Spektakuler, Angklung Kolosal Bergema di Le Place des Cocotiers Noumea

Kang Yayan Mulyana (foto: istimewa)

Laporan Atika

KABARIKU.Com– Atraksi kolosal dan spektakuler dihelat di Noumea, New Caledonia di seberang lautan Pasifik pada Sabtu (22/9/2018) lalu. Alat musik angklung yang telah diakui internasional oleh UNESCO sejak 11 November 2010 lalu, siang itu dimainkan oleh lebih dari 500 orang di Le Place des Cocotiers (Taman Kota) Noumea.

Acara yang diselenggarakan untuk pertama kali oleh KJRI Noumea ini, sukses digelar bekerjasama dengan pemerintah setempat dan berbagai etnis serta komunitas Indonesia di New Caledonia.

Perhelatan angklung kolosal di Le Place des Cocotiers itu merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan KJRI Noumea.

Salah seorang sosok penting yang sangat berperan dalam memainkan Angklung pour L’Harmonie adalah Yayan Mulyana. Dia adalah cucu legenda angklung Indonesia, Mang Udjo. Laki-laki 59 tahun itu sengaja didatangkan secara khusus dari Bandung-Indonesia untuk memimpin Angklung Pour L’Harmonie. Dia juga yang bertanggung jawab membuat angklung yang dibagikan kepada seluruh peserta.

Yayan Mulyana mengaku telah banyak menciptakan kreasi baru dan memproduksi ribuan angklung, seperti Angklung To-el.

Sebelum acara, sekitar 30 menit Kang Yayan melatih secara massal para pemain dari beragam usia dan ras itu. Cara melatihnya pun cukup unik dan praktis yakni hanya dengan menggunakan aba-aba satu tangan. Sebelumnya, ratusan angklung yang dibagikan kepada peserta tersebut sudah diberi kode berupa gambar tangan dalam berbagai formasi.

Misalnya, formasi tangan mengepal untuk nada do, tangan menelungkup untuk nada re, acungan jempol untuk nada mi, dan seterusnya hingga nada si. Karena itu, para pemain hanya melihat formasi tangan yang diberikan oleh Yayan Mulyana yang berdiri di depan pelataran. Dia bertindak sebagai dirijen.

Selanjutnya, Yayan lebih banyak menggunakan formasi tangan untuk mengomando para pemain angklung dadakan tersebut. Begitu musik angklung mulai mengalun, beberapa orang terlihat terkesima dengan keunikannya.

Lain lagi pendapat Marie Loure (36). Perempuan asal Prancis ini mengaku tertarik dengan bunyi yang dihasilkan alat musik bambu itu. Karena itu, begitu melintas di sekitar tempat acara, dia langsung tertarik dan memutuskan untuk bergabung.

Peserta dadakan seperti Marie inilah yang membuat jumlah peserta melonjak tajam saat acara baru dimulai.

“Sukses sekali… Banyak orang yang hadir berpartisipasi pada acara ini, benar-benar merupakan suatu kebahagiaan. Kegiatan ini disajikan dengan mengedepankan keanekaragaman budaya dan etnis yang justru untuk mempersatukan,” ungkap Thierry Lataste, Komisaris Tinggi Prancis untuk New Caledonia.

Untuk mengumpulkan ratusan orang, pihak KJRI mengumumkan di beberapa media satu bulan sebelum hari H. Meskipun di lapangan parkir (Port Moselle) diselenggarakan bazar, namun minat untuk menikmati alunan musik angklung dan sekaligus memainkannya tidak menyurutkan mereka untuk datang berbondong-bondong sambil menggoyangkan angklung sesuai arahan dirijen Kang Yayan.

“Mendatangkan 500 orang saja secara bersamaan memang tidak mudah. Saya hanya menunggu keajaiban Tuhan,” kata Yayan yang ditemui sebelum acara.

Benar saja. Bunyi khas angklung memang menjadi magnet yang mampu menarik perhatian massa. Begitu geladi bersih dilakukan dengan memainkan lagu ‘I have a dreem, orang lagsung menyemut.

Editor LT

Ditandai

Redaksi Kabariku.com

Kabariku.com diterbitkan di penghujung Tahun 2017, tepatnya pada Hari Jumat 1 Desember 2017 (12 Rabiul Awal) oleh PT. Media Malka Shazia. Kantor - Jln. Palmerah Selatan No. 30A Jakarta Pusat, 10270, Karindra Building lantai 1 Suite 5A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close