Jakarta, Kabariku – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan pemerintah hingga kini belum dapat berkomunikasi langsung dengan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dan ditahan oleh Angkatan Laut Israel di kawasan Mediterania Timur.
Menurut Menlu Sugiono, keterbatasan akses komunikasi menjadi kendala utama dalam memperoleh informasi terbaru terkait kondisi para WNI tersebut. Pemerintah Indonesia saat ini terus berkoordinasi dengan otoritas Turki dan Jordania guna memastikan keselamatan para relawan kemanusiaan asal Indonesia.
“Sejauh ini informasi yang kita terima itu masih sulit karena komunikasi yang terbatas,” kata Menlu, dikutip Kamis (21/5/2026).
Meski menghadapi hambatan komunikasi, Kementerian Luar Negeri memastikan terus memantau perkembangan situasi dan melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait.
Menlu Sugiono juga mengapresiasi semangat para relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla karena dinilai menunjukkan kepedulian terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza, Palestina.
“Ini merupakan semangat yang saya kira perlu diapresiasi. Kita berharap kondisi mereka baik-baik saja. Kami juga terus melakukan upaya koordinasi karena kita tidak punya hubungan langsung,” ujarnya.
Kronologi Penyergapan Kapal Kemanusiaan
Insiden penyergapan terjadi pada 18 Mei 2026 saat armada Global Sumud Flotilla berlayar di perairan internasional Mediterania menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sejumlah laporan menyebut kapal-kapal tersebut dicegat oleh militer Israel di sekitar wilayah Siprus.
Dalam rombongan itu terdapat sembilan WNI yang terdiri dari jurnalis, aktivis, dan relawan kemanusiaan. Sedikitnya lima orang dilaporkan ditangkap saat operasi pencegatan berlangsung, sementara empat lainnya masih berada di kapal berbeda di sekitar perairan Mediterania Timur.

Pemerintah Kecam Tindakan Israel
Sebelumnya, Kepala Staf (Kastaf) Kepresidenan Jenderal (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menegaskan Pemerintah Indonesia mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal misi kemanusiaan internasional tersebut.
Menurut Kastaf Dudung, pemerintah telah berkoordinasi langsung dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan langkah perlindungan terhadap para WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut.
“Tadi saya ditanya rekan-rekan wartawan tentang adanya warga Indonesia yang ditahan oleh tentara Israel. Memang betul, saya langsung berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri mengenai masalah ini,” kata Kastaf di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
KBRI dan KJRI Siaga Lakukan Perlindungan
Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, sembilan WNI yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) berada di sejumlah kapal berbeda dalam armada GSF 2.0. Lima di antaranya dilaporkan ditahan, sedangkan empat lainnya masih berada di kapal yang terus dipantau pemerintah.
“Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Empat WNI yang masih berlayar juga berada dalam kondisi rawan. Karena itu, pemerintah terus melakukan langkah perlindungan,” ujar Kastaf Dudung.
Ia menjelaskan Kementerian Luar Negeri telah melakukan koordinasi dengan sejumlah perwakilan RI di luar negeri, termasuk KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul.
Langkah antisipatif yang disiapkan mencakup penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) apabila dokumen perjalanan para WNI disita, dukungan medis, hingga koordinasi dengan otoritas setempat untuk mempermudah proses transit dan kepulangan ke Indonesia.
“Perwakilan RI terkait dalam posisi siaga untuk menindaklanjuti setiap notifikasi dari otoritas setempat. Pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi, memverifikasi posisi dan kondisi para WNI, serta menyiapkan langkah perlindungan sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia juga bergabung dengan sembilan negara lain, yakni Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Jordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol dalam pernyataan bersama yang mengutuk tindakan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla.
“Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional,” tegas Kastaf.
Daftar WNI dalam Misi Global Sumud Flotilla
Jurnalis Indonesia yang berada dalam misi tersebut yakni, Bambang Noroyono, Jurnalis dari media Republika; Thoudy Badai Rifan Billah, Jurnalis foto dari media Republika; Andre Prasetyo Nugroho, Jurnalis dari TV Tempo; Rahendro Herubowo, Jurnalis/Kontributor dari iNews TV.
Sementara relawan dan aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam misi itu antara lain, Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu dari GPCI-Dompet Dhuafa, serta Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo yang ikut dalam pelayaran menuju Gaza.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post