Membaca Chairil di Bulan Reformasi

Chairil Anwar. (*)

Oleh: Marlin Dinamikanto

KABARIKU – Membaca Chairil Anwar di bulan Reformasi. Seperti sajak Karawang – Bekasi. Haru dan trenyuh. Terlebih apa yang kita perjuangkan 22 tahun silam. Semakin menjauh. Kekuasaan belum membawa adab yang kumau. Garong terus bermutasi ke generasi milenial – pandai bersekutu menggangsir uang negara dengan menginjak jutaan kepala pengangguran

Membaca Chairil Anwar di bulan reformasi. Terasa betul “gerimis mempercepat kelam.” Terlihat muram seperti Senja di Pelabuhan Kecil. Segala watak dan perilaku kerdil. Merampas semua harapan 22 tahun silam. Ketika kami berlawan beton kokoh yang akhirnya tumbang

Membaca Chairil Anwar di bulan Reformasi. Membayang Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Hendriawan Sie yang gugur pada 12 Mei. Reformasi ternyata hanya Kami. Bukan kita. Sebab yang ada hanya Kami dan Mereka.

“Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami”

Membaca Chairil Anwar di bulan Reformasi. Titik terang semakin menjauh. Dipagut gelap yang tiba-tiba datang dari dunia antah barantah. Tenun kebangsaan kalian robek. Dengan identitas yang memaksakan kehendak. Dan ketika kami terlunta. Kalian hanya pandai menjahit kata-kata.

Membaca Chairil Anwar di bulan Reformasi. Ada getar yang terasa getir. Bagi kami yang ikut menua. Bersama 22 tahun yang arahnya tidak lagi kami punya. Dan sesungguhnya reformasi itu sendiri yang mati muda.

“Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! “

Membaca Chairil Anwar di bulan reformasi. “Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda”. Ternyata itu hanya gurauan cita-cita. Sebab faktanya, “ini ruang, Gelanggang kami berperang”. Telah kalian cincang dengan mengusir kami yang terpenjara oleh cita-cita.

Membaca Chairi; Anwar di bulan Reformasi. Kadang menggugah jiwa yang tersiksa. Seperti 22 tahun silam. Tak perlu sedu sedan itu. Sebab “aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang”. Di hadapan kalian yang pandai bersumpah menuliskan prasasti di hamparan pasir

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Membaca Chairil Anwar di bulan reformasi. Setelah kami ikut menua. Tidak lagi seperti 22 tahun silam. Terasa betul bahwa “hidup hanya menunda kekalahan”. Dipaksa tutup mata melihat penggarongan yang luar biasa

“Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.”

Jakarta, 12 Mei 2020

Leave a Reply