Aktif Memberi Kabar

Gerakan Nasional Zero Droplet (GNZD), Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 di Indonesia

0 115

Oleh: Alimin Ginting (Pakar Geopark Kaldera Toba dan Ketua Badan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia-ADPPI)

KABARIKU – Covid-19 yang awalnya terjadi di Wuhan, China, telah menyebar dan menular secara global, sehingga sebagian besar negara di dunia sekarang ini telah mengalami pandemi.

Penyebaran virus ini cukup cepat dan sudah terjadi di sekitar 213 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, dalam waktu singkat, virus ini sudah menginfeksi ribuan warga.

Kita mengapresiasi perhatian dan tindakan pemerintah yang telah membuat berbagai kebijakan dan tindakan antisipasi dalam melindungi masyarakat agar terhindar dari penularan virus ini. Namun pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan kepanikan dunia internasional, sehingga perlu diatasi bersama, paling tidak melalui sumbangan pemikiran atau gagasan untuk mempertajam gerakan yang telah dilakukan pemerintah saat ini. Oleh karena itu, saya menggagas sebuah upaya sebagai sumbangsih pemikiran dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan nama Gerakan Nasional Zero Droplet atau GNZD.

*

Dalam Gerakan Nasional Zero Droplet (GNZD), yang dikelola adalah sisi hulu yang menjadi sumber dan penyebab dasar (root cause) penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, penanganan dengan mengaplikasikan GNZD akan berbeda dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh negara-negara lain yang terinfeksi Covid-19. Jika negara lain melakukan lockdown suatu wilayah sehingga manusia tak bisa bergerak ke luar, maka untuk memutus mata rantai Covid-19 dengan menggunakan GNZD, virusnya yang dilockdown, bukan wilayahnya atau manusianya.

GNZD juga berbeda dengan kebijakan Social Distance/Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hampir mirip dengan kebijakan lockdown, dalam kebijakan Social Distance dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pergerakan masyarakat/manusianya dibatasi. Masyarakat disarankan agar diam di rumah, menjalankan segala aktivitasnya di rumah. Hal ini untuk menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Sebaliknya, dalam GNZD, virusnya yang dibatasi geraknya atau dilockdown, sementara masyarakat bisa bebas beraktivitas.

Virus dan droplet

Para ahli sependapat bahwa media penyebaran virus corona adalah droplet, sebab di dropletlah virus corona hidup.

Droplet adalah cairan lendir basah yang keluar dari tubuh manusia ketika dia batuk atau bersin. Percikan droplet yang keluar dari mulut dan hidung orang yang terinfeksi corona bisa berukuran makro, berbutir kasar, terlihat oleh mata dan bisa juga berukuran mikroskopik, berukuran sangat kecil sampai sangat halus, tidak terlihat oleh mata.

Droplet makro dapat tersembur keluar dari mulut dan hidung manusia ketika batuk, berdahak, bersin, muntah atau cara lainnya. Sementara droplet berukuran mikroskopik dapat keluar melalui mulut dan hidung orang sedang bersin, batuk, bernafas, bicara, berteriak, atau sedang menyanyi. Droplet mikro ini akan terdispersi dan tersuspensi di udara dalam bentuk aerosol. Droplet yang berukuran makro dengan cepat jatuh ke permukaan bumi atau ke permukaan benda lain termasuk permukaan tubuh manusia karena masanya cukup berat.

Karena virus corona berasosiasi dengan droplet baik dalam ukuran makro maupun mikro, maka virus tersebut dapat menempel di mana-mana, baik di permukaan tubuh orang maupun pada permukaan benda – benda lain di sekitar kita.

Oleh karena itu, dalam GNZD, pengelolaan orang yang berpotensi mengeluarkan droplet dan pengelolaan droplet itu sendiri sangat penting untuk pemutusan mata rantai penyebaran virus corona (Covid-19).

Langkah GNZD

Untuk merealisasikan GNZD perlu dilakukan langkah-langkah tertentu dan diawali dengan melaksanakan sensus dan absensi kesehatan secara nasional.

Sensus dilakukan secara sederhana dan cukup dengan hanya melibatkan perangkat desa, RW atau RT. Akan tetapi, sensus ini harus dilaksanakan secara serentak di seluruh tempat.

