• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Selasa, April 21, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

In Memoriam Agus Edy Santoso: Agus, Wong Cilik, dan Muhammadiyah

Redaksi oleh Redaksi
12 Januari 2020
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Oleh: Syaefudin Simon

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

KABARIKU – Tiga orang berambut cepak dan berbadan sekel terus mengintai sebuah rumah di Pancoran Barat. Ketika Agus hendak “pulang” ke rumah Ahmadi Thaha, usai makan, tiga orang berambut cepak itu mencegat Agus.

RelatedPosts

Reformasi Polri Melalui Pendekatan Improvement dan Developement Demi Mewujudkan Polisi Kelas Dunia

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

Siapapun Kabinetnya, Seskabnya Teddy

“Apakah kau mengenal saudara Agus Edy Santoso yang bersembunyi di rumah itu?,” kata salah seorang pria cepak itu menunjuk rumah Ahmadi Thaha.

“Tidak kenal Pak. Aku tidak tahu orang yang bernama Agus,” ujarnya.

Mendengar jawaban Agus, tiga orang berbadan sekel itu langsung pergi, entah kemana. Mungkin mereka menyebar di gang-gang sekitar Pancoran Barat, di sekitar rumah Ahmadi.

“Alhamdulillah Simon, aku selamat. Aku tahu tiga intel itu sedang mengincarku. Tapi mereka bodoh, tidak tahu wajah dan tubuhku secara detail. Ketika mereka menanyakanku – apa kenal Agus Edy Santoso – aku bohongi.” Wakakaka….Agus tertawa jika mengingat kejadian itu.

Tahun 1980-1990-an, Soeharto sangat berkuasa. Intel ada di mana-mana untuk menangkap tokoh dan mahasiswa aktivis pro demokrasi. Agus, mahasiswa STF Driyarkara Jakarta, salah satu di antaranya. Bersama Mulyana Wirahadikusuma, Marsilam Simanjuntak, dan aktivis prodemokrasi lain, Agus terus mengkritisi Soeharto. Tak hanya itu. Agus pun menggerakkan mahasiswa untuk menggalang perlawanan kepada Soeharto.

Akibat aktivitasnya, Agus dikejar intel. Ia bersembunyi di rumah Ahmadi Thaha – saat itu wartawan majalah Tempo – selama berhari-hari. Ahmadi memberi kamar rahasia untuk Agus dan menyiapkan “tempat pelarian darurat” kalau rumahnya digrebeg aparat.

Baca Juga  Koruptor Berlari, Hukum Tertatih

Untungnya, aparat kurang jeli mengamati wajah Agus. Malah bertanya apakah kenal Agus kepada Agus sendiri. Lucu! Setelah ketahuan persembunyiannya, Agus pun pindah tempat. Entah kemana, untuk menghindari kejaran intel.

Intel Orde Baru rupanya putus asa menangkap Agus. Suatu hari, Dr. Nurchlolish Madjid kedatangan tamu, Mendagri Jenderal Rudini. Rudini curhat kepada Cak Nur.

“Orang paling berbahaya di negeri ini Agus Edy Santoso Cak Nur? Dia seperti belut. Selalu bisa meloloskan diri dari kejaran aparat,” kata Rudini.

Cak Nur kaget, “Kenapa Rudini sampai bilang seperti itu? Bukankah Agus hanya aktivis HMI yang senang diskusi dan anggota Kelompok Studi Proklamasi?” batin Cak Nur.

“Pak Rudini, Agus itu tidak berbahaya. Aku kenal. Aku menjamin, Agus tidak membahayakan negara. Dia hanya aktivis HMI dan aktivis forum diskusi,” ujar Cak Nur.

Rudini pun terdiam. Jenderal Angkatan Darat itu gagal meyakinkan Cak Nur kalau Agus manusia berbahaya. Rudini pun pulang tanpa hasil. Cak Nur malah “membela” Agus.

