Tak Hanya Trimedya yang Kritik Ganjar

Kabariku- “Ganjar 8 tahun jadi Gubernur selain main di medsos apa kinerjanya?” kata Trimedya Panjaitan Wakil Ketua MKD DPR RI dalam keterangannya, Rabu, 1 Juni 2022.

Kritik tajam Trimedya yang demikian tentu tidaklah berlebihan. Trimedya bukan orang baru dikancah politik nasional.

Trimedya dikenal sebagai aktivis mahasiswa sejak 1986, dia juga aktif sebagai pendiri Yayasan PIJAR sejak 1987 hingga sekarang, Anggota Dewan Pendiri Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia (1996-1998), dan menjadi pendiri dan Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia (1997).

Namun demikian, tak hanya Trimedya Panjaitan yang bersuara keras terkait sepak terjang dan ambisi kepemimpinan Ganjar Pranowo.

Pada bulan Agustus 2022 nanti, tepat 9 tahun lamanya Ganjar Pranowo menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Pengamat komunikasi politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang sekaligus sebagai Direktur Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Mohammad Yulianto pernah menyampaikan pandangan akademisnya terhadap kepemimpinan Ganjar.

Yulianto menyoroti Government Resources Management System (GRMS), e-government yang diterapkan Pemprov Jateng.

Menurut Yulianto, justru berdampak negatif bagi Ganjar.

“Hal itu terlihat dari munculnya sikap sinis dan sarkastik dari netizen yang merespon ketidaksiapan jajaran Pemprov saat menyusun kebijakan maupun pelayanan publik dan pelaksanaan pembangunan yang masih sering menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat,” kata Yulianto. Jum’at (3/6/2022).

Pilihan kebijakan dalam mengelola manajemen Pemprov Jateng dengan  berbasis IT, ditengarai membentuk pola “Ganjar sentris” dan menjadi alat personal branding alias pencitraan pribadi.

Popularitas semu yang demikian tentu saja akan merugikan PDI Perjuangan dikemudian hari, terutama saat momentum elektoral 2024 tiba.

Tokoh PDI Perjuangan sepertinya juga sudah mencium aroma tak sedap di sekitar ambisi Ganjar tersebut.

Adalah Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang ‘Pacul’ Wuryanto yang sejak awal bersuara keras terutama kepada kader-kader banteng yang ‘mbalelo’ karena mendukung Ganjar untuk maju di Pilpres 2024.

“Adagium di PDI Perjuangan itu yang diluar barisan bukan banteng, itu namanya celeng. Jadi apapun alasan itu yang deklarasi, kalau diluar barisan, ya celeng,” kata Bambang Pacul.

Sementara itu, Puan Maharani juga ikut bersuara, “Pemimpin menurut saya, itu adalah pemimpin yang memang ada di lapangan dan bukan di sosmed”.

Kritik banyak orang tersebut tentu dengan alasan dan pertimbangan yang berbasis data. Tidak serampangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, menyebutkan adanya kenaikan garis kemiskinan di provinsi itu selama periode 2019-2021.

Jumlah penduduk miskin di Jateng meningkat tiap tahunnya. Pada 2019 jumlahnya 3.743,23 jiwa. Kemudian 2020 3.989,90 dan 2021 sudah tembus hingga 4.109,75 orang.

Pada Februari 2021, jumlah pengangguran pdi Jateng tercatat mencapai 1,19 juta orang, atau naik 6,26% dibanding pada Februari 2021 yang berada di angka 1,12 juta orang (mengutip Solopos.com, Pengangguran Jateng Capai 119 Juta Orang, 14/5/2022).

“Dengan sederet catatan negatif tersebut tentu dapat dipahami bahwa kritik Trimedya tidak sendirian,” tutup Yulianto.***

Red/K.103

Tinggalkan Balasan