Ketupat, Makanan Rakyat yang Bertahta Menjadi Nama Operasi Polisi

KABARIKU.Com– Ketupat merupakan satu-satunya makanan yang dijadikan nama sandi operasi keamanan : Operasi Ketupat Lodaya. Pizza, kebab, hotdog, KFC dan sebaganya, di negara asalnya, tak akan menempati posisi sepenting ketupat di Indonesia. Meskpiun lezat, bergengsi, dan mahal, namun makanan-makanan tadi dijamin hanya dimakan, tak diabadikan menjadi sebuah nama operasi yang skalanya besar-besaran.

Ketupat terutama hadir dalam momentum Idul Fitri. Dua hal ini, ketupat dan Idul Fitri, tak bisa dipisahkan. Ketik saja Idul Fitri di Google, maka gambar yang muncul di layar laptop atau HP, kebanyakan pasti gambar ketupat, ke sananya amplop THR dan meme bersalaman serta menara masjid.

Dalam prakteknya, memang tak lengkap rasanya jika momentum Idul Fitri tak dimeriahkan dengan ketupat sebagai menu utama makan keluarga.

Teman ketupat

Namun selain ketupat, sebenarnya masih ada makanan yang memasyarakat dalam Idul Fitri. Dua di antaranya opor ayam dan gulai kambing. Dua masakan ini (opor ayam atau gulai kambing) dibikin pada momentum Idul Fitri justru untuk menemani ketupat. Pulang shalat Ied, makan potongan ketupat yang tenggelam dalam rendaman gulai atau opor ayam, nikmat rasanya. Oleh karena itu, ketika ada ketupat, biasanya opor ayam atau gulai kambing pun hadir.

Tapi mengapa hanya ketupat yang terpilih menjadi nama operasi pengamanan dalam momentum Idul Fitri, bukan opor ayam atau gulai kambing? Ini karena pihak kepolisian tahu bahwa ketupat selain makanan, juga bagian dari filosopi dan kebudayaan bangsa Indonesia. Maka wajar jika lembaga itu (kepolisian) menamai operasi pengamanan Idul Fitri dengan nama Operasi Ketupat, bukan Operasi Opor Ayam atau Operasi Gulai Kambing .

Identik muslim

Ketupat identik dengan muslim. Namun beberapa pakar sejarah makanan mengatakan, ketupat tak ada sangkut pautnya dengan negara-negara di Timur Tengah yang merupakan pusatnya Islam. Lalu dari mana ketupat ini berasal? Dari Indonesia sendiri ternyata, dan telah hadir sebelum Islam datang. Nah semua tulisan tentang ketupat yang penulis searching, sepakat bahwa sosok yang berjasa melambungkan ketupat menjadi bagian tradisi Islam adalah Sunan Kalijaga, saat ia mengislamkan Jawa pada abad ke-15 hingga 16.

“Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman,” kata sejarawan kuliner sekaligus penulis buku “Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia”, Fadly Rahman, kepada wartawan KompasTravel tahun 2017 lalu.

Sementara majalah Historia dalam bahasannya berjudul “Mengunyah Sejarah Ketupat” mengemukakan, Sunan Kalijaga membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. “Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran,” tulis Historia tahun 2010 lalu.

Pada saat Bakda Kupat, semua rumah di tanah Jawa sibuk menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Kemudian dimasak dan diantarkan ke kerabat yang lebih tua sebagai lambang kebersamaan.

Ngaku lepat

Beberapa literatur menyebutkan bahwa ketupat memiliki makna “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Itulah kenapa ketupat hadir pada momemntum lebaran.

Fadly, masih kepada KompasTravel menambahkan, simbolisasi lain dari ketupat adalah laku papat (empat laku) yang juga melambangkan empat sisi dari ketupat.

Apa ya empat laku itu? Islamidia edisi 3 Juli 2016 menjelaskan secara detil apa yang dimaksud empat laku. Menurut Islamidia, laku papat adalah empat tindakan yakni Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan artinya melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan artinya habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Historia punya cerita lain tentang empat sisi ketupat tersebut. Majalah sejarah populer itu menyebutkan, bagi sebagian masyarakat Jawa, bentuk ketupat (persegi) diartikan dengan kiblat papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama: timur, barat, selatan, dan utara. Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi ia tak boleh melupakan pancer (arah) kiblat atau arah kiblat (salat).

Pernah diganti

Lepas dari makna mana yang benar tentang empat sisi ketupat, pihak kepolisian sebenarnya sempat mengganti nama Operasi Ketupat dengan Operasi Ramadniya. Itu terjadi saat Polri dipimpin Jenderal Badrodin Haiti tahun 2016 lalu. Selama dua tahun berturut-turut, operasi tersebut dinamakan Operasi Ramadniya.

Namun Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian kembali menjadikan ketupat sebagai nama operasi pengamanan lebaran. Ia mengatakan, operasi pengamanan Hari Raya Idul Fitri pada 2018 kembali menjadi Operasi Ketupat, bukan Operasi Ramadniya.

“Operasi kemanusiaan yaitu Ketupat 2018, dulu namanya Ramadniya, tapi banyak yang komplain, susah penyebutannya,” kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Maka ketupat kini kembali naik derajat karena menjadi nama sebuah bersakala sangat besar.

LT

 

 

Redaksi Kabariku.com

Kabariku.com diterbitkan di penghujung Tahun 2017, tepatnya pada Hari Jumat 1 Desember 2017 (12 Rabiul Awal) oleh PT. Media Malka Shazia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close