Kemampuannya mengecoh intel mendapat apresiasi teman-teman aktivis. Maklumlah, saat itu, tembok dan angin pun menjadi intel Soeharto — kata Hermawan “Kiki” Sulistiyo, aktivis dan peneliti LIPI. Jarang orang sepinter Agus dalam menyamar.

Setelah Soeharto lengser, Agus yang selalu kritis, aktif di LSM yang peduli rakyat miskin. Bagi Agus, kemiskinan yang terjadi di Indonesia akibat korupsi dan konglomerasi yang tak terkendali. Agus mencoba menerobos dua jahanam itu. Dia malang melintang membina petani kecil di desa-desa terpencil di Jawa Tengah, NTB, Papua, dan lain-lain. Dia juga membimbing nelayan kecil untuk membesarkan lobster di Pantai Selatan Jawa dan membela wong cilik yang tergusur deru pembangunan.

Baca Juga  SIAGA '98 Berharap KPK RI Melakukan Pengawasan Sumber Pembiayaan Pembangunan IKN

“Simon, kemarin aku dapat kiriman lobster tiga kilo. Dari nelayan kecil binaanku di Sukabumi,” kata Agus pekan lalu di cafe Tji Liwung, Condet, miliknya. Agus memang tak pernah berhenti untuk menyuarakan suara orang miskin dan membangkitkannya agar mereka bisa hidup layak.

Aku pernah sekamar di sebuah vila milik Gung Rai di Ubud, Bali, saat ulang tahun Studi Proklamasi dua tahun lalu. Semalaman, aku, Agus, dan Elsa Peldi Taher (pengusaha dan penulis buku Manusia Gerobak), berdiskusi tentang agama yang membebaskan.

“Agama dan negara sekarang jadi tiran. Aku tak percaya rejim. Rejim di Indonesia, siapa pun orangnya, hanya penghisap darah rakyat,” ujarnya. Aku mendengarkan keprihatiannnya. Sesekali aku mendebatnya.

“Bagaimana dengan rejim Jokowi?”

“Jokowi itu orang baik. Jujur. Tapi di sekelilingnya adalah orang-orang penghisap darah rakyat!”

“Aku punya harapan Gus kepada Jokowi. Bagiku Jokowi berbeda jauh dengan rejim-rejim sebelumnya. Lihat KPK yang hebat di rejim Jokowi,” sanggahku. Agus tetap tak bisa menerima alasanku menyukai Jokowi.

Agus bertanya kepadaku: “Mampukah Jokowi melepaskan diri dari konglomerasi jahat dan pejabat-pejabat korup?.”

Aku terdiam. Hanya senyum. Aku tahu, kalau Agus sudah bicara seperti itu, niscaya dia akan menelanjangi orang-orang sekeliling Jokowi. Kalau aku meladeninya, bisa tidak tidur semalaman.

Agus, memang, selalu melawan rejim, siapa pun. Karena baginya, rejim di Indonesia tak peduli keadilan dan kemanusiaan.

“Lalu, siapa yang kau kagumi di Indonesia ini Gus?,” sergahku.

“Aku mengagumi Pak AR Fachrudin!”

Ha? Kali ini aku terkejut. Bukankah Agus tidak pernah jadi aktivis Muhammadiyah? Lagi pula Agus dan teman-temannya adalah orang-orang liberal?

“Pak AR adalah pribadi panutanku. Sederhana, peduli orang miskin, tidak gila jabatan, dan membangun persaudaraan antarumat,” ungkap Agus.

Baca Juga  Welcome Home MK

Ternyata aku salah terka. Meski aku dekat dan sering mengobrol dengan Agus, aku tak tahu kalau Agus pernah jadi bendahara Lazis Muhammadiyah. Agus di ‘sana’ karena dia tahu, Muhammadiyah itu amanah dan peduli wong cilik.

Agus Edy Santoso – sering dipanggil teman-temannya Agus Lenon (karena dia penggemar penyanyi The Beatles, John Lennon ) kini telah meninggalkan kita semua. Sakit jantung yang menderanya, menyebabkan Agus menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta Jumat malam (10/01/2020).

