Garut, Kabariku – Ramadhan selalu menghadirkan momen yang istimewa, ketika orang-orang memperlambat langkah, duduk bersama, dan membuka ruang percakapan yang sering kali tak sempat terjadi di hari-hari biasa.
Dalam semangat itulah Gerakan Mahasiswa–Rakyat untuk Demokrasi (GAMRUD) merencanakan sebuah pertemuan sederhana namun bermakna melalui acara buka bersama.
Kegiatan akan digelar sore ini, Jumat, 6 Februari 2026, di Bale Tingtrim, Pujasega Resto, Garut, dengan waktu berkumpul mulai pukul 16.30 WIB.
Momentum ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi sekaligus ruang bertukar pikiran antara mahasiswa, aktivis, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan demokrasi.
Koordinator acara, Aris Kharisma, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan suasana yang hangat dan terbuka, agar setiap orang bisa berbagi pandangan tanpa sekat.
“Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Orang lebih terbuka untuk bertemu dan berdialog. Kami ingin memanfaatkan momentum itu untuk mempertemukan mahasiswa dan masyarakat dalam ruang yang cair, tapi tetap bermakna,” ujar Aris.
Menurutnya, pertemuan sederhana seperti buka bersama justru sering menjadi titik awal lahirnya gagasan dan kerja sama baru dalam gerakan sosial.
Hal serupa disampaikan Hasanuddin, salah satu peserta yang menilai kegiatan seperti ini penting untuk menjaga hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.
“Kadang kita terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Momentum seperti Ramadhan ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk kembali bertemu, saling bertukar pikiran, dan menguatkan rasa kebersamaan,” katanya.
Sementara itu, Andi Affandi melihat kegiatan ini sebagai ruang refleksi yang penting di tengah dinamika kehidupan demokrasi yang terus berubah.
“Demokrasi bukan hanya soal politik formal. Ia juga hidup dalam ruang-ruang pertemuan masyarakat, dalam diskusi, dalam kebersamaan seperti ini,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Uwen Sugianto. Ia menilai bahwa hubungan antara mahasiswa dan masyarakat harus terus dirawat agar gerakan sosial tidak kehilangan akar.
“Mahasiswa sering dianggap sebagai motor perubahan. Tapi perubahan itu hanya bisa terjadi jika mahasiswa tetap dekat dengan masyarakat,” kata Uwen.
Bagi Asep Saeful Millah, kegiatan seperti ini juga menjadi ruang untuk memunculkan ide-ide baru yang mungkin tidak muncul dalam forum resmi.
“Obrolan santai sering kali justru melahirkan gagasan besar. Yang penting ada ruang untuk bertemu dan berdiskusi secara terbuka,” ujarnya.
Sementara itu, Lulu Gandhi menekankan bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menyatukan kembali dimensi spiritual dan tanggung jawab sosial.
“Ramadhan mengajarkan empati dan kepedulian. Nilai itu juga penting dalam kehidupan demokrasi. Kita belajar untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga kepentingan bersama,” katanya.
Melalui kegiatan ini, GAMRUD berharap dapat menghadirkan ruang perjumpaan yang sederhana namun bermakna—tempat di mana mahasiswa dan rakyat bisa kembali saling mendengar, berbagi gagasan, dan memperkuat solidaritas.
Sebab dalam banyak pengalaman sejarah, perubahan sering kali berawal dari pertemuan kecil yang dipenuhi percakapan jujur dan semangat kebersamaan. Dari ruang-ruang sederhana seperti itulah harapan tentang masa depan yang lebih adil terus dirawat.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

















Discussion about this post