• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, April 13, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Ekonomi

Lawan Tarif 32% Trump dengan Martabat, Stop Negosiasi yang Merendahkan

Tresna Sobarudin oleh Tresna Sobarudin
8 Juli 2025
di Ekonomi
A A
0
Haidar Alwi

Haidar Alwi

ShareSendShare ShareShare

Jakarta, Kabariku –  R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, merasa terpanggil untuk menyampaikan sikap tegas dan jernih atas dinamika global yang mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia.
Kebijakan tarif 32% yang diumumkan Presiden Donald Trump terhadap ekspor Indonesia bukan sekadar persoalan dagang, melainkan bentuk tekanan politik yang tidak boleh kita balas dengan ketundukan.
Sayangnya, yang terlihat saat ini justru adalah sikap panik, delegasi kita datang ke Washington membawa proposal demi proposal, seolah-olah harga diri bangsa ini bisa dinegosiasikan. Ini bukan saatnya menawar, ini saatnya berdiri tegak.

Martabat Bangsa

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Pada 7 Juli 2025, Presiden Donald Trump mengumumkan secara terbuka bahwa Indonesia akan dikenai tarif resiprokal sebesar 32% atas semua produk ekspor ke Amerika Serikat. Kebijakan ini akan berlaku mulai 1 Agustus 2025 dan menyasar langsung barang-barang andalan Indonesia: minyak sawit, tekstil, furnitur, alas kaki, dan elektronik rakitan.

RelatedPosts

Pegadaian Kantor Wilayah IX Luncurkan Program MPL 2026 untuk Warga dan UMKM

Tindak Lanjuti Keluhan Warga di Media Sosial, Wabup Garut Kunjungi Pasar Andir Terkait Stok Gas

Ringankan Beban Masyarakat, Polres Garut Gelar Gerakan Pangan Murah Selama Ramadhan

Langkah Trump adalah bagian dari strategi politik dagangnya yang agresif, namun bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka tarif. Ini adalah bentuk tekanan ekonomi yang digunakan untuk memaksa tunduknya kedaulatan suatu bangsa. Kenyataan bahwa Indonesia bersama 13 negara lainnya menjadi sasaran tarif ini menunjukkan betapa ketegangan global kini mengarah pada perang dagang terselubung.

Sayangnya, respons awal kita terlihat panik. Dalam waktu singkat, delegasi perdagangan dikirim ke Washington, disusul berbagai tawaran: pembelian Boeing, penghapusan bea masuk untuk produk AS, serta komitmen investasi bernilai miliaran dolar. Semua untuk menghindari tarif.

Baca Juga  Lantik 70 PPPK, Kementerian UMKM ingin Wujudkan Pelayanan Lebih Baik bagi UMKM

Pertanyaannya: sampai kapan kita akan terus menawar harga diri kita hanya demi akses pasar? Haidar Alwi menilai, ini bukan diplomasi. Ini menyerahkan kedaulatan ekonomi di bawah tekanan politik luar.

Diplomasi Tidak Sama dengan Merendahkan Diri

Negosiasi antarbangsa adalah instrumen penting dalam hubungan internasional. Tapi bukan berarti kita harus memohon-mohon demi tidak diberi tarif. Apalagi jika semua yang dikorbankan berasal dari kita, dan semua yang dituntut berasal dari mereka.

Apa gunanya pembelian produk AS, jika niat awalnya hanya untuk mendapatkan pengampunan tarif? Apa artinya investasi besar jika landasannya adalah rasa takut? Apakah bangsa sebesar Indonesia harus terus hidup dalam ketergantungan pada satu negara?

Haidar Alwi percaya bahwa kekuatan sejati bangsa bukan diukur dari kemampuan bernegosiasi, tapi dari keberanian untuk mengatakan “cukup.” Jika tarif tetap dijalankan, maka jawabannya bukan tawar-menawar. Jawabannya adalah reorientasi strategi nasional.

“Jangan terus menukar martabat bangsa dengan peluang ekspor. Jangan jadikan dagang sebagai alasan untuk tunduk.” tegas Haidar Alwi.

Sebaliknya, Indonesia harus tampil tegas: kita akan mencari pasar lain, menyerap produk kita sendiri, dan memperkuat pasar domestik. Ketegasan bukan berarti konfrontatif, tetapi menyatakan bahwa kita tidak bisa dipermainkan.

Kemandirian Ekonomi, Bukan Kompromi Tanpa Harga Diri

Tarif 32% dari Trump justru harus dijadikan momentum untuk mengoreksi orientasi ekspor kita. Haidar Alwi menawarkan lima langkah tegas yang tidak merendahkan bangsa:

  1. Alihkan ekspor ke negara non-AS.
    India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin adalah pasar tumbuh cepat. Kita hanya perlu menyesuaikan logistik dan model distribusi. Jangan tergantung pada satu negara.
  2. Bangun kekuatan konsumsi domestik.
    Dengan 280 juta penduduk, Indonesia bisa menyerap hasil produksinya sendiri. Pemerintah wajib memberi insentif konsumsi dalam negeri, mempermudah distribusi antarwilayah, dan menghapus pajak ganda.
  3. Paksa negara maju untuk hormati posisi Indonesia.
    Jika AS bisa memberi tarif tinggi, kita pun berhak meninjau ulang seluruh bentuk kerja sama yang timpang, termasuk akses data, lisensi, dan sistem logistik digital.
  4. Prioritaskan pembelian dalam negeri oleh pemerintah.
    Barang-barang ekspor seperti sepatu, furnitur, tekstil, hingga kabel bisa digunakan oleh proyek pemerintah, TNI, Polri, sekolah, dan rumah sakit. Serap produk lokal melalui APBN.
  5. Tingkatkan nilai tambah dan branding produk Indonesia.
    Kita harus berhenti ekspor barang mentah atau setengah jadi. Produk harus naik kelas dengan desain, teknologi, dan citra kebangsaan. Itu yang akan sulit ditandingi oleh produk murah negara lain.
Baca Juga  Pengrajin Tahu Tempe di Garut Berharap Subsidi Kedelai untuk Bantu Pengusaha Kecil

Mari Bangkit sebagai Bangsa Bermartabat

“Negosiasi tidak salah. Tapi negosiasi yang mengorbankan harga diri bangsa adalah kesalahan besar. Kita tidak sedang bicara tentang sekadar dagang. Kita sedang mempertaruhkan kedaulatan dan cara pandang bangsa kita sendiri terhadap martabat nasional.

