Direktur Eksekutif Indonesia Political Actions, Andrianto Menyebut ‘Alarm Partai Survey Kompas’

  • Bagikan

Kabariku- Para tokoh nasional sudah menyusun strategi dan membangun kekuatan menghadapi pertarungan pilpres 2024.

Andrianto SIP/Direktur Eksekutif IPA (Indonesia Political Actions) menyebut ‘Alarm Partai Survey Kompas’.

Dari potret Capres 10 besar ternyata hanya 2 Ketum Parpol selebihnya tidak ada. Seperti Partai besar PDI-P, GOLKAR, PKB , NASDEM, PKS, PPP, PAN.

“Kalo PDIP wajar Ketumnya pernah jadi Presiden. Tapi sang Putri Mahkota Puan Maharani tidak ada, yang muncul malah Ganjar dan Risma, dua figur diluar mainstream PDI-P,” kata Andrianto dalam tulisannya. Kamis (21/10/2021).

Andrianto menilai, Publik sudah faham keduanya sedang di orbit Jokowi yang di gadang gadang bakal di restuinya.

Hal tersebut menanggapi survey di salah satu media nasioanal berjudul;Adu Strategi Menuju 2024 Bakal Kian Kencang’.

Nama-nama calon presiden pilihan masyarakat dengan elektabilitas teratas belum banyak berubah. Parpol dan individu diyakini akan makin beradu strategi untuk menaikkan elektabilitas.

Disebutkan, partai politik yang akan mengusung kadernya sebagai calon presiden dan individu yang ingin mencalonkan diri di Pemilihan Presiden 2024 akan bergerak lebih ‘kencang’ pada 2022 sebagai bagian dari strategi menuju 2024.

Dikatakan Andrianto, Ketum P Gokkar Airlangga yg sudah tebar ribuan Baliho tidak muncul di ‘Survey Kompas’.

“Sangat mungkin karna posisinya yang Menteri tidak lazim pasang baliho apalagii bila kinerjanya payah malah jadi Bumerang, Rakyat makin sebel,” ujarnya.

Di sisi lain, karena sebagian nama yang dianggap berpotensi mencalonkan diri menduduki jabatan di pemerintahan, perlu kesadaran menjaga efektivitas pemerintahan. Para pemilih diyakini akan melihat rekam jejak dan kinerja mereka sebelum menentukan pilihan.

“Yang di maui itu perbaikan ekonomi bukan Wajahnya yang elitis tidak ngerakyat,” tandasnya.

Dijelaskan Andrianto, Apalagi Airlangga lekang dengan Panama  Papers & terakir Pandora Papers. “Akibatnya kelas menengah jadi skeptis, Gimana mau jadi pemimpin bila integritasnya seperti itu,” katanya.

Kalau di Jepang, jelas Andrianto, yang miliki standar tinggi tentu sdah malu dan berhenti sebagai Menteri.
“Belakanganpun kerja kerjanya disabot LBP & SMI. Makin tidak jelas apa kerjanya sebagai Menko ekonomi,” cetusnya.

Direktur Eksekutif IPA ini berharap, Partai Golkar mesti Evaluasi total figur Airlangga bila tidak mau berpuasa lebih lama lagi?

“Sejak era Reformasi tidak ada lagi figur Capres Golkar yang laku di mata publik,” tegasnya.

Bahkan JK, menurut Andrianto, yang 2x jadi Wapres justru tidak didukung oleh Golkar saat kontestasi Pilpres.

“Kalau PKB jika masih Cak Imin tetap posisinya sebagai supporting saja Pilpres, sosoknya tidak menjual dengan rekam jejak khianat sama Gus Dur,” tandasnya.

Kemudian, kasus Korupsinya di KPK ‘kardus durian gate’. Nasdem nampaknya memang didesign sebagai kendaran para Capres.
“Kalau argo cocok silahkan asal Sang Pemilik yang juga Ketumnya juga cocok,” ujar Andrianto.

Andrianto juga menyampaikan, PKS juga kering dengan figur potensial agak mirip dengan Nasdem.
“Jadi parpol sebagai Aksentuasi keinginan publik memang jauh panggang dari Api”.

Menurut penilaian Andrianto, akan muncul figur sosok tokoh di luar Parpol yang bakal dapat simpati publik.
“Ada titik jenuh dengan Rezim Jokowi yang gagal dalam semua bidang”.

“Jadi sosok yang diluar epicentrum Jokowi yang berpeluang besar menang di pilpres 2024,” tandasnya memungkas. ***

Red/K.000
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *