• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Maret 16, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

In Memoriam Agus Edy Santoso: Agus, Wong Cilik, dan Muhammadiyah

Redaksi oleh Redaksi
12 Januari 2020
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Oleh: Syaefudin Simon

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

KABARIKU – Tiga orang berambut cepak dan berbadan sekel terus mengintai sebuah rumah di Pancoran Barat. Ketika Agus hendak “pulang” ke rumah Ahmadi Thaha, usai makan, tiga orang berambut cepak itu mencegat Agus.

RelatedPosts

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

Kasus Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Operasi False Flag

Siaga 1 dan Fenomena Politik Perkotaan

“Apakah kau mengenal saudara Agus Edy Santoso yang bersembunyi di rumah itu?,” kata salah seorang pria cepak itu menunjuk rumah Ahmadi Thaha.

“Tidak kenal Pak. Aku tidak tahu orang yang bernama Agus,” ujarnya.

Mendengar jawaban Agus, tiga orang berbadan sekel itu langsung pergi, entah kemana. Mungkin mereka menyebar di gang-gang sekitar Pancoran Barat, di sekitar rumah Ahmadi.

“Alhamdulillah Simon, aku selamat. Aku tahu tiga intel itu sedang mengincarku. Tapi mereka bodoh, tidak tahu wajah dan tubuhku secara detail. Ketika mereka menanyakanku – apa kenal Agus Edy Santoso – aku bohongi.” Wakakaka….Agus tertawa jika mengingat kejadian itu.

Tahun 1980-1990-an, Soeharto sangat berkuasa. Intel ada di mana-mana untuk menangkap tokoh dan mahasiswa aktivis pro demokrasi. Agus, mahasiswa STF Driyarkara Jakarta, salah satu di antaranya. Bersama Mulyana Wirahadikusuma, Marsilam Simanjuntak, dan aktivis prodemokrasi lain, Agus terus mengkritisi Soeharto. Tak hanya itu. Agus pun menggerakkan mahasiswa untuk menggalang perlawanan kepada Soeharto.

Akibat aktivitasnya, Agus dikejar intel. Ia bersembunyi di rumah Ahmadi Thaha – saat itu wartawan majalah Tempo – selama berhari-hari. Ahmadi memberi kamar rahasia untuk Agus dan menyiapkan “tempat pelarian darurat” kalau rumahnya digrebeg aparat.

Untungnya, aparat kurang jeli mengamati wajah Agus. Malah bertanya apakah kenal Agus kepada Agus sendiri. Lucu! Setelah ketahuan persembunyiannya, Agus pun pindah tempat. Entah kemana, untuk menghindari kejaran intel.

Baca Juga  Pj Bupati Garut Jangan Salah Langkah

Intel Orde Baru rupanya putus asa menangkap Agus. Suatu hari, Dr. Nurchlolish Madjid kedatangan tamu, Mendagri Jenderal Rudini. Rudini curhat kepada Cak Nur.

“Orang paling berbahaya di negeri ini Agus Edy Santoso Cak Nur? Dia seperti belut. Selalu bisa meloloskan diri dari kejaran aparat,” kata Rudini.

Cak Nur kaget, “Kenapa Rudini sampai bilang seperti itu? Bukankah Agus hanya aktivis HMI yang senang diskusi dan anggota Kelompok Studi Proklamasi?” batin Cak Nur.

“Pak Rudini, Agus itu tidak berbahaya. Aku kenal. Aku menjamin, Agus tidak membahayakan negara. Dia hanya aktivis HMI dan aktivis forum diskusi,” ujar Cak Nur.

Rudini pun terdiam. Jenderal Angkatan Darat itu gagal meyakinkan Cak Nur kalau Agus manusia berbahaya. Rudini pun pulang tanpa hasil. Cak Nur malah “membela” Agus.

