Febri Diansyah, dari Penghargaan Charta Politika hingga Jubir KPK

  • Bagikan

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah

KABARIKU – Laki-laki asal Padang, Sumatera Barat ini satu almamater dengan Presiden Joko Widodo: sama-sama jebolan Universitas Gajah Mada (UGM). Hanya saja beda fakultas. Joko Widodo jebolan Fakultas Teknik, sementara Febri Diansyah jebolan Fakultas Hukum (Jurusan Perdata).

Begitu lulus kuliah tahun 2007, ia langsung bergabung dengan ICW (Indonesia Corruption Watch) menjadi peneliti. Seperti diketahui, ICW merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mencurahkan perhatian pada kegiatan anti korupsi. Lembaga ini sangat sejalan dengan semangat Febri yang sejak kuliah sangat intens dengan kegiatan-kegiatan anti korupsi.

Sejak gabung dengan ICW-lah nama dan wajah Febri mulai dikenal. Pikiran-pikirannya yang tajam tentang korupsi dan persoalan hukumnya membuat Febri menjadi sosok aktivis anti korupsi yang sangat diperhitungkan.

Ia sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai seminar atau talkshaw tentang korupsi. Tulisan-tulisannya pun kerap menghiasi berbagai media nasional.

Pada Februari 2012, Febri dianugerahi penghargaan sebagai aktivis sekaligus pengamat politik paling berpengaruh pada tahun 2011. Penghargaan ini diberikan oleh lembaga riset politik Charta Politika Indonesia atas intensitas pernyataan Febri pada isu-isu korupsi.

Bagaimana reaksi Febri atas penghargaan tersebut?

Dalam sebuah kesempatan, dengan merendah laki-laki kelahiran 8 Februari 1983 ini menyatakan, merasa tak pantas mendapat anugerah sehebat itu.

Tahun 2013, ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka pendaftaran lewat program “Indonesia Memanggil”, Febri mendaftar untuk menjadi penyelidik di institusi itu. Semua tahapan telah berhasil ia lalui, sayangnya di sesi-sesi terakhir, pihak panitia seleksi menyatakan wajah Febri yang sudah dikenal oleh publik karena sering muncul di media massa, akan membayakan, terutama ketika KPK melakukan OTT atau operasi senyap. Maka gagallah Febri menjadi peneliti KPK.

Kendati demikian, ia diterima menjadi staf di bagian fungsional gratifikasi dan mengikuti proses seleksi untuk menjadi juru bicara. Febri akhirnya menggantikan Jubir KPK sebelumnya, Johan Budi, yang dipanggil Presiden Joko Widodo untuk bekerja di lingkungan kepresidenan.

Febri mengaku, bekerja di KPK memang sangat sibuk. Pergi kerja pagi hari dan pulang ke rumah sering hingga malam hari. Kendati demikian, ia tetap memberikan waktu untuk istri dan tiga putranya. Tak heran, Febri yang wajahnya tampak dingin saat berbicara di forum, setiap pagi meluangkan waktu mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Dan jika pada hari libur terutama Minggu, jika tak ada tugas khusus, semua waktunya ia berikan untuk keluarga. (Ref)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *