• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Juli 5, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini Edukasi

Demokasi Indonesia Tanpa Humanisme? Jaya Suprana: Jihad al Nafs Membentuk Peradaban Bukan Hanya Membangun Demokrasi

Redaksi oleh Redaksi
1 November 2022
di Edukasi, News
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku– Universitas Paramadina Gelar Diskusi Publik Bertajuk ‘Demokasi Indonesia Tanpa Humanisme?’, acara diselenggarakan di Ruang Granada Universitas Paramadina, Jakarta Selatan. Selasa (1/11/2022).

Acara diskusi dipandu oleh Dr Aan Rukmana, Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina dengan menghadirkan pembicara Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan dan Dr Sunaryo, Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Dr. Sunaryo

Dalam kesempatan itu, Dr.Sunaryo menjelaskan refleksi terhadap praktik demokrasi di Indonesia.

RelatedPosts

Apresiasi Kinerja Irjen Agus Suryonugroho, IPW Harap Irjen Wibowo Lanjutkan Transformasi Korlantas Polri

PSI Bangka Matangkan Kepengurusan, Budiyono: Jokowi Masuk Agenda Kunjungan ke Bangka Belitung

Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

Menurut Dr. Sunaryo, Meksi pada masa awal dulu para filosof tidak terlalu suka dengan demokrasi, namun dalam sejarah modern, demokrasi dianggap sebuah sistem nilai yang mempunyai keburukan paling sedikit, dibanding yang lain.

“Itulah realitas modern, dan negara-negara kemudian didorong untuk menjadi lebih demokratis,” katanya.

Ia menyebut, ‘Founding father’ Indonesia sejak awal mempunyai komitmen besar terhadap demokrasi kerakyatan yang diwakilli oleh sila ke empat Pancasila.

“Tapi kemudian demokrasi di Indonesia juga mengalami pasang surut mulai era demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi era orde baru dan demokrasi era reformasi saat ini,” jelasnya.

Demokrasi di alam reformasi, menurutnya, menemukan format kebebasan dengan diizinkannya multi partai, kebebasan bersuara dan berserikat, dan lain-lain.

“Namun juga hadir aneka respon dan perilaku masyarakat-individu mulai dari hal baik sampai yang kasar, rendahan, dan nir etika seperti perilaku komunikasi di media sosial terkini,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Dr. Sunaryo, memang dibutuhkan tata aturan yang disepakati oleh semua pihak untuk tetap mengedepankan etika di ruang-ruang publik, dan hukuman bagi yang melontarkan hate speech keterlaluan.

Baca Juga  Kunjungan Kepala BNPB ke Lokasi Erupsi Gunung Semeru Pastikan Penanganan Darurat Berjalan Optimal

“Seperti yang diterapkan di negara-negara maju. Indonesia perlu kesadaran semua pihak untuk membangun kesadaran beretika di alam demokrasi. itu yang masih absen,” jelasnya.

Kata Dr. Sunaryo, Kemanusiaan adalah mahkota peradaban. Namun ide humanisme juga akhirnya dikritik karena dianggap kurang pemihakan terhadap aspek ekologi.

“Sejarah humanisme abad pertengahan pada manusia sebagai sentrum, dan teosentrisme sebagai pusat kebenaran juga dikritik. Terkait tafsir yang pasti dipahami secara keliru dan berbeda-beda,” katanya.

Peradaban manusia selalu mempuyai payung untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.

“Salah satu ukurannya dari sudut manusia termasuk tata kelola hidup bersama,” imbuhnya.

Demokrasi adalah payung Kemanusiaan untuk membuat Kemanusiaan menjadi lebih baik.

Memang, tidak ada sistem yang sempurna tetapi demokrasi adalah pilihan yang punya risiko paling kecil.

“Kita cenderung fokus pada aspek prosedural dalam demokrasi. Hanya pada pelaksanaan pemilu dan parlemen di DPR tetapi kurang pada aspek demokrasi yang lebih substansial. Tetapi juga kita memihak Amartya Sen, yang menyatakan Asian Valuesmya Lee Kuan Yew dan Mahathir Mohammad yang belum tentu cocok di belahan lain Asia,” papar dia.

Dari beberapa komparasi, Dr.Sunaryo mengatakan, demokasi justru punya kontribusi lebih positif terhadap kesejahteraan.

“Dapat memberikan kesempatan kepada semua orang terhadap apa yang menjadi interestnya,” katanya.

Jaya Suprana

Kemanusiaan memang mahkota peradaban. Apapun yang dilakukan manusia, jika tidak berorientasi pada kemanusiaan maka tidak akan jadi baik pada hasilnya.

Kata Jaya Suprana, Pasti berujung destruktif jika tidak dipayungi oleh kemanusiaan. Baik ekonomi, politik, sosial budaya, dan agama.

“Agama bahkan pernah dimanfaatkan bukan untuk kemanusiaan,” cetusnya.

Baca Juga  Muhammadiyah DKI Jakarta Gelar Aksi Orasi Gerakan Cinta Pancasila, Pengarusutamaan Islam Wasathiyah sebagai Refleksi Sikap dan Kebangsaan

Cara manusia memahkotakan Kemanusiaan, menurut Jaya Suprana, adalah seperti yang diajarkan oleh Cak Nun, bahwa satu diantara kearifan Islam yang dikagumi adalah: “Jihad al Nafs. Jihad atau peperangan melawan hawa nafsu”.

Diangkat dari kisah peperangan Uhud, ketika Nabi Muhammad memberikan nasehat kepada pasukan muslim, agar jangan lengah dan perang yang paling besar (Akbar) adalah perang melawan hawa nafsu.

Jaya Suprana mencontohkan, Salah satu tragedi kemanusiaan di Jakarta adalah ketika terjadi penggusuran terhadap warga Bukti Duri pada 28 September 2016.

“Disitu nampak bahwa bagi mereka yang miskin, maka pasti tidak bisa melawan. Berbeda ketika rencana penggusuran terjadi pada kaum yang berpunya. Di situlah sebetulnya ujian bagi Kemanusiaan kita. Termasuk ketika melakukan kebencian, penghinaan dan fitnah,” bebernya.

Jaya Suprana menegaskan, Demokrasi, agama, hukum, ekonomi, politik tidak berada pada posisi yang salah.

“Yang salah adalah manusianya yang kehilangan kemanusiaan. Sesungguhnya Kemanusiaan itu build in dalam Demokrasi dan Demokrasi build in dalam Kemanusiaan,” tegasnya.

Menurutnya, Jihad melawan nafsu bisa berbentuk peradaban yang luar biasa indah. Karena estetika itu juga hal yang tidak kalah penting.

“Jihad al nafs juga untuk membentuk peradaban, bukan hanya untuk membangun demokrasi,” katanya.

Lanjut Jaya Suprana, Dari segi happiness index, kesejahteraan jelas berkorelasi dengan kebahagiaan, dan memberi pengaruh terhadap kesejahteraan.

“Sisi Happiness index, Kemanusiaan lebih objektif karena menunjukkan arah capaian pada kebahagiaan yang lebih substantive,” Jaya Suprana menutup.***

Red/K.101

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: ‘Demokasi Indonesia Tanpa Humanisme?’Jaya SupranaJihad al Nafs Membentuk Peradabanrefleksi terhadap praktik demokrasi di IndonesiaWarta Pemilu
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Brigjen Krishna Murti: Dengan ‘Breakthrough’ Divhubinter Polri Perburuan Harun Masiku Bisa Lebih Optimal

Post Selanjutnya

Polres Garut Launching Program “Taros Kapolres Garut”

RelatedPosts

Apresiasi Kinerja Irjen Agus Suryonugroho, IPW Harap Irjen Wibowo Lanjutkan Transformasi Korlantas Polri

5 Juli 2026

PSI Bangka Matangkan Kepengurusan, Budiyono: Jokowi Masuk Agenda Kunjungan ke Bangka Belitung

4 Juli 2026

Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

4 Juli 2026

Cholil Nafis Kritik Konten BEM Psikologi UI soal Homoseksual, Soroti Tanggung Jawab Kampus Bentuk Karakter Mahasiswa

4 Juli 2026

Mardani Ali Sera Soroti Isu PHK Tokopedia, Usul Pemerintah Bentuk Satgas Penanganan PHK

4 Juli 2026

AHY Dorong Wali Kota Perkuat Inovasi dan Daya Saing Daerah untuk Tarik Investasi

4 Juli 2026
Post Selanjutnya

Polres Garut Launching Program "Taros Kapolres Garut"

Garut Raih Medali Emas Pertama dari 2 Atlit Cabor Loncat Indah Putri di Porprov Jabar XIV 2022

Discussion about this post

KabarTerbaru

Apresiasi Kinerja Irjen Agus Suryonugroho, IPW Harap Irjen Wibowo Lanjutkan Transformasi Korlantas Polri

5 Juli 2026

Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

5 Juli 2026

Menilik Penugasan AKBP Syarif yang Tetap Mendampingi Jokowi: Antara Kebutuhan Pengamanan dan Persepsi Publik

5 Juli 2026

PSI Bangka Matangkan Kepengurusan, Budiyono: Jokowi Masuk Agenda Kunjungan ke Bangka Belitung

4 Juli 2026

Promosikan Produk UMKM, PT TIMAH Boyong Mitra Binaan ke Belitung Expo 2026

4 Juli 2026

FPN Bandung Raya Gelar Donor Darah sebagai Wujud Solidaritas Kemanusiaan untuk Palestina

4 Juli 2026
Claudia Desy Erwiena Br Ginting Munthe mencuri perhatian dalam Singing Competition Indomaret Pakuan Regency Bogor (Istimewa)

Claudia Desy Curi Perhatian di Singing Competition Indomaret Bogor, Pilih “Cinta dan Rahasia”

4 Juli 2026

Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

4 Juli 2026

Lola Nelria Oktavia Pastikan Program BSPS Berjalan Optimal, Warga Garut Segera Tempati Rumah Layak Huni

4 Juli 2026

Istana Pastikan Program Tetap Berjalan, Latsarmil Koperasi Merah Putih Dievaluasi Usai Lima Peserta Meninggal

29 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Sidang TPPU, Mantan Pangdam IV/Diponegoro Diduga Belikan Alphard Rp1,6 Miliar untuk Eks Kowad

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Potensi Maritim Pangkalpinang jadi Implementasi Peran Pemuda Sebagai Agent Of Change

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korupsi MBG, Kejagung Tetapkan Jenderal Aktif LMI Jadi Tersangka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HIMAIKA UBB Wujudkan Kepedulian Pesisir Melalui Program Bina Desa Berbasis Citizen Science di Desa Rajik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung, Gugat Kejagung Lewat Praperadilan, OC Kaligis Persoalkan Proses Penangkapan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mewujudkan Polisi Kelas Dunia: Menyambut Hari Bhayangkara Ke-80

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com