Gebyar Budaya dan Edukasi Kopi Agroforestri: Saling Menguatkan Membangun Ekosistem Perhutanan Sosial

Kegiatan talk show digelar dalam acara Gebyar Budaya dan Edukasi Kopi Agroforestri di areal Wisata Tepas Papandayan Desa Karamatwangi, Cisurupan, Garut, Jawa Barat.

Garut, Kabariku- Suhu udara di areal Wisata Tepas Papandayan Desa Karamatwangi, Cisurupan, Garut, Jawa Barat, berkisar kurang lebih 15 derajat celcius. Namun, dinginya suhu udara pagi itu, tak menyurutkan semangat peserta dan panitia Gebyar Budaya dan Edukasi Kopi Agroforestri menyiapkan acara agar berlangsung lancar.

Antusias yang sama pun ditunjukkan peserta yang sebagian sudah menginap satu malam sebelumnya. Bahkan, beberapa dari mereka sengaja bangun lebih awal agar bisa mengabadikan moment sunrise yang muncul dari upuk timur.

Ya, di Sabtu pagi yang cerah itu, Tepas Agrowisata Papandayan punya hajatan menggelar Gebyar Budaya & Edukasi Kopi Agroforestri. Sebuah acara seni dipadu dengan isu kelestarian lingkungan dan pengembangan usaha berbasis Perhutanan Sosial.

Acara ini digelar oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Karamatjaya berkolaborasi dengan BUM Desa Karamatjaya dan lembaga pendampingi Perhutanan Sosial yaitu ALMISBAT menjadi tuan rumah dalam event yang digelar untuk kedua kalinya secara berturut-turut tersebut.

Acara pertama tahun 2022 mengambil tema Jelajah Kebun Kopi dan di tahun 2023 ini bertema budaya, ekonomi, lingkungan dan wisata desa.

Untuk diketahui, KTH Kramatjaya merupakan salah satu KTH di Garut yang sudah mendapatkan Persetujuan Pengelolaan Perhutanan Sosial dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

KTH Karamatjaya melalui Program Perhutanan Sosial mengelola lahan kawasan hutan seluas kurang lebih 165 ha. Di dalam areal tersebut ada banyak potensi dapat dikembangkan mulai dari pengelolaan kawasan, hasil hutan bukan kayu seperti alpukat, jeruk dan Kopi, jasa lingkungan (jasling) maupun ternak.

Sementara di luar kawasan hutan BUM Desa Karamatjaya mengembangkan potensi wisata desa berbasis alam. Dan, Koperasi Perhutanan Sosial menjalani usaha Kedai yang diberi nama Kedai Aceng Tepas Papandayan.

Kolaborasi antar pihak di tingkat grass root ini kemudian melahirkan gagasan dan ide untuk membuat terobosan-terobosan seperti acara Gebyar Budaya dan Edukasi Kebun Kopi Agroforestri ini.

Beragam kegiatan disajikan dalam acara tersebut. Mulai dari kunjungan ke lokasi kebun percontohan kopi agroforestri, talk show, demonstrasi penyeduhan dan cita rasa Kopi, pentas seni dan terapi air panas.

Direktur Pengembangan Usaha dan Perhutanan Sosial (PUPS) KLHK Catur Endah Prastiani P bersama Senior Staf Balai Uji Terapi Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) Kementerian Pertanian dan Ketua ALMISBAT Chairuddin Ambong, mengisi Talk Show “Perhutanan Sosial, Ekonomi, Lingkungan dan Wisata Desa” yang dipandu oleh mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Dalam pemaparannya Direktur PUPS KLHK Catur Endah Prastiani menuturkan pentingnya Kelompok Usaha Perhutanan Sosial melibatkan para pemangku kepentingan/stakeholders lain dalam meningkatkan usaha-usahanya pengeloaan berbasis kawasan hutan.

“Perlu model pengembangan usaha yang menghubungkan akademisi, praktisi/bisnis, komunitas, pemerintah dan media dalam membangun ekosistem berdasarkan kreatifitas dan pengetahuan”. tuturnya.

Sementara itu, Ketua ALMISBAT dan pegiat Perhutanan Sosial Ch Ambong menekankan pentingnya kerjasama antar Kementerian/Lembaga (K/L), perbankkan dan penambahan anggaran bagi Direktorat PUPS KLHK agar bisa lebih maksimal dan kencang dalam meningkatkan usaha ekonomi dan kerja-kerja pelesatarian hutan bagi kelompok-kelompok usaha perhutanan sosial.

Adapun Program Perhutanan Sosial (PS) merupakan salah satu program prioritas presiden dalam rangka memberikan akses kelola hutan untuk kelestarian, peningkatan ekonomi masyarakat desa dan menjaga dinamika sosial masyarakat setempat dalam bentuk skema Hutan Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Hutan Adat (HA) dan Kemitraan Kehutanan.

Target nasional akses kelola lahan hutan seluas 12,7 juta hektare. Program PS juga diharapkan bisa memberikan dampak bagi perbaikan kondisi hutan dan ketahanan pangan bagi desa, sekaligus juga menggali potensi yang dimiliki oleh desa dalam pengembangan usaha-usaha berbasis kawasan hutan seperti hasil hutan bukan kayu (HHBK) maupun jasa lingkungan.

Tentu, program ini butuh sinergi dan kolaborasi para pihak dalam mengawal dan melakukan kerja-kerja pendampingan bagi kelompok-kelompok tani hutan yang sudah memperoleh akses legalitas atau persetujuan pengelolaan Perhutanan Sosial.

Para peserta event Gebyar Budaya dan Edukasi Kopi Agroforestri bersemangat mengikuti rangkaian aneka ragam acara yang disajikan oleh panitia yang terdiri KTH Karamatjaya, BUM Desa Karamatjaya, TV UNAS dan sebagian besar mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang saat ini sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Karamatwangi yang digawangi oleh Kadesnya Rana Kurnia.

Dan puncak acara di tutup dengan penampilan tari Jaipong oleh dara geulis Desa Karamatwangi, Cisurupan, Garut, Jawa Barat.***

Tinggalkan Balasan