Berbekal ‘Kunci’ dari Pesantren

oleh:
J. Anhar Rabi Hamsah Tis’ah, M. Pd

Kabariku Pesantren membekali “kunci” kepada santri untuk masa depannya. Pesantren tidak mewajibkan santrinya harus menjadi Ulama akan tetapi mewajibkan untuk menjadi Munzirul Qoum (penyeru umat) dengan kapasitas/profesi masing-masing.

Lulusan pesantren juga bisa menempatkan diri era disrupsi dan era society saat ini. Dapat dilihat dari banyak prestasi yang telah ditorehkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang secara tidak langsung telah mengharumkan nama bangsa Indonesia dan pesantrennya.

Lulusan pesantren itu kreatif dan imajinatif, tidak mustahil lulusan pesantren ada yang menjadi ilmuan, negarawan, seniman, politikus, pengusaha, bahkan pahlawan nasional dll.

Salah satu tokoh besar yang sangat berpengaruh pada masanya yaitu; Dr.(HC). KH. Idham Chalid, beliau merupakan alumni santri Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1943, beliau merupakan tokoh bangsa, tokoh agama, tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Bahkan KH. Idham Chalid merupakan Ketua Tanfidziyah Nahdatul Ulama terlama dalam sejarah NU dari periode 1956-1984. Beliau merupakan salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada masanya.

Selain pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesaia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kahinet Djuanda, Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.

Bahkan oleh Presiden Soeharto, ia dipercaya menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial Ad Interim dan Ketua DPA.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau dipecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 5.000,-.

Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewakili pemerintah di Istana Negara, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.

Dan masih banyak lagi tokoh bangsa lainnya yang merupakan jebolan pesantren. Kesemuanya didasari dari nilai-nilai jiwa kehidupan dari panca jiwa yang telah ditanamkan saat menimba ilmu di pesantren.

Panca Jiwa

Panca jiwa tersebut yaitu: Jiwa keikhlasan, Jiwa kesederhanaan, Jiwa beridikari/mandiri, Jiwa ukhuwah islamiah dan Jiwa kebebasan.

Jiwa Keikhlasan
Keikhlasan berarati tulus tanpa pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu.

Jiwa Kesederhanaan
Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan, jiwa kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Disinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter kuat yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.

Jiwa Berdikari
Menumbuhkan kesanggupan menolong diri sendiri (berdikari) menumbahkan kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekali oleh pesantren kepada para santri.

Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwah islamiyah. Ukhuwah ini bukan selama mereka di pondok saja, akan tetapi setelah mereka terjun nantinya di masyarakat.

Kebebasan
Kebebasan yang bertanggung jawab berarti bebas yang terukur yang terukur dan bertanggung jawab dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup dan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari dunia luar.

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “kunci” yaitu panca jiwa yang tertanam dalam tiap diri santri.***

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2022

Terima kasih Kyai dan seluruh asatidz/ah atas ilmu yang telah diberikan.
Sehat selalu dan berkah dunia akhirat,
Aamiin Allahumma Aamiin”.

Penulis adalah:
-Darul Hijrah 2008;
-Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Tangerang dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya;
-Mahasiswa S3 Universitas Negeri Jakarta;
-Penulis Buku (Kejahatan Berbahasa/Language Crime);
-Psikolinguistik Dalam Pembelajaran Bahasa;
-Saksi Ahli Bahasa (Linguistik Forensik);
-Anggota Komunitas Linguistik Forensik Indonesia (KLFI);
-Anggota Perkumpulan Ilmuan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI);
-Anggota Dosen Indonesia Semesta (DIS).

Red/K.101

BACA juga berita menarik seputar Pemilu KLIK disini

Tinggalkan Balasan