Kemampuannya mengecoh intel mendapat apresiasi teman-teman aktivis. Maklumlah, saat itu, tembok dan angin pun menjadi intel Soeharto — kata Hermawan “Kiki” Sulistiyo, aktivis dan peneliti LIPI. Jarang orang sepinter Agus dalam menyamar.

Setelah Soeharto lengser, Agus yang selalu kritis, aktif di LSM yang peduli rakyat miskin. Bagi Agus, kemiskinan yang terjadi di Indonesia akibat korupsi dan konglomerasi yang tak terkendali. Agus mencoba menerobos dua jahanam itu. Dia malang melintang membina petani kecil di desa-desa terpencil di Jawa Tengah, NTB, Papua, dan lain-lain. Dia juga membimbing nelayan kecil untuk membesarkan lobster di Pantai Selatan Jawa dan membela wong cilik yang tergusur deru pembangunan.

“Simon, kemarin aku dapat kiriman lobster tiga kilo. Dari nelayan kecil binaanku di Sukabumi,” kata Agus pekan lalu di cafe Tji Liwung, Condet, miliknya. Agus memang tak pernah berhenti untuk menyuarakan suara orang miskin dan membangkitkannya agar mereka bisa hidup layak.

Baca Juga  Capt. Marcellus Hakeng : Kreasi Solutif PLN dalam Menyiasati Letak Geografis Indonesia yang Patut Diapreasiasi

Aku pernah sekamar di sebuah vila milik Gung Rai di Ubud, Bali, saat ulang tahun Studi Proklamasi dua tahun lalu. Semalaman, aku, Agus, dan Elsa Peldi Taher (pengusaha dan penulis buku Manusia Gerobak), berdiskusi tentang agama yang membebaskan.

“Agama dan negara sekarang jadi tiran. Aku tak percaya rejim. Rejim di Indonesia, siapa pun orangnya, hanya penghisap darah rakyat,” ujarnya. Aku mendengarkan keprihatiannnya. Sesekali aku mendebatnya.

“Bagaimana dengan rejim Jokowi?”

“Jokowi itu orang baik. Jujur. Tapi di sekelilingnya adalah orang-orang penghisap darah rakyat!”

“Aku punya harapan Gus kepada Jokowi. Bagiku Jokowi berbeda jauh dengan rejim-rejim sebelumnya. Lihat KPK yang hebat di rejim Jokowi,” sanggahku. Agus tetap tak bisa menerima alasanku menyukai Jokowi.

Agus bertanya kepadaku: “Mampukah Jokowi melepaskan diri dari konglomerasi jahat dan pejabat-pejabat korup?.”

Aku terdiam. Hanya senyum. Aku tahu, kalau Agus sudah bicara seperti itu, niscaya dia akan menelanjangi orang-orang sekeliling Jokowi. Kalau aku meladeninya, bisa tidak tidur semalaman.

Agus, memang, selalu melawan rejim, siapa pun. Karena baginya, rejim di Indonesia tak peduli keadilan dan kemanusiaan.

“Lalu, siapa yang kau kagumi di Indonesia ini Gus?,” sergahku.

“Aku mengagumi Pak AR Fachrudin!”

Ha? Kali ini aku terkejut. Bukankah Agus tidak pernah jadi aktivis Muhammadiyah? Lagi pula Agus dan teman-temannya adalah orang-orang liberal?

“Pak AR adalah pribadi panutanku. Sederhana, peduli orang miskin, tidak gila jabatan, dan membangun persaudaraan antarumat,” ungkap Agus.

Ternyata aku salah terka. Meski aku dekat dan sering mengobrol dengan Agus, aku tak tahu kalau Agus pernah jadi bendahara Lazis Muhammadiyah. Agus di ‘sana’ karena dia tahu, Muhammadiyah itu amanah dan peduli wong cilik.

