Jakarta, Kabariku – Momen hangat penuh rasa hormat dan kebangaan intelektual dalam suasana khidmat, Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sekaligus Ahli Linguistik Forensik, Dr. J. Anhar Rabi Hamsah Tis’ah, M.Pd., berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Negara pada 15 Januari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Anhar menyerahkan karya ilmiahnya berjudul “Jejak Bahasa di Dunia Maya (Mengungkap Kejahatan Siber lewat Linguistik Forensik)” kepada Presiden.
Pertemuan di Istana Negara itu menjadi momen penting bagi dunia akademik, khususnya dalam mendorong sinergi antara ilmu pengetahuan dan pengambilan kebijakan negara.
Dr. Anhar menilai Istana Negara bukan sekadar pusat kekuasaan, melainkan ruang simbolik tempat amanah sejarah dan cita-cita bangsa dirumuskan.

Sebagai akademisi, Dr. Anhar memandang ilmu pengetahuan tidak hanya sebagai aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral.
Ia meyakini bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan bagian dari amal jariyah, yang nilainya akan terus mengalir selama memberi maslahat bagi umat dan bangsa.
Keyakinan inilah yang menjadi landasan spiritual dalam perjalanan akademiknya, termasuk dalam pengembangan kajian linguistik forensik.
Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo, Dr. Anhar menegaskan bahwa kehadirannya di Istana Negara merepresentasikan dunia akademik sebagai mitra strategis negara.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak boleh bersikap netral tanpa arah, melainkan harus berpihak pada kepentingan nasional, keadilan sosial, serta perlindungan nilai-nilai kemanusiaan.
Momen paling bermakna dalam pertemuan tersebut terjadi saat Dr. Anhar secara langsung menyerahkan bukunya kepada Presiden.
Buku Jejak Bahasa di Dunia Maya mengulas peran linguistik forensik dalam mengungkap kejahatan siber, seperti ujaran kebencian, hoaks, fitnah digital, dan manipulasi wacana yang berpotensi merusak tatanan sosial serta persatuan bangsa.
Dalam buku itu dijelaskan bahwa linguistik forensik merupakan instrumen strategis dalam membantu penegakan hukum dan menjaga stabilitas sosial di era digital.
Bahasa, menurut Dr. Anhar, selalu meninggalkan jejak yang dapat dianalisis secara ilmiah karena setiap ujaran memiliki identitas, pola, dan konteks sosial tertentu.
Presiden Prabowo Subianto disebut menunjukkan ketertarikan dan apresiasi terhadap tema yang diangkat dalam buku tersebut.
Hal ini dimaknai Dr. Anhar sebagai sinyal positif bahwa negara membuka ruang dialog dengan dunia akademik, sekaligus mengakui pentingnya riset sebagai dasar kebijakan publik, khususnya dalam menghadapi ancaman nonfisik di ruang digital.
Bagi Dr. Anhar, pertemuan tersebut bukan sekadar kehormatan personal, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar.
Ia memandang momen itu sebagai awal untuk terus mengembangkan kajian linguistik forensik, membimbing mahasiswa dengan nilai integritas, serta memperkuat kontribusi akademisi dalam menjaga ketahanan nasional.
Usai acara di Istana Negara, Dr. Anhar menyatakan tekadnya untuk terus mengabdikan ilmu sebagai bagian dari ibadah dan cinta tanah air.
Ia berharap karyanya dapat menjadi sumbangan intelektual bagi negara dalam menghadapi tantangan kejahatan siber dan membangun ekosistem digital yang lebih beradab.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Dr. J. Anhar Rabi Hamsah Tis’ah menjadi simbol bahwa kerja akademik yang dilandasi niat baik, ketekunan, dan tanggung jawab moral memiliki tempat strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia.***
Baca juga :
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post