Aktif Memberi Kabar

Pasca Peristiwa 27 Juli 1996 Simson Simanjuntak Dijemput dan Ditahan Intel

0 669

KABARIKU – Salah satu tokoh yang ikut bergulat dan mengecap pahit getirnya tragedi 27 Juli 1996 adalah Simson Simanjuntak, yang kini menjadi salah satu Ketua DPN RepDEM. Sejak muda, Simson dikenal merupakan aktivis pro demokrasi pengagum Soekarno.

Diketahui, Juli 1996 rezim militer Soeharto yang refresif, memaksakan tokoh pro Soerjadi menjadi pucuk pimpinan di PDI dalam kongres PDI di Medan.

Simson Simanjuntak, aktivis muda yang saat itu masih kuliah di Universitas Katholik Santo Thomas Medan, bersama kawan-kawannya ikut memprotes. Mereka menggelar aksi mogok makan di halaman kampusnya.

Tanggal 27 Juli 1996, ketika kantor PDI Pro Megawati di Jalan Dipenogoro 58, Jakarta, diserbu oleh kubu Soerjadi yang dibantu oknum aparat, adalah hari ketujuh Simson dan aktivis GMNI melaksanakan aksi itu.

“Sorenya, kami terpaksa menghentikan aksi itu karena suasana makin tak kondusif usai peristiwa tersebut,” papar Simson, Selasa (28/7/2020).

Sebagai buntut peristiwa penyerbuan kantor PDI Pro Mega di Jakarta, ABRI melakukan penangkapan terhadap siapa saja yang terkait dengan PDI Pro Mega. Untuk menghindari hal tak diinginkan, Simson dan kawan-kawannya kemudian menyingkir ke luar kota Medan. Dari informasi yang diterima Simson, aparat melakukan pembersihan terhadap aktivis pro Mega.

“Kami kemudian menghindar sementara dari kota Medan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sambil memantau perkembangan Jakarta,” papar Simson.

Informasi-informasi yang diterima Simson memang benar. Setelah kerusuhan 27 Juli di Jakarta itu, aparat melakukan penangkapan terhadap aktivis pro demokrasi, terutama aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko yang dianggap sebagai dalang kerusuhan 27 Juli itu.

Bagaimana nasib Simson? Akhirnya, ia bersama kawan-kawan pro demokrasi lainnya yang berada di Medan pun ditangkap dan dibawa ke markas intel ABRI.

“Sekitar 10 hari sesudahnya, aku dan beberapa aktivis pergerakan yang ada di Kota Medan ‘dijemput’ paksa dari kediaman kami masing-masing oleh intel ABRI (Bakostranasda), lalu ditahan di markas intel ABRI di Jalan Gaperta Medan selama 5 hari,” ujar Simson. (Has)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.