Jakarta, Kabariku.com – Wasekretaris Jenderal Depinas SOKSI, Rouli Rajagukguk, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus yang sebelumnya mengkritik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Rouli menilai pernyataan Deddy yang disertai penyebutan julukan “bolu ketan” kepada Bahlil tidak mencerminkan etika komunikasi politik yang sehat. Menurut dia, kritik yang disampaikan seharusnya didasarkan pada data dan argumentasi, bukan serangan personal.
“Pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, yang menyerang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan tuduhan tanpa bukti dan menggunakan julukan merendahkan seperti ‘si bolu ketan’, adalah cermin nyata dari kegagalan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dalam mendidik kadernya,” kata Rouli dalam keterangan tertulis, Selasa (15/7/2026).
Rouli berpendapat penggunaan istilah tersebut oleh seorang pengurus partai politik tingkat pusat menunjukkan penurunan kualitas komunikasi politik di ruang publik.
“Penggunaan diksi seperti ‘bolu ketan’ oleh seorang pejabat tinggi partai selevel Ketua DPP PDIP adalah tanda degradasi etika kepemimpinan yang sangat memalukan. Ini bukan kritik substantif, melainkan pembunuhan karakter dengan cara merundung (bullying) secara pengecut,” ujarnya.
Menurut Rouli, perdebatan politik semestinya dibangun di atas fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia kemudian mempertanyakan pola pembinaan kader di tubuh PDIP di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.
“Saya mempertanyakan standar kepemimpinan dan komunikasi publik yang diajarkan oleh Megawati Soekarnoputri kepada kadernya. Kegagalan mendidik kader untuk berpolitik dengan basis data dan argumentasi, bukan makian dan asumsi, adalah bukti kemunduran PDIP,” katanya.
Dalam pernyataannya, Rouli juga menyinggung sejumlah kasus hukum yang pernah melibatkan kader PDIP. Ia menyebut partai tersebut perlu lebih dahulu melakukan evaluasi internal sebelum melontarkan tudingan kepada pihak lain.
“PDIP tidak memiliki kredibilitas moral untuk berkoar-koar menuntut pemeriksaan korupsi terhadap orang lain, sementara rumah mereka sendiri penuh dengan borok korupsi. Saya menantang Megawati, sebelum kadernya menunjuk hidung Menteri Bahlil, bersihkan dulu kader-kader Anda,” ucapnya.
Rouli turut menyinggung kasus buronan Harun Masiku yang hingga kini masih menjadi perhatian publik.
“Perlu saya ingatkan kembali, Megawati bukanlah pemimpin yang bersih-bersih amat, kasus Harun Masiku, kader PDIP yang buron dalam kasus suap komisaris KPU yang tak pernah bisa ditangkap. Di mana komitmen Megawati dalam memberantas korupsi saat kadernya sendiri menjadi simbol korupsi yang memalukan?” katanya.
Lebih lanjut, Rouli menilai respons Deddy merupakan bagian dari upaya membangun narasi politik yang mengalihkan perhatian publik dari persoalan internal partai.
“Tindakan Deddy Sitorus yang sangat reaktif ini adalah upaya pengecut untuk membangun narasi seolah-olah PDIP adalah pejuang korupsi, demi mengalihkan isu dari borok internal mereka sendiri,” ujarnya.
Menurut Rouli, masyarakat kini semakin kritis dalam menyikapi dinamika politik nasional.
“Publik sudah sangat cerdas dan tidak akan mudah terprovokasi oleh narasi serangan politik murahan dan pengecut dari PDIP. Serangan Deddy Sitorus hanyalah cermin borok internal PDIP yang mencoba menutupi kegagalannya sendiri dengan menunjuk-menunjuk orang lain. Di bawah kepemimpinan Megawati yang feodal, PDIP telah kehilangan marwah reformasi dan etik, dan hanya sibuk dengan politik dendam tanpa basis data dan solusi,” pungkasnya.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post