• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Maret 1, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Ekonomi

Haidar Alwi: Negosiasi Perdagangan Internasional Bukan Sekadar Kontak Dagang.

Tresna Sobarudin oleh Tresna Sobarudin
16 April 2025
di Ekonomi
A A
0
Haidar Alwi

Haidar Alwi

ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menyoroti urgensi dalam merespons dinamika global pasca kebijakan tarif Donald Trump, namun dengan pendekatan yang lebih tajam dan rasional. Dalam pandangannya, langkah negosiasi bukan solusi utama yang bisa langsung disiapkan seperti mengisi formulir ekspor-impor. Justru, terlalu tergesa-gesa dalam mengajukan negosiasi bisa menyeret Indonesia ke dalam posisi tawar yang lebih lemah secara sistemik dan geopolitik.

Dalam ekonomi global, negosiasi tarif adalah medan pertempuran high-stakes dengan elemen strategic leverage dan asymmetric dependency. Negara-negara yang sukses dalam negosiasi perdagangan adalah mereka yang membangun bargaining power dari dalam, bukan semata lewat retorika diplomatik.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Haidar Alwi menegaskan, “Kita tidak bisa datang ke meja perundingan hanya dengan daftar belanja, tapi tanpa struktur kekuatan ekonomi nasional yang kokoh.”

RelatedPosts

Bahas Pembangunan Pelabuhan Cilautereun, Bupati Garut Temui DKP Provinsi Jawa Barat

THR ASN, TNI, Polri 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun

Gagal Bayar Kewajiban, Saham WIKA Masih Disuspensi BEI

Jangan Terjebak pada Ilusi ‘Bilateral Charm’

Ada anggapan populer bahwa cukup dengan menyusun tim, lalu melakukan pendekatan dagang kepada Amerika Serikat, maka masalah akan selesai. Namun Haidar Alwi mengingatkan, AS adalah negara dengan arsitektur ekonomi berbasis strategic autonomy dan mercantilist pragmatism, bukan sekadar mitra dagang konvensional. “Amerika bukan berdagang demi berdagang. Mereka berdagang untuk mempertahankan hegemoninya,” tegas Haidar Alwi.

Membahas kedelai, gandum, alat kesehatan, hingga minyak, Haidar Alwi melihat ada penyederhanaan berbahaya dalam cara berpikir. “Mengalihkan impor dari negara lain ke AS sebagai alat diplomasi tarif justru bisa menjadi bentuk baru dari commoditized dependency. Ini bukan strategi, ini pengalihan risiko tanpa mitigasi,” jelasnya.

Baca Juga  Harga LPG 3 Kg Naik? Ini Penjelasan Pertamina...

Menurutnya, jika Indonesia ingin melakukan negosiasi, maka yang pertama harus dilakukan adalah memetakan ulang seluruh value chain domestik dan global yang terkait dengan sektor-sektor tersebut.

Negosiasi Tanpa Ketergantungan

Dalam dunia game theory, negosiasi efektif hanya terjadi jika masing-masing pihak memiliki exit strategy. Tanpa itu, satu pihak akan selalu berada dalam submissive position. Oleh karena itu, Haidar Alwi menekankan pentingnya melakukan decoupling analysis terlebih dahulu, yakni sejauh mana ketergantungan Indonesia terhadap produk atau pasar Amerika, dan apakah ketergantungan itu bisa dieliminasi atau dikelola melalui diversifikasi yang presisi.

“Kita seringkali terlalu sibuk mengejar diskon tarif, tapi lupa menyiapkan economic redundancy. Dalam perang dagang, negara yang menang adalah yang bisa hidup tanpa satu mitra dagang sekalipun,” ujar Haidar Alwi.

Maka, sebelum bicara soal tawaran, Indonesia seharusnya memperkuat pilar-pilar domestik seperti intermodal logistic efficiency, non-tariff barrier restructuring, dan local content credibility.

Bargaining Power Tidak Bisa Diciptakan dalam Semalam

Strategi yang diusulkan Haidar Alwi menitikberatkan pada long-range economic maneuver. Artinya, pemerintah harus menyusun peta jalan industri nasional berbasis kebutuhan strategis, bukan hanya permintaan mitra dagang.

“Amerika menghargai satu hal: kekuatan. Dan kekuatan ekonomi itu dilihat dari kemampuan kita mempertahankan trade resilience,” tegas Haidar Alwi.

Di sinilah letak perbedaan mendasar dari sekadar ‘mengatur ulang siapa yang kita beli dan jual’. Haidar Alwi menyarankan agar pemerintah memfokuskan energi pada pembangunan geo-economic corridor dan bilateral asset reciprocity. Misalnya, jika Amerika menuntut pasar, maka Indonesia harus meminta akses teknologi, lisensi produksi, hingga transfer intellectual property rights.

Negara tidak bisa bernegosiasi jika masih berada dalam posisi defisit struktural dalam neraca berjalan. Sebelum membuka jalur negosiasi tarif dengan AS, Haidar Alwi menyarankan agar Indonesia membenahi current account imbalance melalui penguatan ekspor berbasis teknologi menengah dan tinggi. Produk agrikultur, meski penting, bukanlah alat tawar utama dalam era digital dan supply chain realignment global.

Baca Juga  Ssst… Dirut Bulog Budi Waseso Jual Kopi Ganja

“Kalau kita masih bertumpu pada ekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi dari AS, maka negosiasi apa pun hanya akan memperkuat dependency trap kita sendiri,” katanya. Di sinilah peran kebijakan jangka panjang seperti hilirisasi, industrial clustering, dan R&D-backed production scheme menjadi krusial.

