Jakarta, Kabariku.com – Nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran baru. Di tengah kurs yang disebut telah mendekati level Rp18.000 per dolar AS, berbagai faktor mulai disorot, mulai dari membengkaknya impor energi hingga program-program pemerintah yang dinilai menguras anggaran negara.
Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah kebijakan yang berani dari pemerintah. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah bukan sekadar persoalan pasar keuangan, melainkan juga cerminan dari beban fiskal dan kebutuhan devisa yang semakin besar.
“Kurs 1 USD ke rupiah sudah mendekati 18 ribu. Ini harus ada kebijakan berani dari pemerintah,” kata Sandri.
Ia menyoroti tingginya biaya impor minyak dan gas bumi (migas) yang terus membengkak. Kondisi tersebut, menurutnya, ikut menggerus cadangan devisa negara karena kebutuhan dolar untuk membayar impor energi semakin besar dari waktu ke waktu.
Sandri bahkan mengusulkan langkah yang selama ini dianggap sensitif secara politik, yakni menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menekan impor migas sekaligus mengurangi beban subsidi yang selama ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Biaya impor migas kita sangat membengkak, akhirnya menekan cadangan devisa. Jadi kalau bisa naikkan saja harga BBM agar bisa menekan biaya impor kita dan mengurangi beban subsidi BBM yang menguras APBN. Presiden harus berani mengambil sikap, jangan sampai kita seperti Somalia dan Zimbabwe,” ujarnya.
Selain persoalan impor energi, Sandri melihat pasar saat ini juga dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi defisit anggaran yang disebut semakin mendekati batas maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurutnya, situasi tersebut terjadi ketika penerimaan pajak belum menunjukkan performa yang cukup kuat untuk menopang berbagai kebutuhan belanja negara yang terus meningkat.
Di sisi lain, permintaan terhadap valuta asing (valas) juga mengalami kenaikan yang bersifat musiman. Kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan swasta maupun BUMN, hingga impor bahan baku industri menjadi faktor yang ikut mendorong tingginya permintaan dolar AS.
Sandri juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang membutuhkan alokasi dana besar. Ia menilai kebutuhan pembiayaan untuk berbagai program strategis berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap keuangan negara apabila tidak diimbangi dengan sumber penerimaan yang memadai.
“Permintaan valas meningkat secara musiman untuk berbagai keperluan, seperti pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan baik swasta maupun badan usaha milik negara, dan kebutuhan operasional impor bahan baku serta pengeluaran program-program ambisius pemerintah seperti Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis yang benar-benar menguras anggaran negara,” katanya.
Pelemahan rupiah sendiri menjadi isu yang sensitif karena berdampak langsung terhadap berbagai sektor. Selain meningkatkan biaya impor, kurs yang melemah juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.(Bemby)
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post