Trend Budaya Milenial. Direktur Eksekutif LeSPK: Jangan Sampai Gagal Cetak Pemimpin Melek Teknologi yang Berwawasan Global

Kabariku- Budaya Milenial menjadi trend kekinian, memang diakui banyak kreasi. Namun disisi lain menjadi ciri budaya pop, mudah dilupakan dan gampang dinikmati karena sifatnya instant.

“Nah, budaya millenial yang sekarang sebenarnya tak jauh beda. Berbasis teknologi memungkinkan kaum millenial untuk membuat banyak kreasi meskipun juga sangat mudah untuk dilupakan bahkan sebelum tersaji sudah tak mengundang selera,” kata  In’AM eL Mustofa. Sabtu (30/7/2022).

Tantangannya adalah, ujar In’Am, mampu kah struktur sosial mewadahi akan sebuah budaya yang sedemikian cepat berubah dan berganti?

Termasuk didalamnya adalah struktur politik, maka In’Am berharap, pekerjaan rumah Parpol adalah jangan sampai gagal memproduksi calon pemimpin mendatang yang melek teknologi dan wawasan global.

“Pengkaderan dengan pendekatan teknologi dan wawasan global sudah menjadi kebutuhan wajib para calon pemimpin bangsa,” jelas In’Am.

Menurut In’Am, Gagal dalam tersebut sama saja mengeliminasi era milenium.

“Dalam arti lain dalam kancah pergaulan internasional Indonesia dipastikan akan semakin tertinggal,” jelasnya.

Lebih jauh struktur sosial dan politik sebaiknya dibuat yang memungkinkan lahirnya produktivitas pengetahuan dan karya nyata.

Hal itu disampaikan In’AM eL Mustofa, Direktur Eksekutif LeSPK (Lembaga Studi Pendidikan dan Kebangsaan) Yogyakarta menanggapi bahasan Tren milinealiasi politik saat ini yang dikemukakan Pakar komunikasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad saat menjadi pembicara di webinar bertajuk “Struktur dan Kultur E-Democracy Indonesia”, beberapa waktu lalu.

Munculnya tren milenialisasi politik, dimana orang-orang yang tidak milenial bergaya dan menciptakan identitas milenial terjadi karena ikut-ikutan saja.

“Mileniasi politik yang terjadi itu latah,” ujar Nyarwi.

Menurutnya adanya trend tersebut menyiratkan bahwa kelompok milenial masih belum menjadi aktor utama dari demokrasi dan masih menjadi etalase politik belaka.

Namun Syarwi tidak memungkiri bahwa kaum milenial secara faktual banyak ikut berpartisipasi dalam demokrasi di media sosial hanya saja secara struktur belum terartikulasikan dengan baik.

“Jadi kulturnya sebenarnya ada, kuturnya itu sosial media, internet ini menyuburkan kultur berdemokrasi, karena apa yang tidak bisa dibicarakan di lembaga formal menjadi bahan diskusi,” kata Nyarwi seperti dilansir laman antaranews.com.

Untuk itu agar milenial lebih partisipatif dalam berdemokrasi melalui teknologi digital atau e-democracy, kata Nyarwi. Selain itu enurut Syarwi partai politik juga perlu mereformasi kultur kelembagaan politik, begitu pula dengan cara kerja dalam sistem demokrasi.

Nyarwi mengingatkan, e-democracy di masa mendatang tidak menjadi bencana, kalangan milenial sebagai penyangga demokrasi penting pula memiliki dan merawat gagasan besar keIndonesiaan.

“Di era media sosial momentum anak muda untuk tampil sebagai politisi, sebagai leader, api juga jangan tampil tanpa punya substansi ide tadi,” tutupnya.***

Red/K.101

Leave a Reply