Warga yang berpontensi mengeluarkan droplet, warga yang kurang sehat dengan gejala yang telah diuraikan oleh para ahli virus (demam tinggi, sesak napas, diare, muntah, sakit kepala, batuk kering, sakit tenggorokan, lelah, jari sakit, nyeri sendi dan nyeri badan) akan jadi perhatian utama dan menjadi target utama pendataan dalam sensus ini.

Seperti diuraikan, droplet yang keluar dari tubuh mereka yang dinyatakan kurang sehat berpontensi mengandung virus corona (Covid-19). Tapi dalam gerakan ini tidak perlu terlalu dihiraukan apakah droplet orang itu mengandung virus corona atau tidak, tapi siapa pun dalam katagori orang kurang sehat dengan gejala Covid-19, diwajibkan tidak membuang dropletnya sembarangan tempat.

Diharapkan dari kegiatan sensus dan absensi kesehatan ini adalah agar terdata dan dapat dikelompokkan antara orang kurang sehat, sesuai gejala Covid-19 dan orang sehat di sebuah desa/kelurahan seluruh Indonesia.

Jumlah desa di Indonesia sekitar 84,000 desa. Dengan jumlah itu kegiatan sensus ini diperkirakan dapat diselesaikan dalam hitungan hari dan bahkan dalam hitungan jam per-desa/kelurahan, karena dilakukan dengan methodology yang sangat sederhana. Warga desa tidak didatangi satu per satu dengan methodology pengecekan kesehatan sesuai standar medis. Cukup dengan cara melintas sambal bertanya kiri kanan di gang -gang atau jalan yang ada di desa/kelurahan tersebut. Karena tujuannya bukan penyembuhan, akan tetapi mencegah penyebaran

Kegiatan sensus, selanjutnya ditindaklanjuti dengan kegiatan absensi kesehatan secara nasional. Kegiatan absensi kesehatan tujuannya untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan orang kurang sehat di masing masing desa/kelurahan per-hari serta memantau kesehatan masyarakat setempat secara keseluruhan dan secara rutin. Data absensi akan menjadi dasar perencanaan program penanganan zero droplet.

Absensi dikerjakan secara rutin setiap hari agar dapat apakah ada penambahan atau pengurangan orang kurang sehat atau ada kasus lain terkait dengan virus corona di desa/kelurahan tersebut. Hal ini penting agar diambil tindakan terkait penanganan droplet.

Absensi kesehatan dapat diberlakukan juga untuk seluruh instasi pemerintah dan swasta, baik di pusat maupun di daerah, termasuk TNI-Polri seperti batalyon dan juga seluruh lapas/penjara padat penghuni, untuk mendeteksi secara dini setiap hari terkait orang kurang sehat dengan gejala Covid-19 yang berpotensi mengeluarkan droplet.

Sosialisasi

Setelah orang kurang sehat dan berpotensi mengeluarkan droplet terdata, langkah selanjutnya adalah dilakukan sosialisasi terhadap mereka. Materinya adalah tentang virus corona, gejala/tanda terinfeksi virus corona, droplet dan penyebaran serta penularan virus corona. Dengan materi itu diharapkan orang kurang sehat paham mengapa droplet perlu ditampung atau diamankan.

Kantong droplet dan masker

Setelah diberi sosialisasi, orang-orang kurang sehat kemudian diwajibkan mempunyai kantong droplet dan masker. Kantong droplet dimaksudkan untuk menampung droplet berukuran makro yang keluar dari mulut dan hidung. Kantong ini bisa berupa kantong plastik. Ke kantong itulah orang kurang sehat tersebut membuang dropletnya.

Harus dipastikan droplet tersebut semua tertampung dalam kantong, tidak ada yang terlepas dan terjatuh ke permukaan apa pun.

Ke mana saja berpergian, kantong penampung droplet harus dibawa agar semua droplet yang keluar dari mulut dan hidung tak terjatuh ke permukaan benda apa pun.

Sementara masker dimaksudkan untuk menghalangi micro-droplet yang keluar ketika orang sedang berbicara, bernafas, berteriak atau menyanyi. Orang kurang sehat diwajibkan mengenakan masker yang standar setiap saat, di manapun mereka berada.

