Jakarta, Kabariku – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Suyudi Ario Seto menegaskan penguatan kolaborasi strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai langkah penting menghadapi dinamika ancaman narkotika yang semakin kompleks, khususnya terkait kemunculan zat psikoaktif baru.
Dalam pertemuan bersama Kepala BRIN Arif Satria, pada Kamis (16/4/2026), kedua lembaga membahas perluasan kerja sama lintas sektor riset, mulai dari kesehatan, elektronika, hingga informatika.
Sinergi ini diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan teknologi dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan narkotika di Indonesia.
Komjen Suyudi menekankan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum untuk mengakselerasi riset dalam merespons perkembangan New Psychoactive Substances (NPS) yang kian cepat.
“Perkembangan zat narkotika baru sangat cepat. Secara global telah teridentifikasi lebih dari 1.300 jenis NPS, sementara di Indonesia sendiri telah terindikasi sebanyak 115 jenis,” ujarnya.
Sementara itu, Arif Satria menyatakan kesiapan BRIN dalam menopang tugas BNN melalui pemanfaatan infrastruktur dan sumber daya riset yang dimiliki.
“Kami siap menopang BNN melalui kajian teknis yang lebih spesifik, termasuk pemantauan kandungan senyawa pada tanaman serta pengembangan instrumen deteksi dini terhadap senyawa narkotika baru,” katanya.
Ia menambahkan, BRIN memiliki fasilitas dan peralatan riset yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara, yang dapat dioptimalkan untuk mempercepat proses identifikasi serta analisis senyawa narkotika secara lebih akurat dan efisien.
Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah penguatan ketahanan kesehatan nasional, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku obat.
Indonesia sendiri memiliki potensi besar dengan lebih dari 31.000 spesies tumbuhan yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan baku farmasi.
Namun, pemanfaatan potensi tersebut memerlukan pengawasan ketat guna mencegah penyalahgunaan, khususnya terhadap tanaman yang mengandung senyawa narkotika.
Karena itu, riset yang komprehensif dan terukur dinilai menjadi kunci agar pemanfaatannya tetap berada dalam koridor kepentingan medis dan ilmu pengetahuan.
Melalui kolaborasi ini, BNN dan BRIN juga mendorong optimalisasi proses sertifikasi bahan baku lokal untuk kebutuhan medis dan industri domestik, dengan pengawalan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kedua lembaga pun berkomitmen untuk segera menindaklanjuti hasil pertemuan melalui langkah-langkah teknis yang terukur dan berkelanjutan guna memastikan aspek keamanan, mutu, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post