Kebijakan Perdagangan Bukan Reaksi, Tapi Strategi

Haidar Alwi mengingatkan bahwa ekonomi bukan arena spontanitas. Ia adalah medan rencana dan disiplin. Segala bentuk negosiasi dagang seharusnya menjadi bagian dari national economic doctrine, bukan respons terhadap tekanan luar. “Kalau kita tergesa-gesa bernegosiasi hanya karena ditekan tarif, itu artinya kita tidak punya arah. Lebih baik kita benahi rumah kita sendiri terlebih dahulu.”

Maka, dalam konteks global, bukan Amerika yang harus segera ditemui. Tapi Indonesia yang harus segera memantapkan dirinya. Ketika struktur ekonomi kuat, maka negosiasi akan datang dengan sendirinya, tanpa harus memohon atau menawarkan yang tidak kita miliki. Sebab, seperti ditegaskan Haidar Alwi,

“Negosiasi terbaik adalah ketika kita tidak perlu melakukannya,” pungkas Haidar Alwi. (Bem) ***

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Haidar Alwinegosiasiperdagangan internasionaltarif Donald Trump
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

UGM Tegaskan Jokowi Sah Alumni Fakultas Kehutanan yang Diwisuda 5 November 1985

Post Selanjutnya

Skandal Oknum Dokter Kandungan Garut: Kerap Ajak Pasien ke Kafe, Netizen Menduga Korban Mencapai 100

RelatedPosts

Bahas Pembangunan Pelabuhan Cilautereun, Bupati Garut Temui DKP Provinsi Jawa Barat

26 Februari 2026
Foto ilustrasi (Istimewa)

THR ASN, TNI, Polri 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun

20 Februari 2026
Foto : Istimewa

Gagal Bayar Kewajiban, Saham WIKA Masih Disuspensi BEI

19 Februari 2026
Ekspansi ke-29, Toko Mas Pantes Resmikan Gerai Baru di Ciplaz Garut

Toko Mas Pantes Resmi Hadir di Ciplaz Garut, Bawa Konsep Emas dan Berlian Terintegrasi

13 Februari 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Kemenkeu

Menkeu Ungkap Dugaan Manipulasi Ekspor CPO, Negara Rugi Bertahun-tahun

5 Februari 2026
Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra usai memaparkan Mitigasi Risiko TPPU, TPPT, PPSPM dengan petinggi BRI (Foto: Humas Kemenko Kumham Imipas)

Pemerintah Siapkan Regulasi Berlapis Dukung Cashless Payment UMKM

3 Februari 2026
Post Selanjutnya

Skandal Oknum Dokter Kandungan Garut: Kerap Ajak Pasien ke Kafe, Netizen Menduga Korban Mencapai 100

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri Pertama Federasi Rusia Denis V. Manturov, sekaligus Ketua Bersama dari Pihak Rusia pada Komisi Gabungan Rusia-Indonesia untuk Kerja Sama Ekonomi, Perdagangan, dan Teknis di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 15 April 2025.

Presiden Prabowo Terima Kunjungan Kehormatan Wakil Perdana Menteri Pertama Federasi Rusia di Istana Merdeka

Discussion about this post

KabarTerbaru

ilustrasi fenomena Blood Moon

Fenomena Langka 3 Maret 2026: Blood Moon Saat Berbuka, Cap Go Meh di Malam Purnama

1 Maret 2026

Gugurnya Ayatullah Khamenei: Alarm Arah Politik Luar Negeri Indonesia

1 Maret 2026

BNN dan BGN Integrasikan Program MBG untuk Perkuat Ketahanan Bangsa

28 Februari 2026

Minat Naturalisasi WNA dan ABG Tinggi, Ditjen AHU Tegaskan Status WNI Sangat Bernilai

28 Februari 2026

Seskab Teddy: MBG Bukan Ancaman Pendidikan, Anggaran Tetap dan Program Bertambah

28 Februari 2026
Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyerahkan penghargaan kepada Kepala DPPKBPPPA Garut Yayan Waryana/IST

Garut Raih Enam Penghargaan Bangga Kencana Jabar 2026, Perkuat Komitmen Tekan Stunting

28 Februari 2026
Wabup Garut Tinjau Garut Plaza, Siapkan Relokasi PKL dan Penguatan Event Ramadan

Bazar Ramadhan Jadi Momentum Penataan PKL di Garut Kota

28 Februari 2026

Kemnaker Buka 20.000 Kuota Pelatihan Vokasi Nasional 2026, Gratis dan Bersertifikat

28 Februari 2026
Dubes Yaman untuk Indonesia, Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, menyambangi Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra bahas kerjasama hukum dan kemanusiaan. (Foto: Humas Kemenko Kumham Imipas)

Indonesia–Yaman Perkuat Kerja Sama Hukum dan Kemanusiaan

28 Februari 2026

Kabar Terpopuler

  • Petugas mengevakuasi korban meninggal dalam bencana longsor di Bungbulang Garut (Dok. BPBD Garut)

    Longsor di Bungbulang Garut: Satu Meninggal, Akses Jalan Terputus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Tahun Berjuang, Korban Jiwasraya Desak Menkeu Purbaya Lunasi Sisa 25,5 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof Achmad Tjachja Nugraha Rilis Buku “Technopreneurship”: Rahasia Membangun Bisnis Teknologi di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ada Dissenting Opinion dalam Sidang Vonis Riva Siahaan Dkk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anomali BUMN Farmasi: Kimia Farma Disuntik Rp845 Miliar, Indofarma Menanti Kejelasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com