• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Kamis, Januari 29, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home News

IRESS Ungkap 7 Aspek Menuju UU EBET Konstitusional dan Pro Rakyat

Redaksi oleh Redaksi
15 Desember 2022
di News
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku- Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) telah masuk prolegnas sejak 2019 menjadi RUU prioritas pada 2020, 2021 dan 2022. Ternyata draft RUU EBET baru disampaikan DPR kepada Pemerintah 14 Juni 2022.

Pemerintah baru memberi pandangan, termasuk draft Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) atas draft RUU EBET pada Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR dan DPD RI, 29 November 2022 lalu.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Hingga saat ini, DIM final masih belum disampaikan kepada DPR. Tampaknya, RUU EBET tidak akan dapat ditetapkan pada 2022 ini, dan kembali menjadi RUU prioritas pada 2023”.

RelatedPosts

Sayuti Abubakar, Wali Kota Lhokseumawe Nahkodai Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila

Komisi Yudisial Terima 2.649 Aduan Publik dan Usulkan Sanksi Etik 124 Hakim di 2025

Raih WTP ke-18, Indeks Kinerja Komisi Yudisial 2025 Nyaris Sempurna

Demikian pendapat Marwan Batubara, selaku Direktur IRESS dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (14/12/2022).

Menurut Marwan, RUU EBET terdiri dari 14 Bab dan 42 Pasal yang meliputi transisi energi dan peta jalan, sumber EBET, nuklir, perizinan berusaha, penelitian dan pengembangan, harga EBET, dukungan Pemerintah, dana EBET, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pembagian kewenangan, pembinaan dan pengawasan, serta partisipasi masyarakat.

Beberapa aspek dan pokok substansi bahasan yang dicermati agar ketentuan UU EBET kelak konsisten dengan konstitusi dan sesuai kepentingan negara dan rakyat.

Pertama, RUU EBET harus bebas dari motif dan kepentingan sempit dan merugikan, termasuk dari para penumpang gelap.

“Semula RUU yang menjadi inisiatif DPD RI pada 2018 ini, dinamakan RUU ET (energi terbarukan). Maka mestinya konsisten dipertahankan,” ungkap Marwan,

Kedua, sejalan dengan hal diatas, Marwanmenjelaskan, RUU EBET harus menghilangkan ketentuan terkait dengan energi baru, terutama yang masih mengakomodasi penggunaan energi fosil.

Ketentuan terkait program gasifikasi batubara (DME) pada dasarnya tidak layak ekonomi, namun coba diselundupkan.

Baca Juga  Spirit Ke-Yasa-Anggana-an Pembelajaran Berkarakter Sebagai Generasi Unggul dan Berkualitas

“Patut diduga sebelumnya, program DME telah digunakan (sebagai teaser) untuk memperoleh perpanjangan PKP2B menjadi IUP (dalam revisi UU Minerba No.4/2009) dan ke depan digunakan untuk mengamankan kepentingan bisnis dan menjaga harga saham,” paparnya.

Disamping itu, proses gasifikasi batubara justru menghasilkan net emisi GRK lebih besar. Sehingga, program tersebut tidak konsisten dengan target penurunan GRK, yakni mengurangi emisi CO2/GRK.

“Tapi yang dilakukan justru sebaliknya, jika tetap ingin diatur, maka langkah paling tepat adalah merevisi UU Minerba dan UU Migas juga yang harus diwaspadai adanya upaya penyelundupan ketentuan untuk menghapus kewajiban DMO batubara (volume dan harga),” katanya.

Ketiga, pemuatan ketentuan tentang pembangkit nuklir, menurutnya harus dihilangkan, terutama karena Indonesia telah membentuk UU Ketenaganukliran No.10/1997.

“Selain itu, terlepas perlunya diversifikasi, praktis PLTN tidak prioritas dan masih lama untuk dibangun. Tersedia beragam alternatif energi terbarukan seperti panas bumi, air dan tenaga surya yang semakin murah. Negara dan rakyat tidak boleh kalah oleh agenda dan promotor pembangkit PLTN,” imbuhnya. 

Keempat, meskipun disebutkan telah dihapus dalam pokok bahasan, rakyat harus waspada dan tetap menolak dimasukkannya ketentuan tentang skema power wheeling, pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik PLN oleh IPP. 

Skema power wheeling akan memberi jalan kepada IPP mengambil porsi bisnis PLN (pelanggan premium), mengurangi kemampuan cross-subsidi antar wilayah, mensubsidi IPP dan menambah cadangan.

“Prinsipnya, skema ini hanya akan menguntungkan para investor/IPP, atas nama dan alasan absurd, namun di sisi lain akan sangat merugikan negara (APBN), BUMN (PLN) dan juga rakyat konsumen listrik,” beber dia.

Kelima, ketentuan terkait transisi dan peta jalan pengembangan energi harus dirumuskan lebih komprehensif, dan dielaborasi secara lengkap dan mendalam.

