Sikapi Radikalisme dan Intoleransi, Pijar dan PPJNA 98 Konsolidasikan Aktivis di Jabar

Anto Kusumayuda dan Sulaiman Haikal berfoto bersama usai menggelar acara konsolidasi aktivis dan relawan di Jawa Barat. (*)

KABARIKU – Pusat Informasi dan Jaringan Aksi 98 (Pijar 98) bersama Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 (PPJNA 98) kini tengah mengkonsolidasikan kekuatan aktivis dan relawan pendukung Joko Widodo di Jawa Barat. Hal itu dilakukan untuk menyikapi perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama menguatnya radikalisme dan gerakan intoleransi.

“PIJAR 98 bersama PPJNA 98 tengah mengkonsolidasikan kekuatan aktivis dan relawan untuk menyikapi perkembangan akhir-akhir ini. Masalah menguatnya radikalisme dan intoleransi menjadi concern dari para aktivis terutama pasca kedatangan M. Rizik Sihab ke Indonesia,” kata Ketua Umum PIJAR 98 Sulaiman Haikal, Jumat (4/12/2020).

Sulaiman Haikal menandaskan, menguatnya aksi-aksi radikalisme tidak hanya mengganggu agenda-agenda mendesak pemerintah seperti penanggulangan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi rakyat yang tengah menderita, namun juga membahayakan keutuhan NKRI.

“Pelanggaran demi pelanggaran hukum dan tantangan terang-terangan kepada otoritas negara, jika terus dibiarkan bisa membahayakan persatuan sosial dan keutuhan NKRI,” katanya.

Oleh karena itu, Haikal meminta agar pemerintah segera mengambil langkah tegas memulihkan supremasi hukum dan mengembalikan kewibawaan negara.

“Kita akan susun poin-poin tuntutan bersama kawan-kawan aktivis 98 seluruh Indonesia sekaligus menyusun agenda aksi bersama melawan radikalisme dan intoleransi,” paparnya.

Sementara itu Ketum PPJNA 98 Anto Kusumayuda menambahkan, menguatnya radikalisme dan intoleransi di Indonesia, salah satu buktinya adalah kasus yang terjadi di Sigi.

“Kasus di Sigi membuktikan ancaman radikalisme dan intoleransi di depan mata. Belum lagi kelompok-kelompok yang menjual agama untuk kepentingan politik kekuasaan,” jelasnya.

Anto juga mengatakan, munculnya penceramah agama Islam yang menyebarkan caci maki dan kebencian merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia.

“Penceramah agama hanya bermodal mengaku keturunan Nabi dan menyebarkan kebencian dan caci maki justru merusak agama Islam,” papar mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah (IMM) Yogyakarta ini.

Menurut Anto, konsolidasi ini juga menyikapi adanya upaya pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan Presiden Jokowi di tengah jalan.

“Kita minta Presiden Jokowi bersikap tegas terhadap gerombolan yang ingin menjatuhkan pemerintahan,” paparnya.

Anto mengatakan, kegiatan konsolidasi aktivis dan relawan ini digelar atas inisiatif dari PPJNA 98 dan Ketua Umum Pijar 98 Sulaiman Haikal.

“Pengundang acara konsolidasi ini, PPJNA 98 dan Sulaiman Haikal dari Pijar 98,” jelasnya.

Ia menambahkan, konsolidasi aktivis 98 dan relawan Jokowi menggunakan protokol kesehatan Covid-19.

“Kita menggunakan protokol kesehatan, memakai masker, menyediakan tempat cuci tangan, jaga jarak,” pungkas Anto. (Has)

Leave a Reply