Jakarta, Kabariku— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di di sejumlah lokasi terkait kasus dugaan suap importasi barang pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
“Penyidik melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi, yaitu di kantor pusat Bea Cukai, Rumah Tersangka RZL, SIS, dan JF,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, Jumat (6/2/2026).
KPK melakukan penggeledahan di rumah para tersangka. Selain itu, Tim penyidik KPK juga melakukan penggeledahan di kantor PT Blueray.
Dalam penggeledahan itu, KPK mengamankan dan menyita sejumlah dokumen terkait kepabeanan dan impor, dokumen keuangan, barang bukti elektronik, serta uang tunai.
“Tapi untuk uang tunai masih dihitung dan dipastikan (informasi lanjutan) pecahannya apa saja,” tuturnya.
Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka. Mereka adalah Rizal (RZL) selaku Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (P2 DJBC) periode 2024 sampai Januari 2026.
Kemudian, Sisprian Subiaksono (SIS) selaku Kepala Subdirektorat Inteljien Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kasubdit Intel P2 DJBC), Orlando (ORL) selaku Kepala Seksi Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (kasi Intel DJBC).
Lalu, Jhon Field (JF) selaku Pemilk PT Blueray, Andri (AND) selaku Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray, dan Dedy Kurniawan (DK) selaku Manager Operasional PT Blueray.
“KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap 5 (lima) tersangka untuk 20 hari pertama sejak tanggal 5–24 Februari 2026. Penahanan dilakukan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Namun satu tersangka lain, yaitu Pemilik PT BR (Blueray) John Field (JF) belum ditahan karena dia melarikan diri sehingga masih dalam proses pencarian.
“Sementara terhadap tersangka JF, KPK akan menerbitkan surat permohonan pencegahan ke luar negeri (cekal) dan meminta agar yang bersangkutan kooperatif mengikuti proses hukum ini,” ucap Asep.
Para pegawai Bea Cukai yang menjadi tersangka diduga menerima suap untuk meloloskan barang-barang impor dari pihak pemberi suap. KPK menyebut, praktik suap tersebut menyebabkan barang KW hingga ilegal masuk ke Indonesia.
KPK telah menyita barang bukti senilai Rp 40,5 miliar dalam kasus ini. Barang bukti itu berupa uang tunai hingga emas.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com















Discussion about this post