• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Juni 28, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home News

Komdigi: Komunikasi Pemerintah Harus Memahami Cara Publik Mengonsumsi Informasi

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
28 Juni 2026
di News
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku – Pemerintah dinilai perlu mengubah strategi komunikasi publik agar lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini didominasi media sosial. Penyampaian kebijakan tidak lagi cukup berfokus pada aspek rasional, tetapi juga harus mampu membangun kedekatan emosional agar pesan lebih mudah diterima publik.

Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Latief Siregar, sebagaimana dikutip pada Minggu (28/6/2026).

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Menurut Latief, karakter media sosial berbeda dengan media arus utama. Platform digital lebih mengandalkan aspek emosional sehingga konten yang mampu membangkitkan perasaan cenderung lebih cepat menarik perhatian masyarakat.

RelatedPosts

Diduga Sekap dan Rantai Tiga Karyawan Selama 21 Hari, Pemilik Percetakan Dilaporkan ke Polisi

BaraNusa Desak KSP Dudung Buka Data Pendana Aksi Dukungan MBG

Kemenhan Ungkap Alasan Calon Manajer Koperasi Merah Putih Wajib Ikut Latsarmil

“Media sosial menjual rasa. Orang lebih banyak tergerak oleh emosi dibandingkan sekadar informasi. Sementara pemerintah selama ini lebih banyak menyampaikan kebijakan yang bersifat rasional,” ujar Latief.

Ia menjelaskan, masyarakat umumnya merespons informasi di media sosial secara emosional. Sebaliknya, saat membaca koran, majalah, atau artikel panjang di media daring, publik cenderung menggunakan pendekatan yang lebih analitis.

Meski demikian, Latief mengingatkan pemerintah tidak boleh meninggalkan media arus utama. Menurutnya, setiap platform memiliki karakteristik tersendiri sehingga strategi penyampaian pesan harus disesuaikan.

“Jangan hanya bermain di media sosial. Media konvensional tetap penting. Yang dibutuhkan adalah bagaimana menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan karakter masing-masing platform,” katanya.

Dalam paparannya, Latief juga menyoroti tantangan komunikasi di era digital yang membuat informasi negatif jauh lebih cepat menyebar dibandingkan kabar baik.

Baca Juga  Desak Pidato Presiden Prabowo di PBB Disiarkan Langsung, SIAGA 98: Momen Strategis Diplomasi Indonesia

“Kecepatan berita buruk bisa sepuluh kali lebih cepat daripada berita baik,” ujarnya.

Menurut Latief, kondisi tersebut berkaitan dengan naluri manusia yang lebih peka terhadap ancaman, konflik, dan rasa takut. Akibatnya, informasi yang mengandung kontroversi atau persoalan lebih mudah menjadi viral dibandingkan klarifikasi maupun pemberitaan positif.

Ia mencontohkan, kesalahan penulisan atau isu yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat sering kali lebih cepat menyebar luas dibandingkan informasi yang telah diperbaiki.

Karena itu, tantangan pemerintah bukan hanya memperbanyak publikasi mengenai capaian program, tetapi juga mengemas pesan dengan cara yang mampu menarik perhatian masyarakat sejak awal.

Latief mencontohkan implementasi kebijakan registrasi biometrik. Menurutnya, komunikasi tidak cukup hanya menginformasikan waktu penerapan kebijakan, tetapi harus menjelaskan manfaat konkret yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kalau hanya mengatakan tanggal sekian biometrik diberlakukan, masyarakat akan bertanya, ‘Terus apa manfaatnya buat saya?’ Yang harus disampaikan adalah manfaatnya, misalnya bagaimana biometrik dapat melindungi data pribadi dan mencegah penyalahgunaan identitas,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perhatian masyarakat terhadap sebuah informasi kini semakin singkat. Berdasarkan berbagai kajian, perhatian awal atau attention span rata-rata hanya berlangsung sekitar 17 detik.

“Kalau dalam 17 detik pertama tidak menarik, kemungkinan besar orang tidak akan melanjutkan membaca,” katanya.

Lebih lanjut, Latief menekankan bahwa komunikasi publik yang efektif harus mampu menunjukkan dampak nyata dari setiap kebijakan pemerintah.

Informasi yang memberikan solusi atas persoalan masyarakat dinilai lebih mudah diterima dibandingkan sekadar mengumumkan peluncuran sebuah program.

Menurutnya, keberhasilan komunikasi publik bergantung pada kemampuan pemerintah menjawab pertanyaan mendasar masyarakat mengenai manfaat kebijakan yang diterapkan.

