Jakarta, Kabariku.com– Fenomena jouhatsu atau “manusia yang menguap” di Jepang menjadi sorotan sebagai potret persoalan sosial yang berkembang menjadi peluang bisnis. Di tengah tekanan ekonomi, beban utang, konflik keluarga, hingga tuntutan pekerjaan, ribuan orang setiap tahun memilih menghilang dari kehidupan lama mereka untuk memulai hidup baru secara diam-diam.
Istilah jouhatsu berasal dari bahasa Jepang yang berarti “menguap”. Mereka yang memilih jalan ini sengaja memutus hubungan dengan keluarga, teman, hingga tempat kerja tanpa meninggalkan jejak.
Keputusan tersebut umumnya diambil untuk menghindari tekanan hidup yang dianggap tidak lagi mampu dihadapi.
Fenomena ini kemudian melahirkan industri tersendiri. Sejumlah perusahaan di Jepang menawarkan jasa yonige-ya atau “perusahaan pindah di malam hari”.
Mereka membantu klien berpindah tempat tinggal secara rahasia, mengangkut barang, hingga menjaga kerahasiaan identitas pelanggan.
Prof. Yolanda Masnita Siagian, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, menilai fenomena tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan manusia dapat berubah menjadi komoditas ekonomi ketika terdapat permintaan pasar.
Menurutnya, keberadaan jasa tersebut membuktikan bahwa pasar akan selalu hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan yang muncul akibat tekanan sosial dan psikologis.
“Fenomena jouhatsu memberikan pelajaran bahwa pasar tidak hanya menjual barang dan jasa konvensional, tetapi juga menawarkan solusi atas persoalan hidup manusia. Ketika ada kebutuhan, akan muncul pelaku usaha yang menyediakan layanan untuk memenuhinya,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa di balik peluang ekonomi tersebut terdapat persoalan sosial yang tidak boleh diabaikan. Tingginya angka individu yang memilih menghilang menjadi sinyal bahwa tekanan hidup, kesehatan mental, hingga relasi sosial perlu mendapatkan perhatian serius.
Fenomena jouhatsu juga menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial. Di negara maju seperti Jepang sekalipun, tekanan hidup dapat mendorong seseorang mengambil keputusan ekstrem untuk meninggalkan identitas dan kehidupan lamanya.
Melalui fenomena ini, publik diajak melihat bahwa pasar mampu beradaptasi dengan berbagai kebutuhan manusia. Namun pada saat yang sama, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat juga dituntut menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat agar manusia tidak merasa harus “menguap” demi mencari kehidupan yang lebih baik. (Advetorial).



















Discussion about this post