Langkah- langkah selanjutnya, protokol pengelolaan droplet ketika warga ada di dalam rumah dan di luar rumah atau ketika berpergian, perlu dibuat dan dipahami masyarakat.

Ketika warga bersama anggota keluarga sedang berada di rumah, maka semua droplet yang keluar melalui mulut dan hidung anggota keluarga baik berukuran makro maupun mikroskopis harus ditampung. Sementara bagi anggota keluarga yang kurang sehat dengan gejala Covid-19, di rumah harus pakai masker setiap saat. Seperti diuraikan di atas, menggunakan masker penting untuk mencegah droplet keluar dari mulut dan hidung, terutama ukuran mikroskopis yang bisa terdispersi dan tersuspensi dalam bentuk aersol di udara. Droplet yang tersuspensi ke udara ini bisa saja menyentuh atau hinggap di anggota keluarga atau orang lain. Menurut para ahli, di udara virus corona dapat hidup selama 3 jam , maka virus tersebut dapat dibawa angin kemana – mana selama 3 jam.

Dan, ketika orang kurang sehat tersebut mau batuk atau bersin, buka masker dan batuk atau bersinlah di dalam kantong plastik yang aman, kemudian droplet yang tertampung dalam plastik dibakar atau disemprot disinfektan di tempat yang aman pula. Demikian juga anggota keluarga yang lainnya, ketika batuk, meludah, bersin dan lain sebagainya, dropletnya harus ditampung dalam plastik yang aman, lalu dibakar atau disemprot dengan disinfektan.

Droplet dapat juga keluar, terutama berukuran mikroskopis, dari orang terinfeksi tapi tidak menunjukan gejala atau tanpa gejala. Maka untuk mengatasi semua droplet dari berbagai macam kondisi orang, maka droplet tersebut harus ditampung dengan cara sedemikian rupa agar tidak ada yang terlepas ke sembarang tempat.

Misalnya, dengan memakai masker setiap saat dan kantong plastik penampung droplet selalu tersedia setiap saat. Bila situasi di rumah atau di kawasan itu sudah pulih kembali seperti biasa , maka warganya bebas kembali seperti biasa dan tidak perlu lagi mengikuti protokol penanganan droplet.

Kalau suatu kawasan sudah dianggap sebagai sumber penyebaran dan penularan virus corona, baik dalam sekala satu rumah maupun sekala propinsi, maka semua warga dalam kawasan itu, tanpa kecuali, harus pakai masker setiap saat. Hal ini untuk mencegah droplet jatuh ke permukaan benda lain dan mencegah droplet yang berukuran mikroskopis terdispersi ke udara, yang kemudian berbentuk aerosol.

Selain menggunakan masker, warga di kawasan itu pun harus menyiapkan kantong plastik penampung droplet. Kemudian droplet warga dari kawasan tersebut, dibakar atau disemprot dengan disinfektan di tempat yang aman untuk mematikan virus coronanya.

Manfaat

Manfaat Gerakan Nasional Zero Droplet yang diperoleh bila berhasil dilaksanakan di seluruh Indonesia secara serentak, terutama pada kantong-kantong penyebaran ataupun di epicenter penyebaran Virus Corona, yaitu;

Pertama, GNZD ditargetkan dapat memutus mata rantai penyebaran dan penularan Covid-19 secara total dan nasional, dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Karena virusnya di lockdown maka penyebaran dan penularannya juga dapat dibatasi, diputuskan, bahkan dihilangkan.

Kedua, mengurangi dan menghilangkan kepanikan dan stres di tengah masyarakat. Tak panik dan stress, diyakini bisa meningkatkan peran antibody dan imunitas masyarakat Indonesia secara nasional dalam rangka menangkal infeksi virus, mengingat anti virusnya belum tersedia.

Ketiga, telah terinventarisir dan terindentifikasi orang yang kurang sehat yang berpotensi mengeluarkan droplet, yang sedang mengalami sakit flu, batuk batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pusing-pening kepala dan sejenisnya, sehingga tindakan pengawasan dan bantuan pemerintah dapat difokuskan kepada mereka. Dengan demikian bantuan dan perhatian lebih tepat sasaran dan akurat.

Keempat, pemerintah atau pihak yang bertugas mengurusi dampak Covid-19, tidak sibuk lagi mengurusi orang sehat, tapi bisa fokus mengurusi orang yang tidak sehat.

Kelima, meringankan beban pemerintah dan gugus tugas lainnya karena tidak perlu memikirkan fasilitas kesehatan, obat obatan, serta perangkat kesehatan cukup besar untuk jutaan penduduk Indonesia. Hal ini terjadi karena yang diutamakan orang yang kurang sehat berdasarkan hasil sensus dan absensi kesehatan secara nasional yang diperoleh melalui Gerakan Nasional Zero Droplet ini.

Keenam, biaya yang dibutuhkan terjangkau sehingga pemerintah tidak terlalu disibukkan dengan kebijakan perubahan penggunaan anggaran dan keuangan yang sebelumnya telah ditetapkan dan ditempatkan pada cost center tertentu untuk pembangunan.
Ketujuh, orang yang sehat tidak perlu terlalu diurus dan dirumahkan (dicampur dengan orang yang kurang sehat). Mereka dapat bekerja sebagaimana biasanya sesuai dengan jam kerja untuk menjalankan roda perekonomian secara nasional. Dengan demikian, dampak ekonomi nasional bisa di-minimalisir, walaupun kondisi global akan berpengaruh terhadap ekonomi nasional Indonesia.

Kedelapan, di mata dunia internasional akan menguatkan keseriusan dan keberhasilan Indonesia dalam mengatasi penyebaran virus corona di negerinya sendiri dengan caranya sendiri dan berbeda dengan cara mereka.

Kesembilan, sudah tersedia protokol kesehatan masyarakat, mekanisme, ataupun standard operating procedure (SOP) kesehatan, bagi semua warga Indonesia baik di desa maupun di kota, terkait virus corona, yang bisa mereka ikuti.

Kesepuluh, penanganannya lebih terkendali, karena yang ditangani adalah akar permasalahannya (root cause) di sisi hulu, sebagai sumber penyebarannya dan diperkirakan dapat dihambat atau dihentikan dengan Gerakan Nasional Zero Droplet, bukan di sisi hilir yang sifatnya lebih komplek dan membutuhkan energi dan biaya lebih tinggi karena yang ditangani adalah korbannya yang tiap hari bertambah.

Kesebelas, diharapkan terjadinya kesetabilan sosial-politik dan sosial – ekonomi secara nasional serta manfaat manfaat lainnya.
Kedua belas, Gerakan Zero Droplet ini bisa dijadikan pertanggungjawaban keseriusan pemerintah terhadap kurang lebih 260 juta penduduk Indonesia terkait dengan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus corona sesuai standar teknis yang berlaku di Indonesia.

Ketiga belas, droplet yang berperan sebagai media penularan virus corona di nol-kan (zero) pada segala permukaan benda baik dalam rumah maupun di luar rumah, termasuk yang menempel di partikel partikel kecil di udara dalam bentuk aerosol, sehingga penyebaran virus corona dapat dihambat atau dihentikan.

*

Inti dari tulisan ini adalah yang dilockdown adalah virus coronanya bukan manusianya. Kalau manusianya yang dilockdown maka terlalu berat beban sosial-politik dan sosial ekonominya, dan terlalu besar pula beban finasial yang harus dipersiapkan dan ditanggung. Sperti diuraikan di atas, titik berat GNZD adalah penanganan pada bagian hulu management pandemic virus di Indonesia, bukan mengatasinya dari sisi medisnya (hilir).

Kita yakin kecerdasan kita cukup untuk menangani Covid-19 ini dengan baik sesuai dengan situasi dan kondisi kita, termasuk lokasi geografis yang memiliki banyak sinar matahari, apalagi musim kemarau/musim panas akan datang pada bulan berikut ini. Pada musim panas droplet yang keluar dari mulut dan hidung manusia cepat kering dan Covid-19 tidak dapat bertahan lama dalam kondisi kering. Oleh karena itu, musim kemarau dianggap dapat membantu memutus mata rantai penyebaran virus corona di Indonesia. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.