Baca Juga  Corona dan Pelajaran dari Yuval Noah Harari, Catatan Garda Sembiring

Agus Edy Santoso – sering dipanggil teman-temannya Agus Lenon (karena dia penggemar penyanyi The Beatles, John Lennon ) kini telah meninggalkan kita semua. Sakit jantung yang menderanya, menyebabkan Agus menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta Jumat malam (10/01/2020).

Gus, air mataku meleleh jika mengenang kebersamaan denganmu. Aku rindu lecutan-lecutan pendapatmu yang mengobarkan perjuangan untuk membangun kemanusiaan. Selamat Jalan Gus. Para malaikat akan mencatatmu sebagai pecinta Allah nomor satu karena kau adalah pecinta manusia nomor satu! (*)

Syaefudin Simon : aktivis, politikus, dan penulis.

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Agus edy santosoSyaefudin Simon
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Tiga Warga Tangerang Tenggelam di Pantai Cijeruk Garut

Post Selanjutnya

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

RelatedPosts

Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

16 Maret 2026
Suara Ibu Indonesia dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas Kami Bersama Andrie di Boulevard UGM

Kasus Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Operasi False Flag

15 Maret 2026
Panglima TNI Tinjau Kesiapan Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer

Siaga 1 dan Fenomena Politik Perkotaan

12 Maret 2026

JK, Jangan Memancing di Air Keruh!

10 Maret 2026

Menimbang Ulang Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace dan Sinyamelan Anies Baswedan

7 Maret 2026
Alek Sianipar (Mahasiswa Doktoral FH Universitas Bhayangkara Jaya)

Strategi Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global: Antara BRICS, Diplomasi Perdamaian, dan Politik Bebas Aktif

5 Maret 2026
Post Selanjutnya
Tokoh Malari Hariman Siregar berpidato di pemakaman alm. Agus Edy Santoso. (*)

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

Hadar Nafis Gumay

Kasus Harun Masiku dengan Mulan Jameela, Mirip Tapi Tak Serupa

Discussion about this post

KabarTerbaru

dok KPK

KPK Sita Uang SGD78 Ribu dan Mobil Terkait Kasus Suap Impor di Bea Cukai

16 Maret 2026

Libur Nasional dan Cuti Bersama Lebaran 2026 Dimulai 20 Maret, Ini Jadwal Lengkapnya

16 Maret 2026
Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas meninggalkan Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Tanggapi Bantahan Yaqut, KPK: Suap Tak Harus Diterima Langsung oleh Pejabat

16 Maret 2026

Layanan 24 Jam, Posko Mudik Bangga Kencana Hadir Dampingi Keluarga Pemudik

16 Maret 2026
Pelepasan peserta Mudik Gratis Pegadaian 2026 di Jakarta Selatan, Senin (16/3/2026)

Mudik Gratis Pegadaian 2026, Kantor Wilayah Pegadaian IX Jakarta 2 Turut Berpartisipasi

16 Maret 2026
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

KPK Sita Rp1 Miliar dari Rumah Kadis PUPR Rejang Lebong

16 Maret 2026

Kekerasan terhadap Aktivis: Ujian bagi Negara dan Kekuasaan

16 Maret 2026
Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

16 Maret 2026

Geo Dipa Energi Terima Hibah di USTDA IPEM 2026, Kembangkan Ekstraksi Litium Panas Bumi

15 Maret 2026

Seskab Teddy Ungkap Momen Presiden Prabowo Bertemu Mantan Ajudan dan Pengawal

10 Maret 2026

Kabar Terpopuler

  • AMPPIBI Apresiasi Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Tetapkan Empat Tersangka Baru Korupsi Dana BOS Mts di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Longsor di Bungbulang Garut: Satu Meninggal, Akses Jalan Terputus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dasco dan Prasetyo Hadi Temui Habib Rizieq di Petamburan, Sampaikan Pesan Presiden Prabowo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JK, Jangan Memancing di Air Keruh!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Garut Tampung Aspirasi Warga Sukarame Terkait Pembebasan Lahan Tol Getaci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com