• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Kamis, Februari 26, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Ekonomi

Lawan Tarif 32% Trump dengan Martabat, Stop Negosiasi yang Merendahkan

Tresna Sobarudin oleh Tresna Sobarudin
8 Juli 2025
di Ekonomi
A A
0
Haidar Alwi

Haidar Alwi

ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku –  R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, merasa terpanggil untuk menyampaikan sikap tegas dan jernih atas dinamika global yang mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia.
Kebijakan tarif 32% yang diumumkan Presiden Donald Trump terhadap ekspor Indonesia bukan sekadar persoalan dagang, melainkan bentuk tekanan politik yang tidak boleh kita balas dengan ketundukan.
Sayangnya, yang terlihat saat ini justru adalah sikap panik, delegasi kita datang ke Washington membawa proposal demi proposal, seolah-olah harga diri bangsa ini bisa dinegosiasikan. Ini bukan saatnya menawar, ini saatnya berdiri tegak.

Martabat Bangsa

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Pada 7 Juli 2025, Presiden Donald Trump mengumumkan secara terbuka bahwa Indonesia akan dikenai tarif resiprokal sebesar 32% atas semua produk ekspor ke Amerika Serikat. Kebijakan ini akan berlaku mulai 1 Agustus 2025 dan menyasar langsung barang-barang andalan Indonesia: minyak sawit, tekstil, furnitur, alas kaki, dan elektronik rakitan.

RelatedPosts

Bahas Pembangunan Pelabuhan Cilautereun, Bupati Garut Temui DKP Provinsi Jawa Barat

THR ASN, TNI, Polri 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun

Gagal Bayar Kewajiban, Saham WIKA Masih Disuspensi BEI

Langkah Trump adalah bagian dari strategi politik dagangnya yang agresif, namun bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka tarif. Ini adalah bentuk tekanan ekonomi yang digunakan untuk memaksa tunduknya kedaulatan suatu bangsa. Kenyataan bahwa Indonesia bersama 13 negara lainnya menjadi sasaran tarif ini menunjukkan betapa ketegangan global kini mengarah pada perang dagang terselubung.

Sayangnya, respons awal kita terlihat panik. Dalam waktu singkat, delegasi perdagangan dikirim ke Washington, disusul berbagai tawaran: pembelian Boeing, penghapusan bea masuk untuk produk AS, serta komitmen investasi bernilai miliaran dolar. Semua untuk menghindari tarif.

Baca Juga  Program PNM Mekaar Plus Rp 15 Juta Khusus Perempuan, Diharapkan Berlanjut

Pertanyaannya: sampai kapan kita akan terus menawar harga diri kita hanya demi akses pasar? Haidar Alwi menilai, ini bukan diplomasi. Ini menyerahkan kedaulatan ekonomi di bawah tekanan politik luar.

Diplomasi Tidak Sama dengan Merendahkan Diri

Negosiasi antarbangsa adalah instrumen penting dalam hubungan internasional. Tapi bukan berarti kita harus memohon-mohon demi tidak diberi tarif. Apalagi jika semua yang dikorbankan berasal dari kita, dan semua yang dituntut berasal dari mereka.

Apa gunanya pembelian produk AS, jika niat awalnya hanya untuk mendapatkan pengampunan tarif? Apa artinya investasi besar jika landasannya adalah rasa takut? Apakah bangsa sebesar Indonesia harus terus hidup dalam ketergantungan pada satu negara?

Haidar Alwi percaya bahwa kekuatan sejati bangsa bukan diukur dari kemampuan bernegosiasi, tapi dari keberanian untuk mengatakan “cukup.” Jika tarif tetap dijalankan, maka jawabannya bukan tawar-menawar. Jawabannya adalah reorientasi strategi nasional.

“Jangan terus menukar martabat bangsa dengan peluang ekspor. Jangan jadikan dagang sebagai alasan untuk tunduk.” tegas Haidar Alwi.

Sebaliknya, Indonesia harus tampil tegas: kita akan mencari pasar lain, menyerap produk kita sendiri, dan memperkuat pasar domestik. Ketegasan bukan berarti konfrontatif, tetapi menyatakan bahwa kita tidak bisa dipermainkan.

Kemandirian Ekonomi, Bukan Kompromi Tanpa Harga Diri

Tarif 32% dari Trump justru harus dijadikan momentum untuk mengoreksi orientasi ekspor kita. Haidar Alwi menawarkan lima langkah tegas yang tidak merendahkan bangsa:

  1. Alihkan ekspor ke negara non-AS.
    India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin adalah pasar tumbuh cepat. Kita hanya perlu menyesuaikan logistik dan model distribusi. Jangan tergantung pada satu negara.
  2. Bangun kekuatan konsumsi domestik.
    Dengan 280 juta penduduk, Indonesia bisa menyerap hasil produksinya sendiri. Pemerintah wajib memberi insentif konsumsi dalam negeri, mempermudah distribusi antarwilayah, dan menghapus pajak ganda.
  3. Paksa negara maju untuk hormati posisi Indonesia.
    Jika AS bisa memberi tarif tinggi, kita pun berhak meninjau ulang seluruh bentuk kerja sama yang timpang, termasuk akses data, lisensi, dan sistem logistik digital.
  4. Prioritaskan pembelian dalam negeri oleh pemerintah.
    Barang-barang ekspor seperti sepatu, furnitur, tekstil, hingga kabel bisa digunakan oleh proyek pemerintah, TNI, Polri, sekolah, dan rumah sakit. Serap produk lokal melalui APBN.
  5. Tingkatkan nilai tambah dan branding produk Indonesia.
    Kita harus berhenti ekspor barang mentah atau setengah jadi. Produk harus naik kelas dengan desain, teknologi, dan citra kebangsaan. Itu yang akan sulit ditandingi oleh produk murah negara lain.
Baca Juga  Haidar Alwi: Peran, Sumber Daya, dan Teknologi Metalurgi Ekstraktif untuk Unsur Tanah Jarang (REE)

Mari Bangkit sebagai Bangsa Bermartabat

“Negosiasi tidak salah. Tapi negosiasi yang mengorbankan harga diri bangsa adalah kesalahan besar. Kita tidak sedang bicara tentang sekadar dagang. Kita sedang mempertaruhkan kedaulatan dan cara pandang bangsa kita sendiri terhadap martabat nasional.

