Natalius Pigai Meyakini Rusia akan Membangun Perdamaian Dunia

Jakarta, Kabariku- Presiden Jokowi beberapa waktu lalu menyampaikan, bahwa banyak sekali konflik terjadi di dunia yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan. Indonesia juga memahami bahwa Rusia memiliki pemikiran yang sama.

Oleh karena itu, Indonesia dan ASEAN berharap dapat melakukan kolaborasi untuk membangun prinsip-prinsip terbuka, transparan, dan inklusif; menghormati kedaulatan dan integritas negara lain; mengutamakan dialog dalam penyelesaian masalah; serta menghormati hukum internasional.

Natalius Pigai, Aktivis asal Papua meyakini bahwa Rusia akan membangun perdamaian dunia. Pasalnya, negara yang dipimpin oleh Vladimir Putin itu kerap mendapat kecaman dari banyak negara di dunia imbas invasi ke Ukraina.

Sebelumnya, Pigai meyakini bahwa Siberia yang merupakan daerah bagian dari Rusia juga memiliki kesamaan DNA dengan orang Papua. Hal itu berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan peneliti Universitas California bernama Richard Edward Green di Lembaga Eijkman.

Dalam akun media X pribadinya @NataliusPigai2, dia juga menampilkan capture berita detik.com yang berjudul “Riset: Jejak DNA Manusia Purba Siberia Ditemukan di DNA Orang Papua” yang berisikan ulasan penelitian tersebut.

I am Siberian (Rusian). it is truth in the line of science (red-Saya orang Siberia (Rusia). itu adalah kebenaran menurut ilmu pengetahuan),” kata Pigai. Selasa (02/07/2024) malam.

Kebanggaannya terhadap Rusia dan Papua itu membuat Pigai yakin bahwa negara beribukota Moskow tersebut akan membangun perdamaian dan keadilan bagi dunia.

I believe in one day Rusia build a new peace, love, justice in Ukraine & the planet (red-Saya percaya suatu hari Rusia akan membangun perdamaian, cinta, dan keadilan baru di Ukraina dan planet ini),” tambahnya.

Sebelumnya, Richard Edward Green menyatakan penemuan fosil manusia purba di Denisova, Daratan Siberia, Rusia menunjukkan kemajuan satu langkah dalam mencari mata rantai yang hilang dari proses evolusi manusia.

“Penelitian ini mencari hubungan yang belum ada antara manusia purba 400.000 tahun lalu atau yang dikenal Neanderthal dengan manusia modern di Afrika, Eropa, dan Papua. Tapi di Papua lebih cocok dengan fosil manusia purba di Denisova,” kata Richard di Lembaga Eijkman, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat pada 29 Oktober 2013 lalu.***

Red/K.101

Tinggalkan Balasan