Gus, air mataku meleleh jika mengenang kebersamaan denganmu. Aku rindu lecutan-lecutan pendapatmu yang mengobarkan perjuangan untuk membangun kemanusiaan. Selamat Jalan Gus. Para malaikat akan mencatatmu sebagai pecinta Allah nomor satu karena kau adalah pecinta manusia nomor satu! (*)

Syaefudin Simon : aktivis, politikus, dan penulis.

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Agus edy santosoSyaefudin Simon
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Tiga Warga Tangerang Tenggelam di Pantai Cijeruk Garut

Post Selanjutnya

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

RelatedPosts

Reformasi Polri Melalui Pendekatan Improvement dan Developement Demi Mewujudkan Polisi Kelas Dunia

20 April 2026
Panas Bumi Area Kamojang - Kawah Kareta - dok Kabariku/Boelan

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026
foto dok. Teddy Friends

Siapapun Kabinetnya, Seskabnya Teddy

16 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026

Makar sebagai Struktur Cara Berpikir Saiful Mujani

11 April 2026
Ilustrasi

Membangun Solidaritas Negara Islam

3 April 2026
Post Selanjutnya
Tokoh Malari Hariman Siregar berpidato di pemakaman alm. Agus Edy Santoso. (*)

Pidato Tokoh Malari Hariman Siregar di Pemakaman Agus Edy Santoso

Hadar Nafis Gumay

Kasus Harun Masiku dengan Mulan Jameela, Mirip Tapi Tak Serupa

Discussion about this post

KabarTerbaru

Haidar Alwi soroti pentingnya emas rakyat sebagai kunci kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah tekanan sistem global.(Istimewa)

Haidar Alwi Soroti Pasal 33 UUD 1945: Emas Rakyat Jadi Kunci Kedaulatan di Tengah Geopolitik Global

21 April 2026
PHI Group raih dua penghargaan di Grand Honors 2026 dan kian agresif memperluas bisnis perhotelan.(Foto:Istimewa)

PHI Group Raih Dua Penghargaan di Grand Honors 2026, Perkuat Ekspansi Bisnis Perhotelan

21 April 2026

Baleg DPR dan Pemerintah Rampungkan RUU PPRT, Paripurna Digelar Hari Ini

21 April 2026

Seleksi JPT Pratama MPR RI 2026: Berikut Peserta Lolos Administrasi dan Jadwal Tahap Berikutnya

20 April 2026
Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda (Foto:Istimewa)

“Bahaya di Balik Kerja Sama RI-AS!” GMNI DKI Sebut RI Bisa Terseret Konflik hingga Jadi Basis Militer Asing

20 April 2026

Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog, Seskab Teddy: Pastikan Stok Pangan Aman dan Tepat Sasaran

20 April 2026

Reformasi Polri Melalui Pendekatan Improvement dan Developement Demi Mewujudkan Polisi Kelas Dunia

20 April 2026

Gabung Sekarang! PR Starwarriors FA Bandung Rekrut U6–18 Tanpa SPP Menuju Kompetisi Resmi

20 April 2026
Ketua KPK - Setyo Budiyanto

Ketua KPK Tekankan Peran DPRD dalam Membangun Sistem Antikorupsi Daerah

19 April 2026

Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog, Seskab Teddy: Pastikan Stok Pangan Aman dan Tepat Sasaran

20 April 2026

Kabar Terpopuler

  • Gabung Sekarang! PR Starwarriors FA Bandung Rekrut U6–18 Tanpa SPP Menuju Kompetisi Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Reformasi Polri Melalui Pendekatan Improvement dan Developement Demi Mewujudkan Polisi Kelas Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sikapi Pemberitaan, H. Haris Kalicman Tekankan Pentingnya Informasi Berimbang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Riungan Nasional Perkumpulan Aktivis ’98: Jangan Khianati Dasa Sila Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPR-Pemerintah Satu Sikap di MK: Anggaran MBG Konsekuensi Logis dalam Pos Pendidikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com