• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Januari 17, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

In Memoriam Agus Edy Santoso: Agus, Wong Cilik, dan Muhammadiyah

Redaksi oleh Redaksi
12 Januari 2020
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Oleh: Syaefudin Simon

Advertisement. Scroll to continue reading.

KABARIKU – Tiga orang berambut cepak dan berbadan sekel terus mengintai sebuah rumah di Pancoran Barat. Ketika Agus hendak “pulang” ke rumah Ahmadi Thaha, usai makan, tiga orang berambut cepak itu mencegat Agus.

RelatedPosts

Revitalisasi Wawasan Nusantara dalam Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Krisis Identitas Nasional di Era Globalisasi

Mencegah Politisasi Reformasi Polri

Aktualisasi Pesan Kapolri Idham Azis

“Apakah kau mengenal saudara Agus Edy Santoso yang bersembunyi di rumah itu?,” kata salah seorang pria cepak itu menunjuk rumah Ahmadi Thaha.

“Tidak kenal Pak. Aku tidak tahu orang yang bernama Agus,” ujarnya.

Mendengar jawaban Agus, tiga orang berbadan sekel itu langsung pergi, entah kemana. Mungkin mereka menyebar di gang-gang sekitar Pancoran Barat, di sekitar rumah Ahmadi.

“Alhamdulillah Simon, aku selamat. Aku tahu tiga intel itu sedang mengincarku. Tapi mereka bodoh, tidak tahu wajah dan tubuhku secara detail. Ketika mereka menanyakanku – apa kenal Agus Edy Santoso – aku bohongi.” Wakakaka….Agus tertawa jika mengingat kejadian itu.

Tahun 1980-1990-an, Soeharto sangat berkuasa. Intel ada di mana-mana untuk menangkap tokoh dan mahasiswa aktivis pro demokrasi. Agus, mahasiswa STF Driyarkara Jakarta, salah satu di antaranya. Bersama Mulyana Wirahadikusuma, Marsilam Simanjuntak, dan aktivis prodemokrasi lain, Agus terus mengkritisi Soeharto. Tak hanya itu. Agus pun menggerakkan mahasiswa untuk menggalang perlawanan kepada Soeharto.

Akibat aktivitasnya, Agus dikejar intel. Ia bersembunyi di rumah Ahmadi Thaha – saat itu wartawan majalah Tempo – selama berhari-hari. Ahmadi memberi kamar rahasia untuk Agus dan menyiapkan “tempat pelarian darurat” kalau rumahnya digrebeg aparat.

Untungnya, aparat kurang jeli mengamati wajah Agus. Malah bertanya apakah kenal Agus kepada Agus sendiri. Lucu! Setelah ketahuan persembunyiannya, Agus pun pindah tempat. Entah kemana, untuk menghindari kejaran intel.

Baca Juga  CPO, Migor dan Teriakan 'Saya Pancasila'

Intel Orde Baru rupanya putus asa menangkap Agus. Suatu hari, Dr. Nurchlolish Madjid kedatangan tamu, Mendagri Jenderal Rudini. Rudini curhat kepada Cak Nur.

“Orang paling berbahaya di negeri ini Agus Edy Santoso Cak Nur? Dia seperti belut. Selalu bisa meloloskan diri dari kejaran aparat,” kata Rudini.

Cak Nur kaget, “Kenapa Rudini sampai bilang seperti itu? Bukankah Agus hanya aktivis HMI yang senang diskusi dan anggota Kelompok Studi Proklamasi?” batin Cak Nur.

“Pak Rudini, Agus itu tidak berbahaya. Aku kenal. Aku menjamin, Agus tidak membahayakan negara. Dia hanya aktivis HMI dan aktivis forum diskusi,” ujar Cak Nur.

Rudini pun terdiam. Jenderal Angkatan Darat itu gagal meyakinkan Cak Nur kalau Agus manusia berbahaya. Rudini pun pulang tanpa hasil. Cak Nur malah “membela” Agus.

Kemampuannya mengecoh intel mendapat apresiasi teman-teman aktivis. Maklumlah, saat itu, tembok dan angin pun menjadi intel Soeharto — kata Hermawan “Kiki” Sulistiyo, aktivis dan peneliti LIPI. Jarang orang sepinter Agus dalam menyamar.

Setelah Soeharto lengser, Agus yang selalu kritis, aktif di LSM yang peduli rakyat miskin. Bagi Agus, kemiskinan yang terjadi di Indonesia akibat korupsi dan konglomerasi yang tak terkendali. Agus mencoba menerobos dua jahanam itu. Dia malang melintang membina petani kecil di desa-desa terpencil di Jawa Tengah, NTB, Papua, dan lain-lain. Dia juga membimbing nelayan kecil untuk membesarkan lobster di Pantai Selatan Jawa dan membela wong cilik yang tergusur deru pembangunan.

“Simon, kemarin aku dapat kiriman lobster tiga kilo. Dari nelayan kecil binaanku di Sukabumi,” kata Agus pekan lalu di cafe Tji Liwung, Condet, miliknya. Agus memang tak pernah berhenti untuk menyuarakan suara orang miskin dan membangkitkannya agar mereka bisa hidup layak.

Baca Juga  BBM Oplosan di SPBU Resmi: Tanggung Jawab Siapa?

Aku pernah sekamar di sebuah vila milik Gung Rai di Ubud, Bali, saat ulang tahun Studi Proklamasi dua tahun lalu. Semalaman, aku, Agus, dan Elsa Peldi Taher (pengusaha dan penulis buku Manusia Gerobak), berdiskusi tentang agama yang membebaskan.

“Agama dan negara sekarang jadi tiran. Aku tak percaya rejim. Rejim di Indonesia, siapa pun orangnya, hanya penghisap darah rakyat,” ujarnya. Aku mendengarkan keprihatiannnya. Sesekali aku mendebatnya.

“Bagaimana dengan rejim Jokowi?”

“Jokowi itu orang baik. Jujur. Tapi di sekelilingnya adalah orang-orang penghisap darah rakyat!”

“Aku punya harapan Gus kepada Jokowi. Bagiku Jokowi berbeda jauh dengan rejim-rejim sebelumnya. Lihat KPK yang hebat di rejim Jokowi,” sanggahku. Agus tetap tak bisa menerima alasanku menyukai Jokowi.

Agus bertanya kepadaku: “Mampukah Jokowi melepaskan diri dari konglomerasi jahat dan pejabat-pejabat korup?.”

Aku terdiam. Hanya senyum. Aku tahu, kalau Agus sudah bicara seperti itu, niscaya dia akan menelanjangi orang-orang sekeliling Jokowi. Kalau aku meladeninya, bisa tidak tidur semalaman.

Agus, memang, selalu melawan rejim, siapa pun. Karena baginya, rejim di Indonesia tak peduli keadilan dan kemanusiaan.

“Lalu, siapa yang kau kagumi di Indonesia ini Gus?,” sergahku.

“Aku mengagumi Pak AR Fachrudin!”

Ha? Kali ini aku terkejut. Bukankah Agus tidak pernah jadi aktivis Muhammadiyah? Lagi pula Agus dan teman-temannya adalah orang-orang liberal?

“Pak AR adalah pribadi panutanku. Sederhana, peduli orang miskin, tidak gila jabatan, dan membangun persaudaraan antarumat,” ungkap Agus.

Ternyata aku salah terka. Meski aku dekat dan sering mengobrol dengan Agus, aku tak tahu kalau Agus pernah jadi bendahara Lazis Muhammadiyah. Agus di ‘sana’ karena dia tahu, Muhammadiyah itu amanah dan peduli wong cilik.

Baca Juga  Sikap Santun DPRD Garut Atas Kritik Masyarakat Terhadap Bupati Garut, H. Rudi Gunawan

Agus Edy Santoso – sering dipanggil teman-temannya Agus Lenon (karena dia penggemar penyanyi The Beatles, John Lennon ) kini telah meninggalkan kita semua. Sakit jantung yang menderanya, menyebabkan Agus menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta Jumat malam (10/01/2020).

Gus, air mataku meleleh jika mengenang kebersamaan denganmu. Aku rindu lecutan-lecutan pendapatmu yang mengobarkan perjuangan untuk membangun kemanusiaan. Selamat Jalan Gus. Para malaikat akan mencatatmu sebagai pecinta Allah nomor satu karena kau adalah pecinta manusia nomor satu! (*)

Syaefudin Simon : aktivis, politikus, dan penulis.