Saya, Haidar Alwi, menyerukan agar pemerintah mengakhiri pendekatan lobi satu arah. Hentikan perjalanan delegasi yang hanya membawa proposal untuk menyenangkan pihak asing. Saatnya kita tawarkan proposal untuk rakyat kita sendiri. Bangun kekuatan nasional, perkuat produksi dalam negeri, dan dorong ekspor yang mandiri, bukan yang bergantung pada belas kasih negara besar.

Kalau Trump memberi tarif 32%, maka kita jawab dengan martabat 100%

Bangsa ini pernah dijajah, pernah diembargo, pernah diremehkan. Tapi selalu bisa bangkit. Maka janganlah kita jatuh hanya karena satu kebijakan tarif. Jangan tawarkan bangsa ini untuk dijual demi tarif yang dibatalkan. Lebih baik kehilangan pasar sementara daripada kehilangan kehormatan selamanya.” tegas Haidar Alwi.***

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Haidar AlwiTarif Trump
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Geger Kematian Diplomat Muda Arya Daru di Menteng, Tengah Siap Bertugas ke Finlandia

Post Selanjutnya

Penulisan Sejarah Nasional, IRC Reform: Strategi Kebudayaan dari Bangsa Besar Menuju Indonesia Raya

RelatedPosts

Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 luncurkan program MPL 2026 untuk membantu masyarakat dan mendorong UMKM lokal.(Istimewa)

Pegadaian Kantor Wilayah IX Luncurkan Program MPL 2026 untuk Warga dan UMKM

17 Maret 2026

Tindak Lanjuti Keluhan Warga di Media Sosial, Wabup Garut Kunjungi Pasar Andir Terkait Stok Gas

13 Maret 2026

Ringankan Beban Masyarakat, Polres Garut Gelar Gerakan Pangan Murah Selama Ramadhan

13 Maret 2026

Rapat dengan DEN, Pemerintah Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah ke Ekonomi Indonesia

12 Maret 2026
Presiden Prabowo Subianto menargetkan Danantara menyetor hingga Rp 800 triliun per tahun ke kas negara.(Ist)

Target Presiden Prabowo untuk Danantara: Setoran Rp 800 Triliun per Tahun dari Hasil Investasi

11 Maret 2026

Bantu Ringankan Beban Masyarakat, Polres Garut Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Idul Fitri 1447 H

11 Maret 2026
Post Selanjutnya

Penulisan Sejarah Nasional, IRC Reform: Strategi Kebudayaan dari Bangsa Besar Menuju Indonesia Raya

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan keterangannya di Rio de Janeiro, pada Senin, 7 Juli 2025

Presiden Prabowo Disambut Dunia, Seskab Teddy: Indonesia Resmi jadi Anggota Penuh ke-10 BRICS

Discussion about this post

KabarTerbaru

KPK Kawal Sektor Strategis Batam dan Bintan, Jaga Iklim Investasi Sehat dan Berkelanjutan

13 April 2026

Evaluasi Kabinet Prabowo, Pengamat: Reshuffle atau Risiko Turun Kepercayaan Publik

13 April 2026
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Cianjur

Disperkim Kabupaten Cianjur Mengajak Masyarakat Menjaga dan Merawat Ruang Publik

13 April 2026
Keluarga Besar Ponpes Hidayatul Faizien

Dari Doa hingga Aksi Nyata, Haul Akbar Hidayatul Faizien Sentuh Kebutuhan Masyarakat

13 April 2026

YLBHI: Isyarat Wapres Gibran Pertegas Urgensi Peradilan Umum di Kasus Andrie Yunus

12 April 2026

DPC PKB Kabupaten Garut Gelar Muscab, Momentun Penting Partai untuk Lakukan Evaluasi Organisasi

12 April 2026

Hidrometeorologi Mengancam, Yuda Puja Turnawan Desak Langkah Cepat Pemkab Garut

12 April 2026

KPK Ungkap Pola Penyalahgunaan Wewenang Berulang, Ancaman Korupsi Terstruktur

12 April 2026
ruang konpers Gedung Merah Putih KPK

KPK OTT Bupati Tulungagung Dugaan Praktik “Jatah” Anggaran dan Rekayasa Tender Proyek

12 April 2026

Seskab Teddy: Satgas PKH Selamatkan Aset Negara Rp370 Triliun, Denda Capai Rp31,3 Triliun

11 April 2026

Kabar Terpopuler

  • Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden RI 1993-1998

    Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dualisme Memanas, Dewan Pertimbangan FKDT Garut Pertanyakan Legalitas SK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Breaking News: KPK Kembali OTT Kepala Daerah, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Diciduk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Rekomendasi ke Aksi, SIAGA 98 Desak Realisasi Reformasi Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Doa hingga Aksi Nyata, Haul Akbar Hidayatul Faizien Sentuh Kebutuhan Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UPDATE: KPK OTT Bupati Tulungagung, Total 16 Orang diamankan dan Masih Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com