Jakarta, Kabariku – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pembangunan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Intermediate Treatment Facility (ITF) mulai berjalan pada pertengahan 2026 sebagai langkah strategis mengatasi krisis sampah sekaligus mendukung transisi energi di Ibu Kota.
Rencana itu disampaikan Pramono dalam Town Hall Meeting Dialog PR Jakarta bertajuk “Dengar Warga, Kerja Nyata untuk Udara Bersih” di M Bloc Space, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/2/2026).
Ia menyebut Jakarta telah menyiapkan lahan ITF di Sunter, Jakarta Utara, yang akan kembali dilanjutkan pembangunannya. Selain itu, fasilitas serupa direncanakan hadir di Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
“Jakarta sekarang ini, hal yang berkaitan dengan pengolahan sampah, sebentar lagi akan ada beberapa pembangkit listrik tenaga sampah. Mudah-mudahan kita bisa mulai di pertengahan tahun ini,” ujar Pramono.

Kurangi Beban Sampah dan Emisi
Menurut Pramono, proyek PLTSa tidak hanya ditujukan untuk mengurangi timbunan sampah Jakarta, tetapi juga diarahkan untuk menekan emisi.
Energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah diharapkan bisa menggantikan sebagian pasokan listrik berbasis batu bara, terutama untuk kebutuhan industri di sekitar Jakarta.
“Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta,” katanya.
Rencana percepatan pembangunan PLTSa ini tak lepas dari ancaman penuhnya kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dalam beberapa tahun ke depan.
Selama ini, Bantargebang di Bekasi menjadi tumpuan utama pengelolaan sampah Jakarta, dengan akumulasi sampah disebut telah mencapai sekitar 55 juta ton.
Jika tidak ada perubahan signifikan dalam sistem pengolahan, TPST tersebut diproyeksikan tak lagi mampu menampung sampah Ibu Kota.
Karena itu, Pemprov DKI menilai pembangunan PLTSa menjadi langkah utama untuk mengurangi beban timbunan sampah yang terus meningkat.
Butuh Empat PLTSa, Dua Disiapkan Bersama Danantara
Pramono menyebut Jakarta membutuhkan setidaknya empat PLTSa untuk mengatasi persoalan sampah secara menyeluruh. Saat ini, dua di antaranya tengah direncanakan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
“Sesuai pembicaraan dengan Danantara waktu itu, dengan Pak Rosan secara langsung, akan ada dua pembangkit listrik tenaga sampah,” ujarnya.
Pramono berharap kehadiran PLTSa dapat secara bertahap mengurangi timbunan sampah lama di Bantargebang.
“Mudah-mudahan 55 juta ton yang sekarang stok ada di Bantargebang secara signifikan pelan-pelan akan turun. Itu yang akan kami lakukan,” tutup Pramono.***
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com














Discussion about this post