• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Mei 24, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini Artikel

Garut Tempo Doeloe: Menyibak Jejak Priangan di Masa Kolonial dalam Bingkai Sejarah Swiss van Java

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
18 Februari 2026
di Artikel
A A
0
dok Dispusipda

dok Dispusipda

ShareSendShare ShareShare

Garut, Kabariku – Pameran foto bertajuk “Garut Tempo Doeloe: Jejak Priangan di Masa Kolonial” digelar di seputaran Pendopo Garut, Rabu (18/2/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut.

Kegiatan ini mengajak masyarakat menelusuri kembali wajah Garut pada dekade 1910-1920-an melalui arsip visual peninggalan masa Hindia Belanda.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Mengusung konsep perjalanan lintas waktu, pameran ini menampilkan dokumentasi foto yang merekam lanskap alam, perkembangan tata kota, hingga dinamika sosial masyarakat Garut pada awal abad ke-20.

RelatedPosts

MBG Jadi Mesin Ekonomi Nasional: Puluhan Ribu SPPG Gerakkan Hampir 1 Juta Tenaga Kerja dan Rp1 Triliun Per Hari

Tradisi Intelektual Pejabat Publik

Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers

Pada masa itu, kawasan Priangan, termasuk Garut, dikenal luas dengan julukan “Swiss van Java” karena keindahan alam pegunungan dan udaranya yang sejuk.

Cipanas dan Pesona Alam Garut Tempo Dulu

Salah satu sorotan utama dalam pameran adalah kawasan Cipanas yang sejak awal 1900-an telah berkembang menjadi destinasi wisata unggulan.

Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur serta panorama pegunungan yang mengelilingi kota menjadi daya tarik utama yang dipromosikan pemerintah kolonial kepada wisatawan Eropa.

Foto-foto hitam putih yang dipamerkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan, serta suasana pedesaan yang masih alami.

Dokumentasi tersebut menggambarkan Garut sebagai wilayah yang tenang, namun mulai mengalami transformasi menuju modernitas di bawah administrasi kolonial.

Hotel Mewah dan Ruang Sosial Kaum Elite

Pameran ini juga menampilkan potret kejayaan sektor pariwisata kolonial melalui kemegahan hotel-hotel legendaris.

Salah satunya adalah Hotel Papandayan yang pada masanya dikenal sebagai hotel termewah di wilayah Priangan. Bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis itu menjadi simbol eksklusivitas dan kemewahan.

Baca Juga  “Sandwich Crime“ Dalam Masyarakat “Post Truth“

Tak jauh dari pusat kota, berdiri pula Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi Ngamplang. Hotel ini menawarkan panorama lapangan golf dan pegunungan, sekaligus menjadi ruang sosial tempat pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan Eropa berinteraksi.

Melalui arsip visual tersebut, terlihat bahwa hotel bukan sekadar tempat bermalam, melainkan pusat aktivitas sosial dan ekonomi yang mencerminkan stratifikasi masyarakat kolonial.

Tata Kota dan Sistem Kolonial

Selain lanskap wisata, dokumentasi yang dipamerkan memperlihatkan bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang menandai penataan kota secara sistematis. Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor administrasi menunjukkan hadirnya sistem kolonial yang terstruktur di Garut.

Namun di balik kemegahan arsitektur dan keteraturan tata kota itu, tersimpan realitas sosial yang kompleks. Sistem perkebunan, kerja paksa, dan ketimpangan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah pembentukan kota pada masa tersebut.

Membaca Ulang Sejarah Garut

Pameran “Garut Tempo Doeloe” tidak hanya menghadirkan romantisme visual masa lalu, tetapi juga menjadi ruang refleksi sejarah. Foto-foto yang ditampilkan berfungsi sebagai arsip yang membekukan waktu sekaligus saksi perjalanan identitas Garut—hasil interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal.

Pengunjung diajak membayangkan suasana kota di awal abad ke-20: suara delman di jalanan, percakapan berbahasa Belanda di beranda hotel, hingga aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting denyut kehidupan kota.