“Komunikasi pemerintah harus mampu menjawab pertanyaan masyarakat: apa manfaatnya bagi saya, bagaimana kebijakan itu menyelesaikan masalah saya, dan mengapa saya perlu peduli. Kalau itu bisa dijawab, maka peluang pesan diterima publik akan jauh lebih besar,” pungkas Latief.*

Baca Juga  Dirjen KPM :Pemerintah Tegaskan Komitmen Hormati Kebebasan Pers

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: bad news is a good newsDirektorat Jenderal Komunikasi Publikkarakter platformKomdigikomunikasi pemerintahMedia Kementerian Komunikasi dan Digitalmedia konvensionalpemberitaan positif
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Ketahanan Pangan dan Tugas Pokok Polri

Post Selanjutnya

Diduga Sekap dan Rantai Tiga Karyawan Selama 21 Hari, Pemilik Percetakan Dilaporkan ke Polisi

RelatedPosts

Oplus_131072

Diduga Sekap dan Rantai Tiga Karyawan Selama 21 Hari, Pemilik Percetakan Dilaporkan ke Polisi

28 Juni 2026

BaraNusa Desak KSP Dudung Buka Data Pendana Aksi Dukungan MBG

28 Juni 2026

Kemenhan Ungkap Alasan Calon Manajer Koperasi Merah Putih Wajib Ikut Latsarmil

27 Juni 2026
Oplus_131072

Deddy Sitorus Sindir PSI Soal Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode: Jangan Terburu-buru Bicara Pemilu 2029

27 Juni 2026

Pramono Anung: Puncak HUT Jakarta ke-499 di Bundaran HI Dimeriahkan Konser Musik dan Pesta Rakyat

27 Juni 2026

Presiden Prabowo Ajak Anak Bangsa Perkuat Persatuan Ditengah Perbedaan dan Keberagaman

27 Juni 2026
Post Selanjutnya
Oplus_131072

Diduga Sekap dan Rantai Tiga Karyawan Selama 21 Hari, Pemilik Percetakan Dilaporkan ke Polisi

Discussion about this post

KabarTerbaru

Oplus_131072

Diduga Sekap dan Rantai Tiga Karyawan Selama 21 Hari, Pemilik Percetakan Dilaporkan ke Polisi

28 Juni 2026

Komdigi: Komunikasi Pemerintah Harus Memahami Cara Publik Mengonsumsi Informasi

28 Juni 2026

Ketahanan Pangan dan Tugas Pokok Polri

28 Juni 2026

BaraNusa Desak KSP Dudung Buka Data Pendana Aksi Dukungan MBG

28 Juni 2026

Menkomdigi: Kasus Dugaan Penyekapan di Bandung Jadi Pengingat Pentingnya Waspada di Ruang Digital

28 Juni 2026

Kemenhan Ungkap Alasan Calon Manajer Koperasi Merah Putih Wajib Ikut Latsarmil

27 Juni 2026
Oplus_131072

Deddy Sitorus Sindir PSI Soal Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode: Jangan Terburu-buru Bicara Pemilu 2029

27 Juni 2026

Pramono Anung: Puncak HUT Jakarta ke-499 di Bundaran HI Dimeriahkan Konser Musik dan Pesta Rakyat

27 Juni 2026

Presiden Prabowo Ajak Anak Bangsa Perkuat Persatuan Ditengah Perbedaan dan Keberagaman

27 Juni 2026

Presiden Prabowo Ajak Anak Bangsa Perkuat Persatuan Ditengah Perbedaan dan Keberagaman

27 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Mewujudkan Polisi Kelas Dunia: Menyambut Hari Bhayangkara Ke-80

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polda Metro Jaya Tegaskan Minta Pihak UBK Buktikan Pengakuan Oknum Polisi Terkait Dana Rp20 Juta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Loyalis Jokowi Murka Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan, Muncul Seruan Gibran Lawan Prabowo di 2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Razman Arif Nasution Resmi Ditahan di Lapas Cipinang, Jalani Hukuman 18 Bulan atas Kasus Pencemaran Nama Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kajian Rutin Disnakertrans Garut Dirangkai Pelepasan Purna Tugas Amin Hendrayana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Guru Besar IPB, Diskanak Garut, dan Unit Pakan Mandiri Leles Lestari Dorong Inovasi Pakan Murah Berkualitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Alasan Kejagung Tolak Status Justice Collaborator Sony Sonjaya di Kasus Korupsi MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com