• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Juli 6, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Kabar Daerah

Garut 213 Tahun: Dewan Adat Ungkap Bukti Historis Baru Soal Nama dan Hari Jadi

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
18 Februari 2026
di Kabar Daerah
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Garut, Kabariku – Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan 16 Februari 1813 sebagai Hari Jadi Garut (HJG) berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 30 Tahun 2011.

Namun, di balik penetapan tersebut, sejarah HJG dan asal-usul nama Garut kembali menjadi perbincangan setelah muncul kajian terbaru dari Dewan Adat Kabupaten Garut (DAKG) yang mengungkap fakta berbeda dari versi resmi pemerintah daerah.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Perjalanan Penetapan Hari Jadi Garut

Tanggal 16 Februari 1813 merujuk pada momentum pembentukan kembali Kabupaten Limbangan oleh Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles, setelah sebelumnya dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1811.

RelatedPosts

Banyak Tak Lolos SPMB SMP Meski Domisili di Sekitar Sekolah Negeri Tujuan, Orang Tua Meradang

Emak Ipi Jubaedah, Janda Duafa Kehilangan Tempat Tinggal, Butuh Kepedulian Banyak Pihak

Meriah! Lomba Makan Durian Honda Babel di Pantai Desa Sebagin Dongkrak Ekonomi Petani

Dalam proses tersebut, Raffles juga memindahkan ibu kota Kabupaten Limbangan dari Limbangan ke wilayah Suci (kini Karangpawitan). Namun, lokasi itu dinilai tidak memiliki sumber air memadai.

Bupati Limbangan saat itu, RAA Adiwijaya, kemudian mencari lokasi baru dan menemukan mata air yang kini dikenal sebagai Ci Garut, yang berada di kawasan SMPN 1 Garut, Jalan Ahmad Yani.

Di sekitar sumber air itulah pusat pemerintahan baru dibangun, termasuk pendopo kabupaten dan kantor pemerintahan yang kini menjadi Kantor Bakorwil. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat Kota Garut.

Sebelum penetapan tahun 2011, tanggal HJG sempat berubah dua kali. Awalnya ditetapkan 17 Mei 1913, bertepatan dengan perubahan nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut.

Pada 1963, tanggal tersebut direvisi menjadi 15 September 1813 setelah ditemukannya prasasti pembangunan Jembatan Leuwidaun yang dianggap sebagai bagian dari persiapan pembangunan ibu kota baru.

Baca Juga  Program Magang Kemenaker RI Berlanjut, RS Medina Tampung Peserta Batch 3

Versi Lama: Garut dari Kata “Kakarut”

Selama ini, pemerintah daerah menyebut nama Garut berasal dari kata “kakarut” (tergores duri). Kisahnya, saat tim pencari lokasi ibu kota baru membersihkan area sekitar mata air yang dipenuhi semak berduri, seorang pekerja terluka.

Istilah “kakarut” yang diucapkan dalam bahasa Sunda disebut-sebut terdengar sebagai “gagarut” oleh orang Eropa yang turut serta dalam rombongan, lalu menjadi “Garut”.

Namun, kajian terbaru DAKG membantah narasi tersebut.

Kajian Baru: Nama Garut Sudah Ada Sebelum 1813

Ketua DAKG, Cepi Kusuma mengungkap, penelitian yang dipublikasikan dalam buku “Garut Bukan Kakarut” (2025) menunjukkan nama Garut telah eksis jauh sebelum 1813.

Menurutnya, peta kuno tahun 1641 yang ditemukan di situs budaya Ciela, Desa Ciela, Kecamatan Bayongbong, memperlihatkan adanya perkampungan besar di kawasan yang kini menjadi Kota Garut.

Wilayah itu berada di antara muara Sungai Ciwalen, Cipeujeuh, Cikamiri, Cipanawuan, dan Ciburuy yang seluruhnya bermuara ke Sungai Cimanuk.

Selain itu, peta wilayah Kerajaan Timbanganten tahun 1760 juga mencantumkan nama Garut di sekitar aliran Sungai Cimanuk.

Bahkan, peta pemerintah Hindia Belanda tahun 1809 telah menetapkan Garut sebagai ibu kota Distrik Pasanggrahan (kini Cilawu), bagian dari Kabupaten Limbangan.

Nama Garut juga tercantum dalam lampiran peta buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles yang terbit pada 1817, memperkuat dugaan bahwa nama tersebut telah dikenal sebelumnya.

Diduga Berasal dari Pohon Ki Garut

DAKG menduga nama Garut berasal dari pohon Ki Garut yang dahulu tumbuh lebat di kawasan tersebut. Rujukan ini ditemukan dalam buku Sejarah Bandung (1906) karya Raden Rangga Sastranagara yang menyebut wilayah pembukaan Kota Garut dipenuhi pohon Ki Garut.

Baca Juga  Kapolres Tangerang Selatan,AKBP Boy Jumalolo Anjangsana Ke Anggota Sakit Menahun di Pamulang

Penelusuran lanjutan mengaitkan Ki Garut dengan kayu gaharu. Dalam buku Nederduitscht-Maleissch en Soendaas Taalboek (1841) karya De Wilde dan Roorda, istilah “Garu” dalam bahasa Melayu diidentifikasi sebagai Ki Garut dalam bahasa Sunda, yang merujuk pada kayu beraroma (agelhout).