Saya, Haidar Alwi, menyerukan agar pemerintah mengakhiri pendekatan lobi satu arah. Hentikan perjalanan delegasi yang hanya membawa proposal untuk menyenangkan pihak asing. Saatnya kita tawarkan proposal untuk rakyat kita sendiri. Bangun kekuatan nasional, perkuat produksi dalam negeri, dan dorong ekspor yang mandiri, bukan yang bergantung pada belas kasih negara besar.

Kalau Trump memberi tarif 32%, maka kita jawab dengan martabat 100%

Bangsa ini pernah dijajah, pernah diembargo, pernah diremehkan. Tapi selalu bisa bangkit. Maka janganlah kita jatuh hanya karena satu kebijakan tarif. Jangan tawarkan bangsa ini untuk dijual demi tarif yang dibatalkan. Lebih baik kehilangan pasar sementara daripada kehilangan kehormatan selamanya.” tegas Haidar Alwi.***

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Haidar AlwiTarif Trump
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Geger Kematian Diplomat Muda Arya Daru di Menteng, Tengah Siap Bertugas ke Finlandia

Post Selanjutnya

Penulisan Sejarah Nasional, IRC Reform: Strategi Kebudayaan dari Bangsa Besar Menuju Indonesia Raya

RelatedPosts

Bahas Pembangunan Pelabuhan Cilautereun, Bupati Garut Temui DKP Provinsi Jawa Barat

26 Februari 2026
Foto ilustrasi (Istimewa)

THR ASN, TNI, Polri 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun

20 Februari 2026
Foto : Istimewa

Gagal Bayar Kewajiban, Saham WIKA Masih Disuspensi BEI

19 Februari 2026
Ekspansi ke-29, Toko Mas Pantes Resmikan Gerai Baru di Ciplaz Garut

Toko Mas Pantes Resmi Hadir di Ciplaz Garut, Bawa Konsep Emas dan Berlian Terintegrasi

13 Februari 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Kemenkeu

Menkeu Ungkap Dugaan Manipulasi Ekspor CPO, Negara Rugi Bertahun-tahun

5 Februari 2026
Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra usai memaparkan Mitigasi Risiko TPPU, TPPT, PPSPM dengan petinggi BRI (Foto: Humas Kemenko Kumham Imipas)

Pemerintah Siapkan Regulasi Berlapis Dukung Cashless Payment UMKM

3 Februari 2026
Post Selanjutnya

Penulisan Sejarah Nasional, IRC Reform: Strategi Kebudayaan dari Bangsa Besar Menuju Indonesia Raya

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan keterangannya di Rio de Janeiro, pada Senin, 7 Juli 2025

Presiden Prabowo Disambut Dunia, Seskab Teddy: Indonesia Resmi jadi Anggota Penuh ke-10 BRICS

Discussion about this post

KabarTerbaru

Impor 105 Ribu Mobil Operasional KDMP Ditangguhkan, Menkeu Ikuti Arahan DPR

26 Februari 2026

PDI Perjuangan Buka Data APBN Rp223 Triliun untuk MBG, Pemerintah: Anggaran Pendidikan Tak Dipangkas

26 Februari 2026

Yayasan Kemala Bhayangkari Bangun SDM Unggul Lewat Sekolah Unggulan dan Program Gizi Nasional

26 Februari 2026

ICW Surati KPK: Waspadai Potensi Konflik Kepentingan Pengelolaan 1.179 Dapur MBG Polri

26 Februari 2026

Akselerasi Pembangunan Melalui Teknologi, Bupati Garut Gandeng BRIN Perkuat Riset dan Inovasi Daerah

26 Februari 2026

Bahas Pembangunan Pelabuhan Cilautereun, Bupati Garut Temui DKP Provinsi Jawa Barat

26 Februari 2026
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung saat dimintai keterangan terkait insiden mobil ugal-ugalan di Gunung Sahari. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Mobil Ugal-ugalan Tabrak Sejumlah Kendaraan di Gunung Sahari, Warga Kepung Pelaku

26 Februari 2026

Polres Garut Ajak Masyarakat Manfaatkan SuperApp PRESISI Polri, Wujudkan Pelayanan Cepat dan Humanis

25 Februari 2026
Ilustrasi sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi/MK. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

Menguji Syarat Calon Pimpinan KPK: Pemohon Soroti Peluang TNI-Polri Aktif

25 Februari 2026

Kabar Terpopuler

  • Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo saat dimintai keterangan terkait kasus dugaan gratifikasi batu bara (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

    KPK Bidik Politisi PSI Ahmad Ali dan Ketum Pemuda Pancasila di Kasus Dugaan Gratifikasi Batu Bara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Longsor di Bungbulang Garut: Satu Meninggal, Akses Jalan Terputus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Tahun Berjuang, Korban Jiwasraya Desak Menkeu Purbaya Lunasi Sisa 25,5 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Isu “Gurita Keluarga” dan Sandi Proyek G1 Mengemuka di Garut, Hasanuddin Nilai Sarat Nuansa Politis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • THR ASN, TNI, Polri 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com