Jakarta, Kabariku – Agenda halal bihalal yang diselenggarakan Kornas Presidium Pemuda Timur di Jakarta Selatan pada Sabtu (28/3/2026) berkembang menjadi ruang refleksi bersama terkait arah pembangunan Indonesia Timur. Isu ketimpangan, khususnya di Maluku, menjadi sorotan utama dalam forum tersebut.
Peserta yang datang dari berbagai wilayah tampak memanfaatkan momentum ini bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga bertukar pandangan mengenai kesenjangan pembangunan yang dinilai masih terjadi hingga kini.
Koordinator Kornas Presidium Pemuda Timur, Sandri Rumanama, menyampaikan bahwa upaya membangun kawasan timur membutuhkan dorongan kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Ia menilai rasa keterisolasian yang muncul selama ini tidak lepas dari lemahnya semangat bersama.
“Membangun timur itu harus dengan semangat bersama, adalah tanggung jawab kita semua. Kenapa kita merasa terisolir karena kita tidak punya semangat membangun Indonesia timur,” ujarnya.
Sandri juga menyinggung aspek nilai dalam pembangunan. Menurut dia, tanggung jawab membangun daerah tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut komitmen moral.
“Di Islam itu ada kalimat begini, jadi kalau kita tidak membangun negerinya keimanan kita dipertanyakan. Jadi kalau saya tidak membangun Indonesia timur, keimanan saya tentu dipertanyakan,” katanya.
Ia berharap keberadaan Kornas Presidium Pemuda Timur dapat berfungsi sebagai penghubung aspirasi masyarakat sekaligus pengawal pemerataan pembangunan antarwilayah.
“Jadi Kornas Presidium Pemuda Indonesia Timur ini kami berharap bisa menghimpun aspirasi, mengawal stabilitas negeri ini dan kita harus setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia,” ujarnya.
Dalam forum yang sama, Haidar Alwi membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Ambon. Ia menggambarkan kondisi yang menurutnya menunjukkan kesenjangan antara potensi dan realitas di lapangan.
“Beberapa tahun lalu saya pernah ke Ambon bersama Sandri. Begitu mendarat di Maluku, jalan beberapa kilometer saya mulai meneteskan air mata dari bandara sampai ke Universitas Pattimura,” tuturnya.
Haidar menilai Maluku memiliki kekayaan sumber daya yang besar, namun belum diikuti oleh tingkat kesejahteraan masyarakat yang memadai.
“Saya melihat Ambon ini sebagai provinsi terkaya di dunia. Tapi yang saya lihat justru penduduknya miskin, kotanya juga sangat tertinggal. Bahkan kalau dibandingkan dengan kota di Jawa Barat, Ambon masih jauh di bawah,” katanya.
Ia juga menyoroti terbatasnya fasilitas modern sebagai gambaran kondisi pembangunan di wilayah tersebut.
“Kalau di Jawa Barat ada dua atau tiga mal, di Ambon cuma satu, itu pun hidup segan mati tak mau. Itu jadi ukuran bahwa Maluku ini belum sejahtera,” ujarnya.
Menurut Haidar, persoalan di Indonesia Timur tidak bisa dipandang sederhana dan memerlukan keterlibatan banyak pihak untuk mendorong perubahan.
“Kalau saya cerita soal Ambon, tidak akan habis sampai satu dua bulan,” katanya.
Dari diskusi yang berlangsung, peserta sepakat bahwa percepatan pembangunan di Indonesia Timur membutuhkan keberpihakan yang jelas serta kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif generasi muda.
Kornas Presidium Pemuda Timur melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi masyarakat dan mendorong pemerataan pembangunan guna mewujudkan keadilan antarwilayah di Indonesia.(Bemby)
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post