“Rumusan yang dangkal dan formalitas akan membuka peluang terjadinya moral hazard yang merugikan negara, BUMN dan pelanggan listrik,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjut dia, terminasi dini sekitar 30-an PLTU (kapasitas sekitar 17GW) tidak boleh dilakukan beraalasan mitigasi perubahan iklim, sepanjang PLTU-PLTU masih layak ekonomi.

Baca Juga  ALDERA di Universitas Udayana, Pius Lustrilanang: “Mahasiswa Harus Bersikap Kritis dan Terus Jaga Reformasi"

Tingkat emisi GRK Indonesia relatif lebih rendah dibanding negara lain, sementara kompensasi dari negara untuk termiansi PLTU tersebut akan memberatkan APBN.

Keenam, perlu tambahan ketentuan/substansi terkait riset dan inovasi pengembangan teknologi EBET, terutama pengembangan industri dan produksi solar PV nasional bagi pembangunan PLTS secara massif kedepan,” katanya.

Sejalan dengan biaya (levelized cost of energy, LCOE) PLTS global yang terus turun, potensi tenaga surya yang melimpah harus dimanfaatkan guna mendukung kedaulatan, ketahanan dan kemandirian energi, sekaligus mengurangi impor komponen utama PLTS dan objek pasar produk asing.

Kebijakan industri PLTS/solar PV ini harus sejalan dan terintegrasi dengan kebijakan dan ketentuan tentang TKDN.

“Upaya strategis ini sudah dirintis oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan era Presiden SBY melalui pembentukan BUMN khusus, namun tampaknya diterminasi oleh kepentingan pro oligarki dan China. Menteri Perindustrian perlu masuk ke dalam Tim RUU EBT Pemerintah,” paparnya.

Ketujuh, upaya meningkatnya liberalisasi sektor listrik nasional harus dicegah, terutama dengan memberi kesempatan kepada swasta/IPP membangun pembangkit EBT dan menjual listrik kepada masyarakat, terutama konsumen premium dan kawasan industri.

Salah satu contoh fatal adalah memberikan kesempatan kepada swasta oligarkis dan China membangun PLTA (potensi 10.000MW) sepanjang sungai Kayan di Kaltim.

“Kebijakan yang menihilkan kesempatan BUMN ini jelas mengkhianati Pasal 33 UUD 1945, serta menghilangkan NKRI dan rakyat menikmati listrik yang murah dan bersih,” tukas Marwan.

Ditegaskannya, Hingga saat ini secara formil proses pembentukan UU EBET sudah bermasalah. Draft RUU EBET disampaikan ke Pemerintah Juni 2022.

Namun DIM RUU yang seharusnya diserahkan dalam waktu 60 hari (Pasal 49 UU P3 No.13/2022), hingga saat ini belum juga dilakukan pemerintah.

Tampaknya dugaan moral hazard dalam pembahasan UU Minerba No.3/2020 dan UU IKN No.3/2022 akan kembali terulang: melanggar ketentuan UU P3 No.13/2022, partisipasi publik minimal/dihambat, substansi ketentuan dangkal dan tidak esensial.

Baca Juga  Kekayaan Tak Wajar RAT. SIAGA 98 Sebut Pahala Nainggolan, Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Sudah Tak Kompeten

“Karena dilimpahkan ke pemerintah melalui penerbitan PP, Perpres, dll. Waktu pembahasan sangat singkat, sementara UU IKN disusun hanya 44 hari dan segera akan direvisi,” ujarnya.

Para pengusung mengatakan RUU EBET disusun sebagai kebutuhan mendesak guna menyiapkan regulasi komprehensif yang dapat menjaga ekosistem investasi yang kondusif, adil, dan berkelanjutan.

Dalam hal itu pun disinggung tentang kedaulatan, ketahanan dan kemandirian energi.

“Dengan melihat antusiasme pembahasan dan berbagai pemuatan berbagai pokok bahasan dan substansi RUU, tampaknya pernyataan tersebut sangat absurd dan pantas dipertanyakan. Dengan mudah rakyat bisa menilai melalui motif di balik RUU tersebut,” katanya

Lebih jauh Marwan mengatakan, Bahwa selama ini rakyat telah dihisap dengan tagihan listrik yang tinggi dan terus naik.

Bentuk dan modus penghisapan tersebut terjadi melalui BPP listrik yang tinggi dan terus naik akibat: cadangan (reserve margin) pembangkitan listrik yang tinggi (Jawa 60% dan Sumatera 50%), pembelian listrik IPP oleh PLN dengan skema take-or-pay/TOP (bisnis IPP tak kenal rugi meski kondisi kahar, force majeure), unbundling bisnis PLN hingga sampai ke level konsumen dikuasai swasta oligarkis), pencaplokan pelanggan premium PLN oleh swasta, dll. 

Meskipun sebagian rakyat memperoleh tarif listrik murah karena disubsidi, namun tetap saja, seluruh rakyatlah yang membayar melalui subsidi listrik APBN puluhan hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.