Peneliti Belanda Koorders dalam Bijdragen Tot De Kennis Der Boomsoorten Op Java (1890) menyebut dua jenis gaharu di Tanah Sunda, yakni Gaharu Kapas dan Gaharu Hideung, yang termasuk keluarga Aquilaria sp.

Saat itu, pohon tersebut dilaporkan sudah langka akibat eksploitasi besar-besaran karena nilainya yang tinggi.

Kelangkaan inilah yang diduga menyebabkan identitas pohon Ki Garut memudar dari ingatan kolektif masyarakat.

Menanggapi temuan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut, Beni Yoga Gunasantika, menyatakan pemerintah daerah akan melakukan kajian mendalam bersama akademisi.

“Kami akan menggelar FGD bersama para akademisi untuk menguji fakta-fakta ini,” kata Beni, Rabu (16/2/2026) di sela peringatan Hari Jadi Garut di DPRD Garut.

Ia menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap perkembangan kajian sejarah dan akan menyikapinya secara ilmiah.

“Sejarah itu dinamis, dan kami siap mengkajinya secara akademis bersama para ahli,” tandasnya.***

Baca juga :

Garut: Dari Duri Semak hingga Identitas Kolektif

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Dewan Adat Kabupaten GarutGarut 213 TahunGarut Bukan KakarutLetnan Gubernur Jenderal InggrisSejarah GarutThe History of JavaThomas Stamford Raffles
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Eks Menhub Budi Karya Sumadi Mangkir Dari Panggilan KPK di Kasus Dugaan Korupsi DJKA

Post Selanjutnya

Suap Hakim di Perkara Minyak CPO: Advokat Marcella Santoso Dituntut 17 Tahun Penjara

RelatedPosts

Banyak Tak Lolos SPMB SMP Meski Domisili di Sekitar Sekolah Negeri Tujuan, Orang Tua Meradang

6 Juli 2026

Emak Ipi Jubaedah, Janda Duafa Kehilangan Tempat Tinggal, Butuh Kepedulian Banyak Pihak

6 Juli 2026

Meriah! Lomba Makan Durian Honda Babel di Pantai Desa Sebagin Dongkrak Ekonomi Petani

5 Juli 2026

PSI Bangka Matangkan Kepengurusan, Budiyono: Jokowi Masuk Agenda Kunjungan ke Bangka Belitung

4 Juli 2026

Promosikan Produk UMKM, PT TIMAH Boyong Mitra Binaan ke Belitung Expo 2026

4 Juli 2026

FPN Bandung Raya Gelar Donor Darah sebagai Wujud Solidaritas Kemanusiaan untuk Palestina

4 Juli 2026
Post Selanjutnya
Advokat Marcella Santoso tengah menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (18/2). (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Suap Hakim di Perkara Minyak CPO: Advokat Marcella Santoso Dituntut 17 Tahun Penjara

Buka Forum DP3AKB, Sekda Tekankan Kepemimpinan Berbasis Nilai Siliwangi/IST

Sekda Jabar Ajak Perangkat Daerah Terapkan Filosofi Nerus Bumi hingga Napak Sancang

Discussion about this post

KabarTerbaru

Banyak Tak Lolos SPMB SMP Meski Domisili di Sekitar Sekolah Negeri Tujuan, Orang Tua Meradang

6 Juli 2026

Muhadjir: Penyelenggaraan Haji 2026 Catat Banyak Kemajuan

6 Juli 2026
Oplus_131072

Said Iqbal Akan Turun Langsung Selidiki Isu PHK di Tokopedia dan TikTok

6 Juli 2026

Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, Kemenhaj Pastikan Tidak Beratkan Jemaah

6 Juli 2026

Mendag Budi Santoso Raih Penghargaan Penggerak Transformasi Ekonomi Desa di detikBali-Nusra Awards 2026

6 Juli 2026
BPJT dan Roatex masih mematangkan skenario teknis sebelum uji coba MLFF. (Istimewa)

BPJT Matangkan Skenario Uji Coba MLFF, Lokasi dan Jadwal Masih Menunggu Kesiapan Teknis

6 Juli 2026

Emak Ipi Jubaedah, Janda Duafa Kehilangan Tempat Tinggal, Butuh Kepedulian Banyak Pihak

6 Juli 2026

Ribuan Warga Semarakkan Penutupan THF 2026, Bupati Riza: Festival Dorong Pariwisata dan UMKM Bangka Selatan

5 Juli 2026

Meriah! Lomba Makan Durian Honda Babel di Pantai Desa Sebagin Dongkrak Ekonomi Petani

5 Juli 2026

Istana Pastikan Program Tetap Berjalan, Latsarmil Koperasi Merah Putih Dievaluasi Usai Lima Peserta Meninggal

29 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Sidang TPPU, Mantan Pangdam IV/Diponegoro Diduga Belikan Alphard Rp1,6 Miliar untuk Eks Kowad

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Penugasan AKBP Syarif yang Tetap Mendampingi Jokowi: Antara Kebutuhan Pengamanan dan Persepsi Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Potensi Maritim Pangkalpinang jadi Implementasi Peran Pemuda Sebagai Agent Of Change

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korupsi MBG, Kejagung Tetapkan Jenderal Aktif LMI Jadi Tersangka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HIMAIKA UBB Wujudkan Kepedulian Pesisir Melalui Program Bina Desa Berbasis Citizen Science di Desa Rajik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com