oleh :
Hasanuddin
Koordinator SIAGA 98
Kabariku – Baru kali ini sebuah ucapan selamat ulang tahun dipersoalkan hingga menjadi perdebatan di ruang publik.
Sesuatu yang selama ini dipandang sebagai bentuk kesopanan, penghormatan, dan persahabatan, mendadak dipenuhi beragam tafsir politik.
Ucapan selamat ulang tahun yang disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, melalui akun Instagram pribadinya, menjadi contoh bagaimana ruang publik saat ini kerap lebih menyukai spekulasi daripada memaknai suatu peristiwa secara proporsional.
Padahal, baik Sufmi Dasco Ahmad maupun Nadiem Makarim adalah figur publik yang telah lama saling mengenal.
Dalam konteks hubungan antarmanusia, memberi ucapan selamat ulang tahun merupakan sesuatu yang lumrah. Sebagaimana memberikan ucapan belasungkawa ketika sahabat berduka atau menyampaikan selamat atas sebuah pencapaian, tradisi saling mendoakan merupakan bagian dari nilai-nilai sosial yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Namun, sebagian pihak memilih membaca unggahan tersebut secara berbeda. Mereka berusaha mencari makna tersembunyi, simbol politik, bahkan menghubungkannya dengan berbagai kepentingan yang belum tentu ada.
Akibatnya, sebuah ucapan sederhana berubah menjadi polemik yang mengundang perdebatan.
Fenomena ini sesungguhnya menunjukkan adanya perbedaan cara pandang terhadap manusia. Dari apa yang tampak, Dasco berangkat dari perspektif humanistik, bahwa pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Pandangan ini sejalan dengan konsep tabula rasa yang melihat manusia lahir dengan potensi yang kemudian dibentuk oleh lingkungan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan.
Dalam perspektif tersebut, persahabatan tetaplah persahabatan. Memberikan doa dan ucapan kepada seorang sahabat, baik dalam suasana suka maupun duka, adalah ekspresi kemanusiaan yang tidak selalu harus dimaknai sebagai manuver politik.
Sebaliknya, ada pula yang melihat manusia dari sudut pandang yang lebih pesimistis.
Setiap tindakan dianggap memiliki motif tersembunyi. Cara pandang ini mengingatkan pada ungkapan homo homini lupus—manusia adalah serigala bagi sesamanya—yang memandang relasi antarmanusia lebih didominasi oleh kepentingan daripada ketulusan. Dalam kerangka berpikir seperti ini, ucapan ulang tahun pun dapat dibaca sebagai sinyal politik, pesan terselubung, atau strategi tertentu.
Perbedaan perspektif itulah yang kemudian melahirkan perdebatan. Bukan karena ucapan ulang tahun itu sendiri, melainkan karena setiap orang menggunakan kerangka berpikir yang berbeda dalam menafsirkan tindakan seorang tokoh publik.
Demokrasi memang memberi ruang bagi beragam tafsir. Namun, demokrasi juga membutuhkan nalar yang jernih dan proporsional. Tidak setiap tindakan harus dipolitisasi, dan tidak setiap ekspresi kemanusiaan harus dicurigai sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan.
Ada kalanya sebuah ucapan hanyalah sebuah ucapan, sebuah doa hanyalah sebuah doa, dan sebuah persahabatan tetaplah sebuah persahabatan.
Jika setiap gestur selalu dibebani prasangka, maka yang terkikis bukan hanya akal sehat, melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Di tengah polarisasi yang masih terasa dalam kehidupan berbangsa, menjaga ruang bagi ketulusan justru menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan mempertajam perbedaan.
Sebagaimana yang dilakukan Don dasco sang kancil.
Selamat Ulang Tahun Nadiem
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post