“Saat ini, tagihan listrik yang kita bayar sebetulnya bisa lebih murah jika kebijakan pro oligarki yang disebut di atas diperbaiki atau dihilangkan, sehingga kita bebas penghisapan. DPR mestinya bisa berbuat dan bertindak, misalnya menghilangkan skema TOP, membatasi IPP, dan membiarkan PLTU beroperasi sesuai usia ekonomi. Bukan dengan menambah daya hisap melalui pembentukan UU EBET yang berpotensi inkonstitusional dan tidak pro rakyat,” tutup Marwan.***

Red/K.104

BACA juga Berita menarik Seputar Pemilu KLIK disini

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: IRESSKonstitusional dan Pro RakyatMenuju UU EBETWarta Pemilu
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Ketua KPK Beri Pembekalan dan Penguatan Kepada Bakal Bacaleg PDI Perjuangan

Post Selanjutnya

Kemenkes Evaluasi Penyesuaian Besaran Bantuan Biaya Hidup Dokter Internsip, Berikut Rinciannya

RelatedPosts

Wali Kota Aceh Sayuti Abubakar terpilih sebagai Ketua Komisariat Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila periode 2026–2030 (Bemby/kabariku)

Sayuti Abubakar, Wali Kota Lhokseumawe Nahkodai Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila

28 Januari 2026
Komisi Yudisial (KY) menggelar konferensi pers terkait laporan tahunan 2025. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Komisi Yudisial Terima 2.649 Aduan Publik dan Usulkan Sanksi Etik 124 Hakim di 2025

28 Januari 2026
Komisi Yudisial (KY) menggelar konferensi pers laporan tahunan 2025. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Raih WTP ke-18, Indeks Kinerja Komisi Yudisial 2025 Nyaris Sempurna

28 Januari 2026

ADPPI: Geothermal Energi Bersih, Dampak Ekologis Bisa Dikelola

28 Januari 2026
Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

KPK Terbitkan Aturan Baru Pelaporan Gratifikasi 2026, Ini Daftar Perubahannya

28 Januari 2026
dok. BNN RI

BNN Gagalkan Peredaran 100 Kg Sabu di Aceh Timur, Satu Kurir Diamankan

27 Januari 2026
Post Selanjutnya

Kemenkes Evaluasi Penyesuaian Besaran Bantuan Biaya Hidup Dokter Internsip, Berikut Rinciannya

Bappeda Garut Gelar FGD Bahas Pokja PKP dan Persiapan Pembentukan Forum PKP Kabupaten Garut

Discussion about this post

KabarTerbaru

Eks Komisaris PT IAE Iswan Ibrahim usai menjalani pemeriksaan KPK. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Eks Komisaris PT IAE Iswan Ibrahim Tidak Banding di Perkara PGN

28 Januari 2026
Wali Kota Aceh Sayuti Abubakar terpilih sebagai Ketua Komisariat Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila periode 2026–2030 (Bemby/kabariku)

Sayuti Abubakar, Wali Kota Lhokseumawe Nahkodai Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila

28 Januari 2026
Komisi Yudisial (KY) menggelar konferensi pers terkait laporan tahunan 2025. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Komisi Yudisial Terima 2.649 Aduan Publik dan Usulkan Sanksi Etik 124 Hakim di 2025

28 Januari 2026
Komisi Yudisial (KY) menggelar konferensi pers laporan tahunan 2025. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Raih WTP ke-18, Indeks Kinerja Komisi Yudisial 2025 Nyaris Sempurna

28 Januari 2026

ADPPI: Geothermal Energi Bersih, Dampak Ekologis Bisa Dikelola

28 Januari 2026
Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

KPK Terbitkan Aturan Baru Pelaporan Gratifikasi 2026, Ini Daftar Perubahannya

28 Januari 2026

Menkeu Purbaya: Sektor Keuangan Terjaga, Ekonomi 2026 Diproyeksi 5,4 Persen

28 Januari 2026

Dukung Program Pemerintah, Mensesneg: 435 Regulasi Diterbitkan Sejak Oktober 2024

28 Januari 2026
dok. BNN RI

BNN Gagalkan Peredaran 100 Kg Sabu di Aceh Timur, Satu Kurir Diamankan

27 Januari 2026

Kabar Terpopuler

  • Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden RI 1993-1998

    Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BNN Gagalkan Peredaran 100 Kg Sabu di Aceh Timur, Satu Kurir Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Advokat hingga Wali Kota, Sayuti Abubakar Masuk Radar Ketua Alumni FHUP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sayuti Abubakar, Wali Kota Lhokseumawe Nahkodai Alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Tegaskan Kasus Dugaan Korupsi CSR BI Terus Berjalan, Penahanan Tersangka Tunggu Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AMPPIBI Apresiasi Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Tetapkan Empat Tersangka Baru Korupsi Dana BOS Mts di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menutup Masa Dinas, Komjen Chryshnanda Tinggalkan Warisan Reformasi di Tubuh Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com Terverifikasi Faktual Dewan Pers dan telah mendapatkan Sertifikat dengan nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com