Pengaruh Teori Sastra dalam Berimajinasi Mengarang Fiksi

Oleh: Siti Sarah Az-Zahra
(Siswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

BERBICARA fiksi, sama halnya berbicara tentang proses pengkajian sastra, yang mana  fiksi merupakan bagian dari karya sastra itu sendiri. Sastra merupakan salah satu cabang kesenian yang selalu ada dalam peradaban manusia semenjak ribuan tahun yang lalu. Kehadiran sastra ditengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan kehadiran tersebut diterima sebagai salah satu realitas sosial budaya. Hingga saat ini, sastra tidak hanya dinilai sebagai sebuah karya seni yang memiliki budi, imajinasi dan emosi, tetapi telah dianggap sebagai suatu karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual disamping konsumsi emosi.

Seperti yang dikatakan Quinn (1992:43), secara sederhana sastra adalah “tulisan yang khas, dengan pemanfaatan kata yang khas, tulisan yang beroperasi dengan cara yang khas dan menuntut pembacaan yang khas pula”. Kita telah banyak membaca karya sastra, kisah yang memesona, mengharukan bahkan yang memaksa kita bertindak dan berubah. Kita semua dibesarkan oleh cerita, oleh karya sastra yang memberi kita bahagia, kegirangan, pengalaman dan harapan. Melalui pilihan kata dan penyampaiannya yang khas mengenai berbagai kondisi kemanusiaan yang ada, cerita-cerita itu membentuk pemahaman dan wawasan kita.

Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya, menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman. Sastra yang telah dilahirkan oleh para sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan kepuasan intelek bagi penikmat sastra.

Setiap jenis karya yang dilahirkan oleh penulis merupakan refresentatif dari realitas sosial masyarakat. Pesatnya perkembangan sastra akhir-akhir ini, mengakibatkan para sastrawan atau penyair dapat dengan mudah membuat karya sastra dengan beragam genre sastra, baik itu puisi, prosa, novel, cerpen dan karya-karya lain yang berbau sastra.

Sastra dan masyarakat memang erat kaitannya, karena baik buruknya karya yang kita buat, itu tergantung image di masyarakatnya seperti apa. Menurut Jan Van Luxemburg, dkk (Pengantar Ilmu Sastra, 1992: 23), hubungan sastra dan masyarakat diteliti dengan berbagai cara, diantaranya; a) faktor-faktor diluar teks itu sendiri, gejala konteks sastra; teks sastra itu sendiri tidak ditinjau. Demikian misalnya kita dapat meneliti kedudukan pengarang didalam masyarakat, pembaca, dunia penerbitan, dan seterusnya. Faktpr-faktor konteks ini dipelajari oleh semiologi sastra empiris yang tidak mempergunakan pendekatan ilmu sastra. Hal-hal yang bersangkutan dengan sastra memang diberi patokan dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu sosiologi. Tentu saja ilmu sastra dapat mempergunakan hasil sosiologi sastra, khususnya bila ingin meneliti persepsi para pembaca. b) hubungan antara (aspek-aspek) teks sastra dan susunan masyarakat. Sejauh mana sistem masyarakat serta perubahannya tercermin didalam sastra. Begitupun sastra dipergunakan sebagai sumber untuk menganalisa sistem masyarakat. Sementara ahli sosilogi sastra sering bertolak dari suatu pandangan sosial atau politik tertentu. Mereka mempumyai suatu pendapat yang jelas bagaimana seharusnya masyarakat itu bersikap kritis terhadap tata masyarakat yang sedang berlaku. Menurut hemat  mereka sikap kritis berkaitan erat dengan penilaian kita terhadap satsra yang sedang diteliti. Penilaian itu tidak hanya berdasarkan norma-norma estetik melainkan juga norma-norma politik dan etik. Pemeliti tidak hanya menentukan bagaimana pengarang menampilkan jaringan sosial dalam karyanya, melainkan juga menilai pandangan pengarang.

Berbicara mengenai upaya pengkajian sebuah karya sastra, Frederik Eagles (Terry Eagleton, 2001:….) mengemukakan bahwa seni (sastra) jauh lebih kaya dan sulit dipahami dibandingkan dengan teori politik ataupun ekonomi. Seni (sastra) tidak semata-mata ideologis, untuk itu maka intensitas pengkajian karya sastra harus terus mendapat kesempatan yang lebih banyak guna mengembangkan pemahaman terhadap karya sastra tersebut maupun penggunaan teori pengkajiannya.

Pandangan terhadap sastra atau seni dari waktu ke waktu menunjukan perubahan atau pergeseran cara memandangnya atau paradigmanya. Sastra dalam masa tertentu juga mengalami keadaan yang serupa. Untuk mempelajari dan mengetahui paradigma atau cara  pandang terhadap sastra atau seni dari masa ke masa atau dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain perlu dipelajari dalam satu bidang yang disebut dengan teori sastra. Teori sastra lahir untuk mengatur teori berkualitas dan tidak berkualitasnya suatu karya, karena fungsi sastra juga bisa dijadikan sebagai bahan pegangan atau sumber hidup.

Dengan kata lain, teori sastra pada dasarnya mempelajari satu bentuk pandangan manusia terhadap objek dan realitas yang dinamakan sastra dan segala keberadaannya. Misalnya ada yang disebut dengan mimesis, yaitu teori Plato yang memiliki makna tiruan. Tiruan disini maksudnya tiruan dari alam semesta/fisik/univers, atau secara singkatnya menurut Plato segala sesuatu itu berasal dari dalam ide. Sebagai contoh, tukang panci itu lebih nyata daripada penyair, karena tukang panci lebih terlihat kebenarannya daripada seorang penyair. Selain teori diatas, masih banyak lagi teori sastra lainnya.

Untuk itu, dalam proses pembuatan karya fiksi/sastra seperti puisi, novel, roman dan lain sebagainya, kita harus menguasai teori pengkajian sastra, atau setidaknya mengenal apa saja teori-teori yang berhubungan dengan kesusastraan, dengan tujuan supaya karya yang kita buat bisa lebih baik dan bermakna. Karena terkadang setiap orang selalu suka akan keindahan kata, maka dengannya buatlah sebuah karya sastra yang bisa disukai penikmat sastra dengan cara yang kita bisa.***

Ditandai

Redaksi Kabariku.com

Kabariku.com diterbitkan di penghujung Tahun 2017, tepatnya pada Hari Jumat 1 Desember 2017 (12 Rabiul Awal) oleh PT. Media Malka Shazia. Kantor - Jln. Palmerah Selatan No. 30A Jakarta Pusat, 10270, Karindra Building lantai 1 Suite 5A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close