Melalui peringatan Hari Jadi ke-213 ini, Garut tidak sekadar merayakan usia, tetapi juga merawat ingatan kolektif. Dokumentasi visual era 1910–1920-an menjadi pengingat bahwa Garut hari ini merupakan hasil perjalanan panjang sejarah—sebuah warisan yang terus hidup dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang.***

Baca juga :

Garut: Dari Duri Semak hingga Identitas Kolektif
“Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, Saksikan Live dan Hadiri Puncak Acara HJG ke-213 di Alun-Alun Garut

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Garut Tempo DoeloeJejak Priangan di Masa KolonialPendopo Garutpeninggalan masa Hindia BelandaSejarah Swiss van Java
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

“Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, Saksikan Live dan Hadiri Puncak Acara HJG ke-213 di Alun-Alun Garut

Post Selanjutnya

Jelang Ramadan, Legislator Garut Tinjau Kondisi Janda Tua Duafa di Leuwigoong

RelatedPosts

MBG Jadi Mesin Ekonomi Nasional: Puluhan Ribu SPPG Gerakkan Hampir 1 Juta Tenaga Kerja dan Rp1 Triliun Per Hari

16 Mei 2026

Tradisi Intelektual Pejabat Publik

13 Mei 2026

Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers

10 Mei 2026

Sekilas Gebyar Pesona Budaya Garut

26 April 2026

Reformasi Polri Melalui Pendekatan Improvement dan Developement Demi Mewujudkan Polisi Kelas Dunia

20 April 2026
foto dok. Teddy Friends

Siapapun Kabinetnya, Seskabnya Teddy

16 April 2026
Post Selanjutnya

Jelang Ramadan, Legislator Garut Tinjau Kondisi Janda Tua Duafa di Leuwigoong

Wakil Ketua DPRD Kabupaten H Subhan Fahmi

Momentum HJG ke-213, DPRD Garut Tegaskan Pentingnya Sinergi Pembangunan

Discussion about this post

KabarTerbaru

Presiden Prabowo: Prioritaskan Proyek Produktif yang Berdampak Langsung bagi Rakyat

24 Mei 2026

Di Acara Nobar yang Digelar DPRD, Warga Garut Rayakan Hattrick Persib

23 Mei 2026

Wakapolri di Rakernis 2026: Korlantas Etalase Polri, Pelayanan Humanis Berbasis Teknologi Digital

23 Mei 2026
Diskusi Obor Rakyat Reborn menyoroti pelemahan rupiah, kebocoran SDA, hingga ekonomi rakyat yang dinilai makin tertekan. (Bemby/kabariku.com)

Rupiah Melemah, Obor Rakyat Reborn Soroti Kebocoran SDA hingga Beban Ekonomi Rakyat

23 Mei 2026
Persib Bandung resmi juara Super League 2025/2026 usai bermain imbang 0-0 melawan Persijap Jepara.(Istimewa)

Persib Juara Super League 2025/2026 Usai Tahan Imbang Persijap 0-0

23 Mei 2026

Presiden Prabowo Kenalkan Danantara Pengelola 1.040 BUMN Bernilai Rp17.000 Triliun Dana Kedaulatan RI

23 Mei 2026

Garut Dorong Lahirnya Bibit Atlet Lewat Invitasi Atletik Jawa Barat 2026

23 Mei 2026

Nurul Ghufron Resmi Jadi Komisaris Jasa Marga, RUPST 2025 Catat Kinerja Positif dan Susun Jajaran Baru

23 Mei 2026

RUPST PGN Ujian Reformasi BUMN, FSP BUMN IRA Ingatkan Danantara Prioritaskan Profesional Internal

22 Mei 2026

Presiden Prabowo Kenalkan Danantara Pengelola 1.040 BUMN Bernilai Rp17.000 Triliun Dana Kedaulatan RI

23 Mei 2026

Kabar Terpopuler

  • Menteri Luar Negeri Sugiono

    Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sandri Rumanama Minta Publik Tak Salah Tafsir Candaan Dasco soal “Hidup Jokowi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nadiem Tak Perlu Dibela

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof Achmad Ungkap Fenomena Resource Curse: Satgas PKH Efektif Benahi Tata Kelola SDA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menlu Sugiono Akui Komunikasi Terkendala, Pemerintah Desak Israel Bebaskan WNI Misi Global Sumud Flotilla

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com