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Agus edy santosoSyaefudin Simon
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Tiga Warga Tangerang Tenggelam di Pantai Cijeruk Garut

Post Selanjutnya

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

RelatedPosts

Revitalisasi Wawasan Nusantara dalam Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Krisis Identitas Nasional di Era Globalisasi

16 Januari 2026

Mencegah Politisasi Reformasi Polri

7 Januari 2026
Idham Azis kedua dari kanan (disamping Ahmad Dofiri) sesaat setelah Komisi Percepatan Reformasi Polri menggelar audiensi bersama sejumlah organisasi kelompok masyarakat di Lounge Adhi Pradana, STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Selasa (18/11)

Aktualisasi Pesan Kapolri Idham Azis

29 November 2025
ilustrasi

Coretax: Digitalisasi Pajak yang Dipaksakan?

28 November 2025

BBM Oplosan di SPBU Resmi: Tanggung Jawab Siapa?

24 November 2025

Pengalaman Saya, Lala Zhulaeha, Mengajar di SMA Terbuka Caringin

23 November 2025
Post Selanjutnya
Tokoh Malari Hariman Siregar berpidato di pemakaman alm. Agus Edy Santoso. (*)

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

Hadar Nafis Gumay

Kasus Harun Masiku dengan Mulan Jameela, Mirip Tapi Tak Serupa

Discussion about this post

KabarTerbaru

Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap dua warga negara asing (WNA) berinisial MK dan TKG terkait produksi 3 ribu vape isi liquid narkoba di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan

BNN Bongkar Produksi Vape Etomidate di Apartemen Sudirman, Omzet Capai Rp18 Miliar

16 Januari 2026

Polri Buka Pendaftaran SIPSS 2026 untuk Sarjana dan Diploma, Ini Syarat dan Formasinya

16 Januari 2026
Pendiri Haidar Alwi Institut (HAI), Haidar Alwi saat dimintai keterangan soal survei publik kepercayaan Polri. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku.com)

Survei HAI: Kepercayaan Publik terhadap Polri Masih Kuat

16 Januari 2026

Wamentrans Viva Yoga Dorong Industrialisasi Pakan Ternak di Kawasan Transmigrasi Mutiara

16 Januari 2026

Revitalisasi Wawasan Nusantara dalam Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Krisis Identitas Nasional di Era Globalisasi

16 Januari 2026
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam keterangan persnya menyampaikan bahwa Presiden menyoroti perubahan geopolitik dunia yang semakin signifikan sehingga setiap negara dituntut mampu berdiri mandiri dan memiliki daya bertahan yang kuat.

Taklimat Presiden 2026: Presiden Prabowo Dorong Kampus Jadi Lokomotif Kemandirian Nasional

16 Januari 2026
Presiden Prabowo Subianto mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat riset dan inovasi yang berorientasi pada pembangunan industri nasional dan peningkatan pendapatan negara dalam Taklimat Presiden Republik Indonesia dengan Rektor serta Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Tahun 2026 di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Presiden Prabowo Dorong Riset Kampus Jadi Mesin Hilirisasi dan Industri Nasional

16 Januari 2026
Nurbaeti menyerahkan paket MBG kepada penerima manfaat/IST

Menembus Jalan Terjal, Kader KB Desa Ciguha Antar Harapan Gizi untuk Ibu dan Anak

16 Januari 2026
Presiden Prabowo Subianto menggelar Taklimat Presiden Republik Indonesia dengan Rektor serta Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Tahun 2026, pada Kamis, 15 Januari 2026

Taklimat Presiden 2026, Prabowo Tekankan Peran Strategis Akademisi dan Kontribusi Nyata untuk Bangsa

15 Januari 2026

Kabar Terpopuler

  • Kepala BNN RI, Komjen. Pol. Suyudi Ario Seto, menerima audiensi Rektor Universitas Pancasila, Adnan Hamid, beserta jajaran pimpinan universitas di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).

    BNN-Universitas Pancasila Perkuat P4GN, Kepala BNN: Kampus Benteng Moral Berbasis Nilai Pancasila

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Unggahan Sandy Harun Mengguncang Publik: Tommy Soeharto Dikabarkan Menikah dengan Artis Ida Iasha

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Rekam Jejak Peraih Adhi Makayasa Irjen Rudi Darmoko di Penugasan Kapolda NTT

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polda Metro Limpahkan Berkas Roy Suryo Cs dalam Perkara Ijazah Jokowi ke Kejaksaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Bidik Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono di Kasus Bupati Bekasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku adalah media online yang menyajikan berita-berita dan informasi yang beragam serta mendalam. Kabariku hadir memberi manfaat lebih

Kabariku.com Terverifikasi Faktual Dewan Pers dan telah mendapatkan Sertifikat dengan nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com