Korea, Kabariku – Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Republik Korea pada Rabu (1/4/2026) tak hanya diisi agenda resmi, tetapi juga diwarnai momen hangat yang mencerminkan pendekatan diplomasi personal antar pemimpin. Sejumlah hadiah khas Indonesia hingga kejutan unik menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan, pendekatan yang dilakukan Presiden Prabowo tidak semata formalitas diplomatik, melainkan juga menyentuh sisi hubungan personal yang lebih mendalam.
“Diplomasi tidak hanya sekadar rapat dan agenda resmi, tetapi bagaimana hubungan personal antar pemimpin dapat terjalin dan membekas baik di hati,” ujar Seskab Teddy dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (4/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menyerahkan berbagai kerajinan unggulan dari pelaku UMKM Indonesia, diantaranya keris Bali dan guci keramik khas Jawa Timur.
Pemberian tersebut dinilai sebagai bagian dari diplomasi budaya sekaligus upaya memperkenalkan produk ekonomi kreatif Tanah Air ke panggung internasional.
Namun, perhatian publik tertuju pada kejutan yang diberikan Kepala Negara kepada Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung.
Presiden Prabowo menghadiahkan pakaian khusus untuk anjing peliharaan Presiden Lee.
“Presiden Prabowo juga memberikan kejutan berupa hadiah baju untuk anjing peliharaan Presiden Lee,” ungkap Seskab Teddy.
Momen tersebut semakin menarik karena adanya kesamaan nama hewan peliharaan kedua pemimpin. Anjing milik Presiden Lee diketahui bernama Bobby, sama seperti nama kucing peliharaan Presiden Prabowo.
“Plot twist-nya anjing peliharaan Presiden Lee ternyata bernama Bobby juga! Kekuatan diplomasi anabul memang nggak ada tandingannya, ya?” kata Seskab Teddy.
Menurut Seskab Teddy, sentuhan personal seperti ini menjadi bagian dari diplomasi modern yang mampu membangun kedekatan emosional antar pemimpin negara.
Pendekatan humanis tersebut dinilai memperkuat fondasi hubungan bilateral Indonesia dan Republik Korea di tengah dinamika global yang terus berkembang.
“Dalam suasana global yang semakin dinamis, diplomasi yang hangat, cair, dan membumi seperti ini justru menjadi kekuatan baru yang menghubungkan negara bukan hanya lewat kepentingan, tetapi juga lewat rasa,” pungkas Seskab Teddy.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post