara fakir miskin.

Inilah bukti pemerintah hadir dengan program nyata untuk mengatasi kebutuhan dasar sekaligus memerangi kemiskinan. Kuat secara narasi namun lemah secara teknokratis dan manajemen.

Disebut inkonsisten, hemat penulis karena pergeseran dari janji kampanye (normatif-politis) ke kebijakan teknokratis yang belum matang. Di sisi lain ditemukan skema implementasi berubah-ubah (baca; perencanaan tidak matang) dan terakhir, memaksakan diri untuk terus berjalan namun tidak diimbangi dengan kapasitas fiscal dan logistic yang memadai.

Akhirnya akan Kontraproduktif, menurut Robert K. Merton, setiap tindakan sosial-termasuk kebijakan public-berpotensi menghasilkan konsekuensi tak diinginkan (unintended consequences), terutama ketika perencanaan tidak matang, kompleksitas lapangan diabaikan dan keputusan didorong oleh tekanan politik/janji kampanye, jadi bukan rencana jangka panjang yang integrated dengan program dari Departemen lain.

Apa yang kemudian akan terjadi, tidak singkron, pemborosan dana bisa bocor dimana-mana. Terdapat gap besar antara policy intention (niat kebijakan) dan policy outcome (hasil nyata).

Pelaksanaannya nyaring sebagai strategi komunikasi agar ada penilaian positif dari rakyat bahwa pemerintah peduli pada perbaikan gizi daripada solusi nyata untuk meningkatkan mutu kualitas SDM bermutu tinggi.

Pada titik ini para pelaksana lapangan dengan desain dan skema yang berubah-ubah , akhirnya yang terjadi adalah tampak bekerja bukan benar-benar bekerja.

Niatnya bagus tapi karena perencanaan tidak matang dan pengawasan tidak ketat akhirnya menimbulkan persepsi public negative.

Gegera cara komunikasi dan menarasikan program MBG yang keliru maka terpaan kritik dari berbagai elemen masyarakat terus bergulir hingga kini. Lebih parah lagi kesemuanya yang terkait dengan MBG hanya alat propaganda untuk persiapan pesta demokrasi 2029.

Lebih jauh, kegagalan ini menunjukkan bahwa komunikasi politik bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi membangun kepercayaan (trust-building). Tanpa kepercayaan, bahkan kebijakan terbaik pun akan kehilangan legitimasi.

Baca Juga  Covid 19 dan Perubahan Kebijakan Anggaran di Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

Menurut Noam Chomsky, dalam kritiknya terhadap propaganda politik, narasi terlalu manipulatif justru dapat merusak kepercayaan publik.

Ketika publik merasa “dijanjikan terlalu banyak”, maka yang muncul adalah skeptisisme, bukan dukungan.

Alternatif dan Solusi

Agar MBG tidak terjebak sebagai “komunikasi politik murahan,” beberapa langkah strategis perlu dilakukan:

1. Reframing Narasi Kebijakan :
Pemerintah perlu menggeser narasi dari populisme menuju rasionalitas. Alih-alih menjual janji besar, komunikasi harus berbasis data, tahapan implementasi, dan keterbatasan yang realistis.

2. Pendekatan Deliberatif :
Mengacu pada gagasan Jürgen Habermas, pemerintah harus membuka ruang dialog public-melibatkan akademisi, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan dalam proses perumusan dan evaluasi kebijakan.

3. Transparansi dan Akuntabilitas :
Publik perlu mengetahui secara jelas: Sumber pendanaan, Mekanisme distribusi, Indikator keberhasilan. Transparansi akan mengurangi kecurigaan bahwa program ini sekadar alat politik.

4. Pilot Project sebelum Implementasi Nasional :
Alih-alih langsung skala besar, MBG sebaiknya diuji melalui proyek percontohan (pilot project) di beberapa daerah.

Hal ini penting untuk menguji efektivitas sekaligus membangun legitimasi berbasis bukti (evidence-based policy). Pemerintah tidak perlu malu untuk me-reset MBG agar benar-benar rasional, ingat program ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia, ratusan trilliun dana yang akan digelontorkan.

Pilihan melakukan pilot project adalah hal yang paling rasional, misal di lakukan di 8 provinsi terlebih dahulu. Tentu program ini jika mengandung manfaat yang lebih besar akan diteruskan meskipun ada pergantian rejim.

5. Integrasi dengan Kebijakan Eksisting :
MBG tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus terintegrasi dengan program lain seperti penanganan stunting, bantuan sosial, dan pendidikan gizi.

Kesimpulan

MBG adalah cerminan paradoks kebijakan publik di era modern: ambisi besar yang tidak diimbangi dengan komunikasi politik yang matang. Tanpa perbaikan dalam cara negara berkomunikasi dengan publik, kebijakan ini berisiko kehilangan legitimasi bahkan sebelum sempat dibuktikan keberhasilannya.

Dengan demikian, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi juga oleh kualitas komunikasi politik yang menyertainya.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Kebijakan dan Persepsi Publikkomunikasi publikMakanan Bergizi GratisProgram MBGSPPG
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Rakor Lintas K/L: Seskab Teddy dan Menteri Bahas Stimulus Ekonomi dan Kebijakan Energi

RelatedPosts

Taman Yu Yuan (Yu Yuan Garden) dan Polisi Shanghai

23 Maret 2026

Meninggalnya Seorang Lelaki Sholeh

20 Maret 2026
Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

16 Maret 2026
Suara Ibu Indonesia dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas Kami Bersama Andrie di Boulevard UGM

Kasus Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Operasi False Flag

15 Maret 2026
Panglima TNI Tinjau Kesiapan Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer

Siaga 1 dan Fenomena Politik Perkotaan

12 Maret 2026

JK, Jangan Memancing di Air Keruh!

10 Maret 2026

Discussion about this post

KabarTerbaru

ilustrasi

MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

26 Maret 2026

Rakor Lintas K/L: Seskab Teddy dan Menteri Bahas Stimulus Ekonomi dan Kebijakan Energi

26 Maret 2026

TAUD: Ganti Kepala BAIS Bukan Solusi, Bongkar Rantai Komando Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026
Interaksi antara pengunjung dan satwa di Taman Satwa Cikembulan

Taman Satwa Cikembulan Dipadati Pengunjung, Pertunjukan Satwa Jadi Andalan

26 Maret 2026
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI  Aulia Dwi Nasrullah kepada awak media di Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026) (ANTARA/Walda Marison)

Kasus Penyiraman Aktivis KontraS, Jabatan Kabais TNI Diserahkan

26 Maret 2026

Tindaklanjuti Arahan Presiden, Kepala BGN Perkuat Standar SPPG dan Mutu MBG

25 Maret 2026

Yaqut Kembali ke Rutan KPK, Penyidik Dalami Kasus Kuota Haji 2023-2024

25 Maret 2026

Seskab Teddy Ungkap Presiden Prabowo Telepon Presiden Palestina: Momen Idulfitri Pererat Solidaritas

25 Maret 2026

Presiden Prabowo Terkesan Latar “Criminal Mind” Bossman, Sebut Relevan bagi KPK

25 Maret 2026

Seskab Teddy Ungkap Presiden Prabowo Telepon Presiden Palestina: Momen Idulfitri Pererat Solidaritas

25 Maret 2026

Kabar Terpopuler

  • Petugas mengevakuasi korban meninggal dalam bencana longsor di Bungbulang Garut (Dok. BPBD Garut)

    Longsor di Bungbulang Garut: Satu Meninggal, Akses Jalan Terputus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Taman Yu Yuan (Yu Yuan Garden) dan Polisi Shanghai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjalanan Karier Brigjen TNI Dwi Sasongko, Penerima Adhi Makayasa1998 Butuh 16 Tahun Raih Pangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Lebaran, Musibah Kebakaran di Garut, Yuda Puja Turnawan Serahkan Bantuan untuk Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com